Akar Pemikiran Kaum Teroris Khawarij adalah Kedangkalan Mereka dalam Memahami Islam

Bagikan :

Tatkala muncul segelintir orang, yang berani keluar dari pemahaman Islam yang benar dan sempurna, yang berani pula keluar dari manhaj dan pemahaman para shahabat di dalam memahami, meyakini, dan mengamalkan agama ini, serta mengabaikan prinsip-prinsip amar ma’ruf nahi munkar, maka mereka pun menjadi sesat dan menyesatkan. Akhirnya, tindakan dan sikap mereka pun menimbulkan kekacauan di tengah-tengah umat.

Teroris Khawarij di Masa Utsman bin Affan

Di masa para shahabat masih hidup, muncul segelintir orang yang bersemangat dan emosi yang tinggi, mengklaim dan menuduh bahwa Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan telah melakukan kemungkaran dan penyimpangan.

Kemudian dengan semangat yang berkobar, mereka melakukan aksi inkar munkar tanpa dilandasi ilmu dan pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, serta tidak mau meruju’ kepada para shahabat. Aksi tersebut ternyata menjadi aksi anarkhis dan teror yang berujung pada pembunuhan Amirul Mu’minin ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu!

Teroris Khawarij di Masa Ali bin Abi Thalib

Kemudian kelompok khawarij ini kembali muncul pada masa Amirul Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka dengan ekstrimitas dan semangat tinggi tanpa ilmu berani ‘tampil beda’ dengan para shahabat radhiyallahu ‘anhum dalam berakidah dan bermanhaj.

Dengan kejahilan dan kebodohan, mereka memiliki pemahaman dan penafsiran yang nyeleneh terhadap Al Qur’an, yang pemahaman dan penafsiran itu sama sekali tidak dikenal oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Di antaranya, mereka telah sesat di dalam memahami dan menafsirkan ayat:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka adalah kafir.” [Al Ma-idah: 44]

Mereka memahami dan menafsirkan ayat ini dengan kejahilan dan pandangan yang sempit. Akibatnya, menurut mereka semua orang yang berhukum dengan selain hukum Allah adalah kafir dan keluar dari Islam. Padahal tidak demikian tafsir dan pemahaman yang dikenal oleh para shahabat terhadap ayat tersebut.

Demikian juga di dalam menilai dan menyikapi realita (waqi’) yang terjadi, mereka berani ‘tampil beda’ dengan para shahabat. Mereka yang notabene adalah anak-anak muda bau kencur dan jahil, sangat serampangan dalam bertindak dan menyikapi suatu peristiwa yang terjadi. Sudah menjadi kebiasaan mereka bahwa mereka sama sekali tidak mau meruju’, -dan bahkan menentang-, para ulama shahabat.

Dengan serampangan dan didasari atas emosi, mereka menilai dan menyikapi peristiwa tahkim yang terjadi antara ‘Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan dengan penilaian dan penyikapan yang melenceng jauh dari prinsip Islam. Dengan tegas kaum teroris khawarij memutuskan bahwa ‘Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyyyah, dan semua pihak yang terlibat, serta siapa saja yang tidak mengingkari tahkim tersebut adalah kafir, keluar dari Islam. Karena kafir, maka halal darah dan harta mereka. Karena Amirul Mu’minin telah kafir, maka harus dilakukan penggulingan kekuasaan dengan mengangkat senjata. Itulah penilaian dan sikap yang jauh dari bimbingan Islam.

Akibatnya muncullah berbagai tindakan anarkhis, pembunuhan, perampasan harta, pertumpahan darah, harga diri diinjak-injak, dan kekacauan terhadap sesama kaum muslimin sendiri. Sekian banyak darah tertumpah, jiwa melayang, harta yang hilang, …., dan kaum muslimin pun ketakutan.

Kejahilan dan Emosional Melahirkan Akidah Teroris Khawarij Yang Menyimpang

Demikianlah, dari penafsiran dan pemahaman yang dilandasi kejahilan dan emosional, melahirkan akidah takfir terhadap kaum muslimin, hingga berujung pada terorisme. Inilah fitnah khawarij yang terjadi sejak zaman para shahabat masih hidup. Dan sejak awal pula, Amirul Mu’minin dengan didukung oleh segenap para shahabat ketika itu telah menumpas dan memerangi aliran sesat ini.

Namun akidah dan pemikiran khawarij tidak terputus dan terhenti dengan meninggalnya tokoh-tokoh mereka. Pemikiran dan aqidah sesat ini akan terus menjalar menjadi bahaya laten bagi umat Islam, yang sewaktu-waktu siap muncul dan memakan korban!

Sumber: MEREKA ADALAH TERORIS, karya Luqman bin Muhammad Ba’abduh, cet. ke-2, hal. 59-61, dengan beberapa perubahan dan penyesuaian.

 1,049 kali dibaca,  1 kali dibaca hari ini

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *