Antara Kemuliaan Jihad Fi Sabilillah dan Kehinaan Aksi Terorisme

Bagikan :

Keutamaan Jihad Fi Sabilillah

Di antara amalan yang tertinggi di dalam Dinul Islam adalah Al-Jihad. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam sabdanya,

رَأْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمُ وَ عَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ وَ ذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ

 “Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya adalah Al-Jihad.” [HR. Ahmad, At Tirmidzi, Ibnu Majah] [1])

Manusia terbaik dari kalangan muslimin adalah yang pernah terjun berjihad dengan harta dan jiwanya, dalam rangka membela agama Allah ‘Azza Wajalla. Hal ini juga sebagaimana telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika ditanyakan kepada beliau tentang siapa manusia terbaik, beliau menjawab sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu,

 أَتَى رَجُلٌ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ : أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : (( مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فيِ سَبِيْلِ اللهِ بِمَالِهِ وَ نَفْسِهِ))، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : (( مُؤْمِنٌ فيِ شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَعْبُدُ اللهَ رَبَّهُ وَ يَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ ))

Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian bertanya: “Siapakah manusia yang terbaik?”

 Rasulullah menjawab: “Seorang mu’min yang berjihad dengan jiwa dan hartanya di jalan (agama) Allah.”

Lelaki tersebut kemudian bertanya lagi: “Kemudian siapa?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Seorang mu’min (yang tinggal) di sebuah lembah untuk beribadah kepada Allah dan menghindarkan manusia dari kejelekannya.” [Muttafaqun ‘alaihi] [2]

Allah Subhanahu Wata’ala juga menyebutkan di dalam Al-Qur’an tentang keutamaan-keutamaan Al-Jihad di banyak ayat-Nya, di antaranya:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (111)

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan jannah untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu merupakan) janji yang benar dari Allah (yang telah disebutkan) di dalam Taurat, Injil, dan Al Qur’an. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” [At Taubah : 111]

 Allah ‘Azza Wajalla juga berfirman,

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11) يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (12) وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (13)

 “Wahai orang-orang yang beriman, maukah kalian Aku tunjukkan pada suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu di dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah kesuksesan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.[Ash Shaff : 10-13]

 Atas dasar itu, tidak ada seorang muslim pun yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang akan mengingkari disyariatkannya jihad dalam rangka membela agama Allah.

Kemuliaan Jihad Dikotori Oleh Aksi Terorisme

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas berbagai macam jihad dan pertempuran yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum dalam memerangi orang-orang kafir. Kemudian dilanjutkan oleh para tabi’in dan yang berikutnya dari kalangan para ‘ulama muhadditsin (ahlul hadits).

Sebagamana pula sejarah telah menuliskan tentang tsughur (perbatasan-perbatasan negeri muslim) yang dipenuhi oleh para ‘ulama ahlul hadits, yang menghiasi berbagai macam aktivitas di perbatasan tersebut dengan majelis-majelis ilmu.

 Namun yang sangat disayangkan dan disesalkan, ketika nama harum jihad tersebut telah dinodai oleh tindakan-tindakan bodoh dan tidak bertanggung jawab yang dilakukan oleh para teroris (khawarij), sehingga tergambar pada banyak pihak bahwa jihad itu identik dengan tindakan-tindkan teror. Karena memang para teroris itu telah melancarkan sekian banyak aksi-aksi terornya berupa berbagai aksi peledakan, penculikan, bom bunuh diri, …dst dengan mengatasnamakan jihad fi sabilillah, mereka klaim itu semua sebagai jihad. Bahkan tidak jarang usaha pembunuhan, penyerangan terhadap kaum muslimin dan pemerintah-pemerintah muslimin –-yang berujung pada tertumpahnya darah umat Islam sendiri— mereka sebut dan mereka namakan hal itu sebagai jihad.

Akibatnya, pengertian dan definisi AlJihad yang mulia itu menjadi kabur dan tidak jelas di mata umat ini. Yang lebih parah lagi, justru hal itu semua menimbulkan penilaian dan persepsi yang negatif terhadap jihad dan Islam itu sendiri. Sangat disayangkan dan disesalkan sekali, wajah Islam harus tercoreng oleh perbuatan jahil dan tak bertanggung jawab yang dilakukan oleh umat Islam itu sendiri. Sangat tragis memang, tapi itulah yang kini terjadi.

Haramnya Menumpahkan Darah Kaum Muslimin

Dengan mudahnya para teroris dan khawarij itu menghalalkan dan menumpahkan darah kaum muslimin, padahal Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan perbuatan tersebut. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا (93)

 “Barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya adalah jahannam, dia kekal di dalamnya, Allah marah terhadapnya, dan melaknatnya. Dan Allah sediakan baginya adzab yang besar.” [An Nisa’ : 93]

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkhutbah di hadapan ribuan para shahabatnya, serta memberikan wasiat-wasiat dan nasehat-nasehat penting kepada mereka, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu,

خَطَبَنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ النَّحْرِ قَالَ : أَ تَدْرُوْنَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قُلْنَا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ- فَسَكَتَ حَتىَّ ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيْهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ- فَقَالَ : أَلَيْسَ يَوْمَ النَّحْرِ؟ قُلْنَا : بَلَى، قال : أَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟ قُلْنَا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ- فَسَكَتَ حَتىَّ ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيْهِ بَِغَيْرِ اسمِهِ- فقال : أَلَيْسَ ذو الحِجَّة؟ قُلْنَا : بَلَى. قَالَ : أَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟ قُلْنَا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ- فَسَكَتَ حَتىَّ ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيْهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ- أَلَيْسَتْ بِالْبَلْدَةِ الحَرَامِ؟ قُلْنَا : بَلَى. قال : فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَ أَمْوَالَكُمْ وَ أَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فيِ شَهْرِكُمْ هَذَا، فيِ بَلَدِكُمْ هَذَا إِلىَ يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ. أَلاَ هل بَلَّغْتُ؟ قالوا : نَعَمْ، قال : اَللَّهُمَّ اشْهَدْ، فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ، فَلاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Bahwa Rasulullah berkhutbah di hadapan kami, beliau berkata : “Tahukah kalian hari apakah ini?”

Kami menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.

Maka beliau diam, sampai-sampai kami menyangka bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam akan memberinya nama dengan nama lain.

Rasulullah kemudian berkata : “Bukankah ini hari adalah Hari An Nahr? (hari ke-10 Dzulhijjah, pent)”

Kami katakan : “Benar.”

 Rasulullah e bertanya lagi : “Bulan apakah ini?”

Kami menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.

Maka beliau diam, sampai-sampai kami menyangka bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam akan memberinya nama dengan nama lain.

Rasulullah kemudian berkata : “Bukankah ini Bulan Dzulhijjah.

Kami menjawab : “Benar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi : “Negeri apakah ini?”

Kami menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.

Maka beliau diam, sampai-sampai kami menyangka bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam akan memberinya nama dengan nama lain.

Rasulullah kemudian berkata : “Bukankah ini Negeri Al Haram?

Kami menjawab : “Benar.

Kemudian Rasulullah menyampaikan sabdanya : “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan harga diri kalian adalah haram atas kalian sebagaimana haramnya hari ini, di bulan ini, dan di negeri ini. Bukankah aku sudah menyampaikan?

 Para shahabat menjawab : “Benar.

Rasulullah berkata : “Ya Allah saksikanlah! Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Karena bisa jadi seorang yang disampaikan berita kepadanya lebih faham daripada yang mendengar (berita tersebut secara langsung). Jangan kalian kembali menjadi kafir sepeninggalku, yaitu dengan kalian saling membunuh satu sama lain.” [Muttafaqun ‘alaihi] [3])

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا الْتَقَى المُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَ المَقْتُوْلُ فيِ النَّارِ. فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ هَذا الْقَاتِلُُ، فَمَا بَالُُ المَقْتُوْلِ؟ قال : إِنَّهُ كَانَ حَرِيْصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

 Jika dua orang muslim saling berhadapan dengan membawa pedangnya, maka yang membunuh dan yang dibunuh sama-sama di neraka.

 Aku (Abu Bakrah) berkata: “Wahai Rasulullah, yang demikian (masuk neraka) adalah yang membunuh. Tapi kenapa halnya yang dibunuh (juga masuk neraka)?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Karena dia (yang dibunuh) juga telah bertekad untuk membunuh lawannya.” [Muttafaqun ‘alaihi] [4])

 Tindakan-tindakan teror brutal yang dilakukan oleh para teroris itu lebih didominasi dan diwarnai oleh emosi buta dalam menilai dan menyikapi perkara-perkara yang mereka anggap sebagai kemungkaran. Tindakan mereka sama sekali tidak terbimbing dengan ilmu syar’i. Pada akhirnya berujung pada tindakan takfir (pengkafiran) terhadap sesama muslim, terkhusus juga pemerintah-pemerintah muslimin. Akidah sesat ini mereka warisi dan mereka jiplak dengan persis dari para senior mereka dan nenek moyang mereka yaitu para khawarij generasi awal.

 Mungkin di antara mereka akan menampik serta mengelak dengan mengatakan, “Kami tidak memerangi kaum muslimin, tapi sasaran dan target operasi kami adalah orang-orang kafir.” Maka kita nyatakan:

Pertama, bahwa tidak semua orang kafir itu harus diperangi. Ada beberapa kriteria dan batasan yang harus diperhatikan dalam hal ini.

Kedua, pelaksanaan jihad itu harus dengan memperhatikan kondisi kaum muslimin. Bahkan para ‘ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menegaskan bahwa memerangi orang kafir di saat kondisi kaum muslimin lemah tidak termasuk jihad fi sabilillah.

[1]  HR. Ahmad V/231, 237; At Tirmidzi 2616; Ibnu Majah 4044, dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Al Irwa’ no. 413.

[2]  HR. Al-Bukhari 2786, 6494; Muslim no. 1888.

[3]  HR. Al Bukhari 67, 105, 1741, 4406, 5550; Muslim 1679.

[4]  HR. Al Bukhari 31, 6875; Muslim 2888.

 

 94 kali dibaca,  1 kali dibaca hari ini

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *