Bimbingan Ringkas Manasik Umroh – Pertemuan Ke 4

Pembahasan Buku :

Bimbingan Ringkas Manasik Umroh dalam Bingkai Sunnah Nabi
Karya al-Ustadz Luqman Ba’abduh hafizhahullah
Bersama : al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah
di Masjid Ma’had as-Salafy Jember,  Jumadal Ula 1437 H –Februari 2016 M

Audio Pertemuan ke 4


Transkrip Pertemuan ke 4: Amalan-amalan wajib Saat Ibadah Umroh

الحمدلله حمدا طيبا كثيرا مباركا فيه كما يحب ربنا ويرضى اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى اله وصحبه وسلم

Kita akan melanjutkan kajian tentang manasik umroh, dimana pada kajian terakhir kita telah membahas rukun-rukun umroh.

Rukun Umroh yang pertama yaitu Al Ihrom, yang kedua Ath Thawaf, yang ketiga As Sa’i.

Tiga rukun ini sepakat para ulama bahwa dia adalah rukun. Namun yang keempat yaitu at tahallul, berbeda pendapat ulama sebagian menggolongkannya sebagai rukun, sebagian yang lainnya ulama menilainya sebagai amalan wajib.

Al Ihram sudah sempat disinggung bahwa yang dimaksud dengannya adalah peletakkan niat umroh atau haji dalam hati. Peletakan niat untuk memulai manasik umroh di dalam hati saat tiba di miqot. Jadi sekali lagi al ihram adalah peletakan niat untuk memulai manasik umroh atau haji saat tiba di miqot yang kemudian dilanjutkan dengan ucapan Labbaik Umratan, atau Labbaik Allahumma Umratan, boleh salah satu dari dua ini. Jadi kalimat yang penting diingatkan dalam permasalahan ini:

Pertama bahwa pelafadzan atau pengucapan lafadz di atas labbaik umratan bukan sebagai bentuk pengucapan atau pelafadzan niat. Niat tetap letaknya di dalam hati kemudian disertai dengan ucapan Labbaik Umratan, ini yang pertama.

Jadi kurang tepat untuk dikatakan bahwa Labbaik Allahumma Umratan adalah niat haji yang dilafadzkan. Sekali lagi niat tetap letaknya di dalam hati, sementara ucapan Labbaik Allahumma Umratan ulama menyatakan itu hukumnya mustahab. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Al Alamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu juga Imam al-Albani sekaligus Al Imam Muhammad ibn Shalih utsaimin rahimahumullah.

Al Ihram bukan maknanya memakai kain ihram

Jadi kalau kita mendapatkan kalimat al ihram sebagai rukun haji atau umroh di kitab-kitab tentang ahkamil haji dan umroh, bukan maksudnya memakai atau mengenakan kain ihram, tetapi adalah peletakan niat untuk memulai manasik haji atau umroh dalam hati, yang kemudian dilanjutkan dengan ucapan Labbaik Allahumma Umratan.

Kemudian rukun yang kedua tawaf di Ka’bah. Nanti akan ada pembahasan tentang tawaf  Insya Allah. Kemudian As Sa’i dari As Safa ke Marwa sebanyak tujuh kali, nanti insya Allah semoga ada pembahasan tentang nya.

Yang keempat yang tadi disebutkan ada dua pendapat yaitu At Tahallul. Apakah tahallul itu rukun ataukah amal wajib.

Bedanya antara rukun dengan amal wajib : rukun kalau ditinggalkan dengan sengaja maka tidak sah amalannya, tapi kalau amalan wajib tetap sah amalannya. Namun apabila dia sengaja melakukannya berdosa dan terkenai kaffarah.

Yang berikutnya setelah kita mengetahui makna Al Ihram sebagai rukun pertama umroh, adalah amalan-amalan wajib saat ibadah umroh. Amalan-amalan wajib tersebut sebagaimana tadi telah dijelaskan apabila ditinggalkan secara sengaja bukan karena jahil atau karena lupa, nanti akan ada pembahasan tentang ini apabila dilakukan dengan sengaja dan apabila dilakukan karena lupa atau jahil. Apabila ditinggalkan dengan sengaja maka dia berdosa dan harus bertaubat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan terkenai kaffarah. Kaffarahnya sebagaimana Allah sebutkan di dalam surat al-baqarah

وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ

“dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. “ ( Al-Baqarah : 196 )

Walaupun konteks ayat ini terkait dengan larangan mencukur atau menggundul rambut sebelum sampainya Al Hadyu sampai pada waktu dan tempatnya, namun kata Allah “Barangsiapa yang terpaksa melakukan mencukur rambutnya karena dia sakit atau karena ada gangguan pada kepalanya terpaksa dia harus mencukurnya, maka ditebus kelakuan ini tadi atau larangan tersebut yang dia lakukan dengan terpaksa ditebus dengan tiga hal. Salah satu dari tiga hal. Shiyam maksudnya puasa tiga hari nanti akan ada hukum tersendiri tentang kaffarah lebih detail, yang kedua shadaqah yakni memberi makan enam orang miskin, yang ke tiga nusuk,  yaitu sembelihan seekor kambing dengan persyaratannya sama seperti persyaratan al udhiyyah, hewan kurban. Barakallahu fiikum.

Apa itu kewajiban kewajiban tersebut ? yang pertama adalah memakai kain ihram setelah setelah dia meletakkan niat umroh dalam hatinya saat tiba di miqot. Saat tiba di miqot dia tidak dibenarkan lagi memakai selain kain ihram apabila telah meletakkan niatnya.

Tiba di miqot tapi belum meletakkan niatnya masih ia ingin makan atau minum atau istirahat sejenak di miqot maka dia masih boleh pakai tsaub (pakaian biasa) dan yang semisalnya, pakai jubah atau sarung. Setibanya di Miqot mungkin orang mau istirahat di malam hari, saya besok saja mandinya besok sekaligus niatn Ihramnya besok. Maka di malam hari itu dia masih boleh memakai baju biasa yang biasa dia kenakan, boleh beberapa hal yang telah dilarang atau yang dilarang untuk dilakukan saat dia telah meletakkan nita Ihram.

Jadi kewajiban memakai kain ihram adalah setelah mengucapkan niat dalam pengertian kalau sebelumnya masih boleh, selesai mandi pakai baju biasa kain Ihramnya yang masih ada di kendaraan terpaksa dia ngambil lagi dulu, diambil dulu kain Ihramnya baru setelah itu setelah mandi dia pakai, setelah itu dia meletakkan niat dan dilanjutkan dengan ucapan Labbaik Umratan. Saat itu sudah nggak boleh lagi dia memakai selain kain Ihram.

Sehingga mungkin bagi seorang jamaah umroh memakai kain ihramnya ketika dia masih di Hotel, di Madinah menuju dzulhulaifah dia pakai kain ihram. Tidak boleh dikatakan “Tidak, ini kain Ihram nanti dipakainya di Miqot”. Boleh dia pakai. Setibanya di Miqot masih mau mandi kemudian dia ganti baju yang biasa dia pakai, boleh masih.

Kapan dia tidak boleh melepaskan kain Ihramnya dan menggantinya dengan baju lain? Ketika telah meletakkan niat dan kemudian dilanjutkan dengan ucapan Labbaik Allahumma Umratan.

Ditanya Asy Syaikh Muhammad ibn Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullau, bagaimana dengan seorang yang telah tiba di Miqot kemudian telah meletakkan nitanya kemudian dia tidak mendapatkan kain ihram kecuali baju yang dia pakai, maka Syaikh rahimahullah mengatakan baju itu dia lepas kemudian dia ikatkan sebagai pengganti Ihram. Baju tersebut dilepas Imamah nya boleh untuk menutupin juga.

Kalau tidak ada lagi atau itu tidak menutupi dengan baik dan benar, masih atau ada kemungkinan terlihat auratnya maka dia terpaksa memakai baju tersebut dan membayar Kaffarah. Itu untuk kaum pria.

Sementara ihram, atau kain ihram untuk wanita perlu di ketahui bersama bahwa syariat tidak menentukan kain ihram khusus atau tertentu untuk kaum wanita. Yaitu yang dipakai keseharian itu adalah bisa dijadikan sebagai baju Ihram. Jubah yang dipakainya, jilbab yang dipakainya, tanpa harus membuat khusus kain ihram. Sebagaimana ini sering terjadi terkhusus di negeri kita. ihramnya kau wanita adalah dua:  dengan melepas cadar dan kaos tangan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

“Seorang wanita Muhrimah tidak boleh memakai An Niqob ataupun Al Burqu’”. Sebagaimana nanti akan ada pembahasan khusus tentang cara berihramnya wanita.

Kedua dia harus melepas kaus tangannya, kaos kaki tetap dipakai, dua hal saja, sehingga ulama mengatakan di kalangan Fuqoha:

“Ihramnya kaum wanita itu di wajahnya dan di kedua telapak tanganya.”

Hadits ini dijadikan dalil oleh para ulama tentang wajibnya An Niqab atau Al Burqu’ atau Cadar bagi kaum wanita. Karena Ihramnya kaum wanita di Saat Haji atau umroh dengan melepaskan Niqab, Burqu’ dan sarung tangannya.

Di sini ada isyarat bahwa kau wanita pada kesehariannya Dia memakai cadar dan memakai sarung tangan. Itu amalan wajib pertama ketika tiba di Miqat.

Menit 16:34

Yang kedua, jenis-jenis amalan wajib adalah At Tahalul atas pendapat yang mengatakan bahwa tahalul adalah wajib bukan rukun.

At Tahalul dilakukan dengan cara mencukur rata atau menggundul bersih rambut kepala bagi kaum pria. Mencukur rata apa maksudnya? Yakni seluruh rambut kepala itu terpotong tapi tidak gundul, ini dinamakan At Taqsir. Pelakunya dinamakan Muqassir. Yang kedua adalah Al Halq, menggundul bersih. Ini namanya At Tahallul untuk kaum pria.

Sementara kaum wanita mencukur rata, maksudnya semua rambut kepala harus terkenai potongan itu tadi. Hanya saja ukuran yang dipotong satu ruas jari. Dikumpulkan rambutnya semua, ujungnya dipotong satu ruas jari. Barakallahu fiikum.

Untuk kaum pria ada dua kemungkinan, At Taqsir atau Al Halq.  Mencukur pendek tapi merata seluruh rambut terkenai atau menggundul, Al Halq. Mana yang lebih baik dari dua amalan ini ? At Taqsir atau Al Halq, mencukur atau menggundul bersih ?

Jawabannya adalah yang kedua, menggundul bersih rambut kepala, dalilnya ada beberapa hadits Rasul, ucapan beliau dan fiil beliau kemudian ayat Al Qur’an.

 Menit 18:55

Hadits pertama adalah Hadits Abdullah ibn Umar Bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, muttafaqun ‘alaihi, dalam do’anya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :

قال اللهم ارحم المحلقين قالوا والمقصرين يا رسول الله قال اللهم ارحم المحلقين قالوا والمقصرين يا رسول الله قال والمقصرين

Ya Allah, rahmati orang-orang yang melakukan Al Halq (saat tahalul, menggundul bersih rambut kepalanya), para sahabat berkata : Ya Rasulullah dan (doa’akan juga) Al Muqassirin, Beliau berdo’a : Ya Allah, rahmati orang-orang yang melakukan Al Halq, para sahabat berkata lagi : Ya Rasulullah dan (doa’akan juga) Al Muqassirin, beliuau berdo’a : dan Al Muqassirin. ( disebutkan dalam beberapa riwayat sampai tiga kali yang keempatnya baru (Al Muqassirin), dalam beberapa riwayat dua kali yang ketiganya baru mengatakan Al Muqassirin.

Jadi do’a rahmat yang dido’akan oleh Nabi untuk orang yang melakukan tahallul lebih banyak untuk Al Muhalliqin (yakni) orang-orang yang melakukan al halq atau menggundul bersih rambutnya.

Yang kedua dalilnya adalah fiil Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, perbuatan Rasul, disebutkan dalam hadis Abdillah ibn Umar juga, muttafaqun ‘alaihi,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggundul rambut kepalanya ketika tahallul pada Haji Wada / Haji penutupan / Haji perpisahan.”

Disebutkan : menggundul rambutnya.

Kemudian disebutkan pula dalam hadits Abdullah bin Umar yang lainnya, diriwayatkan oleh Al  Imam Al Bukhari bahwa Rasulullah juga melakukan Al Halq.

Juga datang dari sahabat Anas bin Malik diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari:

“Bahwa Nabi ketika Haji Wada melempar jumrah pada tanggal 10 Dzulhijjah, selesai Wuquf di Arofah menuju ke Muzdalifah menginap di Muzdalifah pada malam ke 10 Dzulhijjah. Pada hari kesepuluh di saat umat Islam melakukan Iedul Adha, di sana jamaah haji, yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan adalah pertama melempar Jamratul Aqobah kemudian Rasulullah menyembelih hewan kurbannya atau Hadyu-nya kemudian setelah itu Rasulullah menggunduli rambutnya.”

Bahkan di sana disebutkan tata caranya. Sahabat yang menggundul rambut kepala Rasul memulai dengan bagian kanannya kemudian bagian kirinya.

Menit 23:01

Walhamdulillah para Al Hallaqin. Tukang cukur rambut/ tukang pangkas rambut di Masjidil Haram, disekitarnya itu, mereka sudah dididik, sudah ada tausyiah buat mereka. Sehingga kalau kita ingin menggundul rambut mereka sudah faham, dimulai dari sisi kanan kemudian sisi kirinya.

Di sini menunjukkan bahwa pemerintah Saudi Arabia memiliki Ihtimam, keseriusan untuk terwujudnya kesempurnaan amalan setiap jama’ah haji dan jama’ah umroh. Sampai masalah At Tahallul, para Al Hallaqin yang notabene itu adalah orang-orang asing, orang-orang Bangladesh, India, Pakistan, tapi tetap diberi tausiyah  bahwa caranya seperti ini..seperti ini..seperti ini… Barakallahu fiikum

Itulah dua amalan wajib di saat umroh.

Kemudian pada bab berikutnya ini kita akan memasuki ringkasan urutan manasik umroh. Ringkasannya bagaimana, secara runut.

Yang pertama adalah ketika tiba di Miqot, ringkasan secara runut tertib meliputi yang rukun, yang wajib yang mustahab. Yang rukun ketika di Miqot, yang wajib ketika di  Miqot, yang mustahab ketika di Miqot. Rukun ketika sampai di Masjidil Haram yang wajib dan yang mustahab. Begitu juga As Sa’i sampai Tahallul. Barakallahu fiikum.

Yang pertama adalah amalan-amalan ketika tiba di Miqot, bab ini penting untuk sampai pada kesimpulan: bagaimana sih  runutan amalan umroh itu, terlepas dari pembahasan ini wajib, rukun, mustahab.

  1. Yang pertama adalah amalan-amalan ketika tiba di Miqot, yaitu memotong kuku, menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak dan mencukur rambut kemaluan, ini ketika tiba di Miqot, ini hukumnya mustahab.
  2. Yang kedua adalah mandi ihram ketika tiba di Miqot. Tata caranya sama seperti cara mandi janabah maksudnya seluruh tubuh seperti mandi Jum’at, seluruh tubuh terkenai air. Hukum ini berlaku bagi pria dan wanita Islam, mustahab untuk keduanya baik wanita itu dalam keadaan suci ataupun dalam keadaan haid dan nifas tetap disunnahkan untuk mandi ihram.Dalil yang menunjukkan bahwa tetap disunnahkan bagi kaum wanita untuk mandi ihram walaupun dalam keadaan haid – dia berangkat umroh tiba-tiba di perjalanan haid. Berangkat ke Dzulhulaifah kalau dia dari Madinah dalam keadaan haid – Apakah kemudian dia tidak mandi karena dia dalam keadaan hadats akbar? jawabannya tetap disunnahkan. Namun mandi tersebut mandi ihram ketika di Miqot tidak berfungsi untuk menghilangkan hadats Al Akbar dan saat nanti  dia suci tetap wajib untuk mandi suci dari haid. Dalilnya adalah Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha:“Bahwa Asma binti Umais, istri Abu Bakr Ash Shiqqid ketika tiba Dzulhulaifah, di Miqot, tiba-tiba dia melahirkan, jadi dia berangkat dalam keadaan dia sudah hamil tua. Sampai di Miqot melahirkan, nifas. Ternyata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan kepada Abu Bakr As Shiddiq untuk memerintahkannya mandi kemudian melakukan Al Ihlal.

    Ihlal yaitu niat Umroh terus dilanjutkan dengan pengucapan Labbaik Allahumma umratan atau al-hajj, waktu itu haji, melakukan ihlal yakni melakukan niat haji kemudian dilanjutkan dengan pengucapan Labbaik Allahumma Hajjan wa Umratan, pada waktu itu.Jadi tidak kemudian batal umrohnya, tidak. Tidak kemudian dia mengatakan kalau begitu ana batalkan, tidak, tetap dia lakukan, tetap dia lanjutkan niatan umrohnya tersebut.

    Dalam riwayat hadits Jabir, kalau tadi hadits Aisyah,  dalam riwayat hadis Jabir yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim rahimahullahu ta’ala :
    Asma’ bertanya : كَيْفَ أَصْنَعُ؟ Apa yang aku akan lakukan? (dalam kondisi seperti ini, nifas)
    قَالَ: اغْتَسِلِي وَاسْتَنْفِرِي بِثَوْبٍ وَأَحْرِمِي Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan : “Mandilah Engkau dan gunakan pembalut untuk melindungi keluarnya darah nifas dan lakukan niat Ihram” untuk memasuki manasik Haji pada saat itu.

    Ini amalah kedua ketika tiba di Miqot, yaitu mandi Ihram.Dan alhamdulillah sekarang fasilitas untu itu dimudahkan tidak seperti dahulu,  ini Asma binti Umais nifas dalam kondisi yang benar-benar berat, seorang ibu melahirkan tapi tetap melanjutkan niatan hajinya dalam keadaan Dzulhulaifah adalah Miqot terjauh sampai ke Mekah dari dibandingkan Miqot-miqot yang lainnya, dibandingkan Dzatu Irfin atau Al Juhfah atau Miqot Yalamlam dan yang lainnya, Dzulhulaifah atau sekarang dikenal dengan bi’ir Ali adalah Miqot terjauh. Bersama dengan itu tetap melanjutkan perjalanan bersama rombongan membawa bayinya hingga menuntaskan ibadah hajinya. Itu amalan kedua.

  3. Amalan ketiga setibanya seorang jamaah umroh di Miqot setelah mandi dia menggunakan atau memakai minyak wangi pada badannya, bukan pakai kain ihram, sebelum meletakkan niat Ihram dalam hatinya. Boleh masih memakai minyak wangi, selesai mandi, memotong kuku dan semua, menipiskan kumis, selesai, dia pakai minyak wangi di badan bukan pada kain ihram, masih diizinkan.Kalau kain ihram tidak boleh terkenai yang minyak wangi baik sebelum meletakkan niat ihram apalagi sesudahnya. Sekali lagi diizinkannya seorang Muhrim memakai minyak wangi sebelum meletakkan niat hanya pada badannya, dirambutnya, dipundaknya dan seterusnya, tidak boleh terkenai kain ihramnya. Barakallahu fiikum.Namun apabila setelah meletakkan niat Ihram kemudian juga telah mengucapkan Labbaik Allahumma ‘Umratan, dilarang secara mutlak penggunaan minyak wangi baik pada badan maupun kain Ihramnya. Kita lanjutkan insya Allah pada pertemuan yang akan datang.

 Audio Lengkap :

Bimbingan Ringkas Manasik Umroh dalam Bingkai Sunnah Nabi

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *