Berhukum dengan Selain Hukum Allah, Kafirkah??

Bagikan :

Ayat yang sering dijadikan dalil oleh takfiriyyun (para penganut pemahaman takfir) dalam mengkafirkan kaum muslimin, khususnya pemerintah, adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala,

و من لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون

“Barangsiapa yang tidak berhukum berdasarkan apa yang Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” [Al-Maidah: 44]

Ayat inilah, dan juga ayat-ayat yang semakna dengannya, yang selalu didengung-dengungkan oleh para teroris, mulai generasi awal kemunculan mereka hingga sekarang. Orang-orang khawarij (teroris) menafsiri ayat ini untuk mengkafirkan orang yang tidak berhukum dengan syariat yang Allah turunkan, walaupun orang tersebut tidak mengingkarinya (yakni walaupun dalam hati orang itu masih meyakini akan kewajiban berhukum dengan hukum Allah).”

Tafsir Ayat: “Barangsiapa yang tidak berhukum berdasarkan apa yang Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”

Ayat ini tidak seperti yang dipahami oleh para teroris khawarij. Yang dimaksud dalam ayat ini adalah kufur kecil, yaitu amal kekufuran yang tidak mengeluarkan pelakunya dari keislaman. Yang menafsirkan demikian adalah imamnya para ahli tafsir yaitu ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang telah dido’akan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar Allah Subhanahu Wata’ala memberikan pemahaman dan pengajaran tentang tafsir Al-Qur’an kepadanya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah di dalam Tafsirnya (X/355/12053) dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau berkata tentang ayat:

و من لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون

“Barangsiapa yang tidak berhukum berdasarkan apa yang Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” [Al Ma-idah: 44]

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

هِيَ بِهِ كُفْرٌ وَ لَيْسَ كُفْرٌ بِاللهِ وَ مَلاَئِكَتِهِ وَ كُتُبِهِ وَ رُسُلِهِ

“Dengan sebab perbuatan itu adalah suatu kekufuran. Namun bukanlah dalam bentuk kekufuran kepada Allah, Para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Para Rasul-Nya.”

Dalam riwayat lain, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

إِنَّهُ لَيْسَ بِالْكُفْرِ الَّذِيْ يَذْهَبُوْنَ إِلَيِهِ، إِنَّهُ لَيْسَ كُفْرًا يَنْقُلُ عَنِ المِلَّةِ كُفْرٌ دُوْنَ كُفْرٍ

“Sesungguhnya perbuatan tersebut (berhukum pada selain hukum Allah) bukanlah tergolong suatu kekufuran seperti yang mereka fahami/yakini. Sesungguhnya hal itu bukan merupakan suatu kekufuran yang (mengeluarkan). Tapi itu adalah kekufuran (kecil) yang tingkatannya di bawah kekufuran (akbar).”1

Sebenarnya penafsiran model itu sudah ada sejak zaman Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma hidup pada masa itu, dengan munculnya sekelompok orang yang memahami ayat tersebut dengan pemahaman yang dangkal dan sempit, yang kemudian memaksa sang “Turjumanul Qur’an” ini (Ibnu ‘Abbas) untuk membantah dan menjawab dengan jawaban seperti di atas. Maka dengan jawaban itu pula terbantahlah pemahaman dangkal, sembrono, dan ngawur dari para teroris tersebut terhadap ayat 44 surat Al Ma-idah di atas.

Perlu diketahui pula bahwa ayat tersebut Allah turunkan kepada Rasul-Nya berkenaan dengan dua kelompok dari kalangan Yahudi yang saling berselisih, yang berusaha untuk mempermainkan serta menolak hukum Rasulullah dan keputusan-keputusannya tentang apa yang mereka perselisihkan. Maka dengan tegas Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ أَنْزَلَ ) وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الكَافِرُوْنَ ( و ) فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ (و )فَأُوْلَئِكَ هُمُ الفَاسِقُوْنَ ( قال ابن عباس : أَنْزَلَهَا اللهُ فيِ الطَّائِفَتَينِ مِنَ الْيَهُوْد….. ثم قال : فِيْهِمَا وَ اللهِ نَزَلَتْ، وَ إِيَّاهُمَا عَنىَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ

“Sesungguhnya Allah menurunkan ayat (dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka adalah orang-orang kafir) dan (maka mereka adalah orang-orang zhalim) dan (maka mereka adalah orang-orang fasiq). Berkata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Allah menurunkan ayat-ayat tersebut untuk/tentang 2 kelompok Yahudi (yang saling)….demi Allah tentang dua kelompok itulah ayat-ayat tersebut turun. Dan kedua kelompok itulah yang Allah maksud.”2

Kalau kita telah tahu bahwa ayat-ayat tersebut Allah turunkan untuk kedua kelompok dari kalangan Yahudi, maka tidak boleh untuk diaplikasikan kepada penguasa-penguasa muslimin dan para hakimnya yang masih berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan dari bentuk perundang-undangan di muka bumi ini.

Tidak boleh mengkafirkan mereka atau mengeluarkan mereka dari lingkaran Islam dengan sebab itu, karena mereka masih beriman kepada Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka pada hakekatnya telah berbuat kejahatan dengan sebab berhukumnya mereka dengan selain hukum Allah. Hal ini disebabkan karena dua hal:

  1. Kedua kelompok Yahudi tersebut adalah orang-orang kafir secara hukum asalnya. Sehingga memang mereka di luar bingkai keislaman. Berbeda dengan kaum mukminin atau penguasa muslimin yang secara hukum asal mereka adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan masih berada dalam bingkai keislaman. Walaupun pada hakekatnya perbuatan mereka (berhukum dengan selain hukum Allah) adalah dosa besar yang menyerupai kaum kafir. Atas dasar itu Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan dengan tafsiran tersebut.
  2. Sikap kedua kelompok Yahudi terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai bentuk pengingkaran dan penolakan serta keengganan untuk menerima hukum-hukum beliau. Berbeda dengan sikap kebanyakan kaum mukminin dan penguasa-penguasa muslimin pada umumnya.

Tafsir Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat tersebut diikuti oleh murid-muridnya, dan begitu seterusnya generasi demi generasi para ‘ulama tafsir Ahlus Sunnah selalu mengikuti beliau seperti Ibnu Jarir Ath-Thabari, Al-Qurthubi, Ibnu Katsir di dalam kitab-kitab tafsir mereka. Ibnu Taimiyyah, dalam kitab-kitabnya, antara lain Minhajus Sunnah An-Nabawiyah, Ibnul Qayyim dalam kitab-kitabnya, antara lain Madarijus Salikin.

Demikian juga para ‘ulama yang lainnya, di antaranya Al-Imam Al-Baidhawi dalam Tafsir-nya jilid I/208, Al-Imam Ath-Thahawi, lihat Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah (hal. 323-324), Ibnul Jauzi di dalam Zadul Masir. Demikian juga para ‘ulama ahlus sunnah di zaman ini, antara lain Asy-Syinqithi, As-Sa’di, Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Al-Albani, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan lainnya.”

Rincian Keadaan Orang Yang Berhukum Dengan Selain Hukum Allah

Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “ Yang benar adalah bahwasanya berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu Wata’ala mencakup dua jenis kekafiran, kecil dan besar, sesuai dengan keadaan pelakunya. Jika ia yakin akan wajibnya berhukum dengan hukum Allah (dalam permasalahan tersebut) namun ia condong kepada selain hukum Allah dengan suatu keyakinan bahwa karenanya ia berhak mendapatkan dosa dari Allah, maka kafirnya adalah kafir kecil (yang tidak mengeluarkannya dari Islam, pent), dan jika ia berkeyakinan bahwasanya berhukum dengan hukum Allah itu tidak wajib –dalam keadaan ia mengetahui bahwa itu adalah hukum Allah– dan ia merasa bebas untuk memilih (hukum apa saja), maka kafirnya adalah kafir besar (yang dapat mengeluarkannya dari Islam-pen). Dan jika ia sebagai seorang yang buta tentang hukum Allah lalu ia salah dalam memutuskannya, maka ia dihukumi sebagai seorang yang bersalah (tidak terjatuh ke dalam salah satu dari jenis kekafiran, pent).” (Madarijus Salikin, 1/336-337)

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah berkata, “Barang siapa berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak keluar dari empat keadaan:

  1. Seseorang yang mengatakan : “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syari’at Islam”, maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.
  2. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama/sederajat dengan syari’at Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syari’at Islam.”, maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.
  3. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini dan berhukum dengan syari’at Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah.”, maka ia kafir dengan kekafiran yang besar.
  4. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini.” namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan, dia juga mengatakan bahwasanya berhukum dengan syari’at Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya, tetapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini), atau dia kerjakan karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar. (Al-Hukmu Bighairi ma Anzalallahu wa Ushulut Takfir, hal. 71-72)

Sumber: Buku MEREKA ADALAH TERORIS, karya Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, cet, ke-1, hal. 505-509, dengan beberapa perubahan dan penyesuaian


1 Al-Hakim (II/313). Sanadnya dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2552.

2 Atsar ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2552

 675 kali dibaca,  1 kali dibaca hari ini

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *