Bimbingan Ringkas Manasik Umroh – Pertemuan Ke 6

Pembahasan Buku :

Bimbingan Ringkas Manasik Umroh dalam Bingkai Sunnah Nabi
Karya al-Ustadz Luqman Ba’abduh hafizhahullah
Bersama : al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah
di Masjid Ma’had as-Salafy Jember,  Jumadal Ula 1437 H –Februari 2016 M

Audio Pertemuan ke 6

Transkrip Pertemuan ke 6:  Urutan manasik umroh ketika tiba di Miqot

الحمد لله والصلاه والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه

Dalam kajian sebelumnya kita telah membahas tentang urutan manasik umroh secara ringkas mulai ketika seorang mu’tamir tiba di Miqot dengan melakukan beberapa amalan : memotong kuku, menipiskan kumis dan yang lainnya kemudian melakukan mandi ihram.

Kemudian yang ketiga disunahkan untuk menggunakan atau memakai minyak wangi pada badan, bukan pada kain ihram sebelum mengucapkan لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عمرة.
Namun apabila telah mengucapkannya maka tidak dibenarkan menggunakan minyak wangi baik pada badan maupun pada kain ihramnya.

Kemudian yang keempat mengenakan kain ihram.

Ada pertanyaan dari beberapa Ikhwan, beberapa teman antara lain :

Apakah dibolehkan bagi jamaah haji atau umroh memakai kain ihrom saat berada di atas pesawat?

Naam, jawabannya boleh mulai memakai kain ihram ketika di pesawat tapi masalahnya sulit untuk dilakukan di pesawat. Kalau pertanyaannya boleh ataukah tidak, maka boleh, terkhusus kalau pesawat yang dipakai ada tempat yang memadai semisal mushola, namun tidak semua pesawat yang menyediakan fasilitas tersebut.

Atau kalau memang sulit baginya di pesawat boleh baginya dipakai kain ihrom sejak masih di bandara, di Jakarta misalkan, apabila memang langsung dari Jakarta menuju ke Jeddah kemudian langsung menuju Mekkah untuk melakukan ihram namun sekarang kita terikat dengan jadwal dan rute penerbangan. Na’am.

Sebagian rute penerbangan kalau dia transit di beberapa negara seperti yang sudah disebutkan sebelumnya trasit di Emirat Arab misalkan, atau di Qatar, mungkin dia memakainya di bandara di Qatar atau di Kuwait atau Emirat. Artinya tidak harus di Miqot ketika memakainya. Namun ketika dia pakai dan belum tiba di Miqot kemudian dia mau ganti lagi baju tsaub, gamis atau jubah, boleh.

Misalkan dia berangkat menuju Madinah. Sesampainya di Madinah dia mau langsung ke Mekah, namun jarang sekali terjadi seperti ini, sesampainya di Madinah di tempat dia istirahat boleh dia mengganti lagi dengan baju yang biasa dia kenakan, karena dia belum memulai niat yang mana niat itu dilakukan di Miqot kemudian dilanjutkan dengan Al Ihlal yaitu pengucapan لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عمرة. Na’am.

Menit 04:58

Bagaimana kalau menggunakan kain ihramnya ketika tiba di bandara Saudi, misalkan bandara Malik Abdul Aziz di Jeddah ?

Kalau dia langsung dari tanah air menuju Jeddah maka dia akan melewati Miqot sebagaimana telah dijelaskan yaitu Miqot Yalamlam. Di saat itu dia harus mengenakan kain ihram sudah, melewati miqot harus menggunakan kain ihrom, itu jika penerbangannya langsung dari Jakarta menuju Jeddah.

Dan itu memang penerbangan yang cukup melelahkan karena dia dari Jeddah, mengurus proses imigrasi yang cukup panjang di bandara, kemudian menuju Mekah meletakkan segala bawaannya di hotel, butuh waktu yang cukup panjang, tapi sekedar penting untuk diketahui bahwa yang penerbangan atau rute penerbangannya langsung dari Jakarta menuju Jeddah dia akan melewati miqot Yalamlam. Maka boleh dia memakainya sejak di bandara Soekarno-Hatta di Jakarta agar nanti di pesawat tidak kesulitan.

Namun kalau pesawatnya itu Saudi Airlines, maskapai Saudi, di situ disediakan mushola sehingga dia bisa memakai kain ihram di mushola pesawat. Sementara maskapai-maskapai lainnya, maskapai Emirat, Kuwait, Qatar apalagi yang selain itu tidak menyediakan fasilitas mushola, sehingga dia akan kesulitan, di toilet pesawat tidak memungkinkan memakai kain kain ihram di situ. Sehingga saran untuk nya adalah memakai kain ihram sejak di Jakarta apabila rute penerbangannya dari Jakarta langsung menuju Jeddah. Na’am

Menit: 07:23

Apakah kain ihrom harus berwarna putih?

Mustahab untuk berwarna putih bagi kaum pria, sementara kaum wanita seperti yang sudah dia pakai biasanya. Na’am.

Bagaimana jika mencuci kain ihram dengan pewangi Molto atau yang lainnya yang aromanya tetap membekas ketika sampai di Miqot ?

Tentu seorang yang akan melakukan ihrom, baik umroh maupun haji, hendaknya dia memperkirakan waktu atau masa dicucinya kain ihram dengan tibanya di Miqot. Boleh ketika di tanah air, di rumahnya dia mencuci kain ihrom dengan pewangi. Namun kalau dia memperkirakan bahwa aroma wangi akan tetap melekat pada kain ihram sampai saatnya dia harus mengenakannya maka sebaiknya segera dihilangkan aroma wangi itu dengan misalkan dijemur mungkin dalam sehari dua hari dijemur di akan hilang, Na’am, begitu. Barakallahu fiikum.

Kalau ternyata sampai saat akan dipakai masih tetap wangi maka sebaiknya dia mengganti kain ihrom, mempersiapkan kain ihram baru atau segera dicuci lagi kemudian dikeringkan, dicuci agar aroma wanginya itu hilang.

Bagaimana mandi setelah berihrom ?

Kalau maksud dari pertanyaan ini setelah berihram, di tengah perjalanan menuju Mekah atau Setibanya di Mekah sebelum prosesi umroh dia ingin mandi, boleh jawabannya. Jawabannya adalah boleh, Barakallah fikum.

Apakah boleh dia memakai sabun ketika mandi?

Jawabannya boleh demikian fatwa Al Alamah Abdul Aziz Bin Baz, Syaikh Al ‘Utsaimin dan yang lainnya dari Masyaikh kita. Boleh menggunakan sabun karena sabun pada dasarnya adalah lebih dominan untuk pembersih tubuh bukan untuk sebagai pewangi.

Ketika seseorang memakai sabun tidak dikatakan dia memakai minyak wangi. Na’am. Atas dasar itu ulama berfatwa boleh, namun bagi yang berusaha menghindar, tawarru’an, berusaha menghindar maka yang itu lebih baik, menghindar dari sabun lebih baik.

Namun kalau pertanyaannya boleh ataukah tidak boleh? jawabannya ulama kita berfatwa diantara nama-nama yang tadi disebutkan, bahwa boleh bagi seorang muhrim untuk mandi menggunakan sabun walaupun telah berihram.

Pertanyaan berikutnya : seorang mengenakan minyak wangi pada badannya saat akan berihrom belum memulai niatnya, kemudian minyak wangi tersebut berbekas pada kain ihromnya, berbekas yakni mengenai kain ihram, apakah dia terkenai Kaffarah dengan itu karena dia melakukan sebuah larangan?

Jawabannya tidak. Na’am, jawabannya tidak. Tidak terkenai Kaffarah karena dia tidak dengan sengaja menjadikan kain ihram nya wangi atau harum tapi dia memakai minyak wangi untuk badannya.
Diantara dalil yang menunjukkan hal ini Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam setelah mandi ihram beliau memakai minyak wangi Misk, yang dalam bentuk batangan itu, kemudian diletakkan di kepalanya sehingga nampak kilauan dari Misk yang ada di kepalanya. Disebutkan oleh ulama secara otomatis penggunaan Misk itu akan meleleh dan akan bercampur dengan keringat yang wangi dan harum mengenai kain ihrom yang dikenakan di pundaknya. Na’am.

Jadi atas dasar itu tidak termasuk atau tidak tergolong melakukan pelanggaran apabila dia menggunakan minyak wangi pada badannya kemudian dalam proses perjalanan setelah berihram mengenai kain ihramnya. Na’am

Menit 12:20

Bagaimana atau apa hukumnya menggunakan deodoran?

Kalau sebelum niat dan sebelum mengucapkan Ihlal : Labbaik Allahumma Umratan, boleh. Deodorant fungsinya sama dengan minyak wangi sebagai pewangi, dia sebagai pewangi, maka boleh. Namun setelah berihram tidak dibenarkan memakai deodoran. Setelah berihram tidak dibenarkan menggunakan deodoran. Na’am.

Apakah pelaksanaan umroh harus urut mulai dari ihrom kemudian Thawaf dan Sa’i?

Na’am, harus urut. Ihrom kemudian setibanya di Mekah dimulai dengan Thawaf kemudian Sa’i, tidak boleh dibalik. Tidak boleh Sa’i dulu baru Thawaf, demikian beberapa pertanyaan yang terkumpul, Naam.
Kemudian kita melanjutkan pembahasan tentang urutan manasik umroh ketika tiba di Miqot.

ketika tiba di Miqot setelah mandi dan yang terkait dengannya tidak disunnahkan untuk melakukan shalat khusus terkait Miqot. Tidak ada sunnah khusus, sholat dua rokaat atau lebih terkait dengan Miqot kecuali Dzulhulaifah. Kecuali Dzulhulaifah. Tempat ini bersifat lebih khusus disunnahkan di sana untuk sholat dua rakaat, bukan sebagai salat ihrom, bukan terhitung sebagai shalat ihrom.

Pendapat yang dikuatkan oleh para ulama tidak ada shalat ihram. Mandi ihrom ada, tapi shalat ihrom tidak ada, kecuali dia Dzulhulaifah itupun bukan dalam rangka ihrom, tapi dalam rangka nilai barokah yang ada di Dzulhulaifah yang disana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan oleh Allah untuk melakukan shalat padanya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud rahimahullahu Ta’ala dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dari sahabat Umar ibn Al Khaththab bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

Menit : 15:50

أتاني الليلة آت من ربي

“Datang padaku malam ini seorang utusan dari Rabbku”

وقال

Utusan tersebut mengatakan :

صل في هذا الوادي المبارك وقل عمرة في حجة

Ketika itu nabi Muhammad sedang proses perjalanan menuju Haji. Setibanya di Dzulhulaifah, Dzulhulaifah itu kurang lebih berjarak 18 km dari kota Madinah dan 400 km lebih ke Mekah, setibanya di Dzulhulaifah pada malam itu tiba-tiba datang utusan dari Allah kepada nabi Muhammad dan memerintahkan :

“Shalat lah engkau di lembah yang barokah ini Kemudian baru setelah itu mengucapkan Al Ihlal”, Ihlal haji dan umroh karena waktu itu Haji Rasulullah adalah Qiran..

Menit 17:09

Yang bisa dipetik dari hadits ini adalah perintah untuk sholat di lembah Wadi al-Aqeeq ( وادي العقيق ) namanya yang diberi nama Dzulhulaifah. Kalau di masyarakat awam lebih dikenal dengan sebutan Bi’r Ali. Bi’r itu sumur Ali itu maksudnya adalah nisbah kepada Ali bin Abi Thalib.

Ada sebuah khurofat di kalangan awam : kenapa tempat itu Dzulhulaifah juga disebut dengan Bi’r Ali, karena di situ ada sebuah sumur yang di tempat itulah khalifah Ali Bin Abi Thalib membunuh jin di tempat tersebut, di sumur tersebut, kemudian dikenal dengan sebutan Bi’r Ali. Ini tidak ada sanadnya bahkan banyak dari kalangan ulama bahkan Imam Albani mengatakan ini adalah dusta. Namun sudah terlanjur demikian disebutkan Bi’r Ali, Bi’r Ali maksudnya Dzulhulaifah. Na’am.Kalau nama yang datang dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Dzulhulaifah.

Sekali lagi shalat dua rakaat di tempat tersebut atau melakukan salat baik dua rakaat atau salat yang lainnya di Dzulhulaifah dikarenakan tempat tersebut adalah tempat yang diberkahi di mana Rasulullah diperintahkan untuk melakukannya di sana. Bukan sebagai shalat Ihrom.

Kalau ditanya apakah ada sunnah shalat Ihrom? jawabannya: “tidak ada”.

Sehingga jamaah haji atau umroh yang melewati Miqot selain Dzulhulaifah, melewati Yalamlam atau Qarnul Manazil atau Al Juhfah atau Dzatu Irqin, semua mawaqit ini tidak disunnahkan shalat di sana baik dalam rangka Ihrom atau dalam rangka tempatnya. Shalat khusus terkait di Dzulhulaifah.

Permasalahan berikutnya adalah saat mengucapkan Al Ihlal. Al Ihlal adalah ucapan Labbaik ‘umratan atau Labbaik Allahumma ‘umratan. Kapan diucapkannya kalimat ini? ketika selesai mandi langsung atau ketika di masjid Dzulhulaifah atau dalam kesempatan berikutnya ?jawabannya adalah ucapan Labbaik Allahumma umratan diucapkan saat dia telah menaiki kendaraannya dan sudah berposisi dengan nyaman di kendaraannya di saat kendaraan akan mulai berjalan, di situ disunahkan mengucapkan Labbaik Allahumma ‘umratan. Dalilnya adalah Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu muttafaqun ‘alaihi :
Berkata Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :

صَلَّى بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَصَلَّى الْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa sholat di Madinah ketika masih di Madinah empat rakaat itu shalat dzuhur kemudian berangkat Rasulullah menuju Dzulhulaifah kemudian shalat ashar di Dzulhulaifah dua rakaat, meng-qashar.

Di sini ada dalil bahwa seorang yang niat musafir walaupun belum keluar resmi atau total dari kota tempat dia tinggal sudah dibolehkan untuk mengqashar.

Dzulhulaifah sebenarnya masih bagian dari Madinah sekarang kalau ditempuh dengan mobil lancer begitu paling cuma 10 menit dari Madinah, ternyata Rasulullah mengqasar di sana salat ashar dua rakaat. Sebelum keluar dari Madinah masih di rumahnya atau masih di tengah kota Madinah sholat dzuhur 4 rakaat kemudian berangkat. Setibanya di Dzulhulaifah shalat ashar dua rakaat.

Atas dasar itu para ulama membolehkan kalau kita misalkan berangkat dari Ma’had sini (Jember), sesampainya di… misalkan di Rambipuji sana, boleh kita shalat mengqashar di situ dengan dalil perbuatan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan juga Imam Muslim rahimahumallah.

Menit 22:26

Kemudian lanjutan dari hadits tadi:

Kemudian Rasulullah menginap di Dzulhulaifah malam itu. Selesai shalat ashar berdiam di Dzulhulaifah sampai besok harinya.

Ketika di ke esokan harinya selesai melakukan berbagai amalan di Dzulhulaifah, mandi dan yang lainnya kemudian beliau mulai menaiki kendaraannya yaitu ontanya.
Di saat sudah posisinya sempurna di atas ontanya dan siap untuk berjalan baru saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan Labbaik Allahumma Hajjan fi Umrah.

Karena waktu itu Haji maka Ihlalnya dengan Qiron Haji dan Umroh digabung. Tapi bagi seorang mu’tamir, seorang yang akan umroh, Ihlal diucapkan ketika sudah di atas kendaraan. Sekarang mungkin bisa bis atau mobil atau yang lainnya. Na’am, barakallahu fiikum. Ini diucapkannya. Na’am.

Sebagian ulama menyatakan diucapkannya di masjid, di masjid Dzulhulaifah karena ada riwayat dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah mengucapkannya di masjid Dzulhulaifah.

Dijawab oleh para ulama : “tidak demikian” karena adanya hadits lain dari sahabat Abdullah bin Umar dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah mengucapkannya ketika telah berada di atas tunggangannya, onta tunggangannya, di posisi dekat dengan masjid Dzulhulaifah, jadi digabungkan : tidak jauh posisinya dari Masjid Dzulhulaifah.

Misalkan ini masjid Dzulhulaifah, Rasulullah mulai menunggangi onta tunggangannya di posisi tidak jauh dari masjid, tidak di luar sana sehingga dikatakan Rasulullah mulai ber-Ihlal di masjid Dzulhulaifah. Maksudnya bukan di dalam masjid karena ada riwayat lain dalam shahih Al Imam Muslim yaitu di atas onta tunggangannya di dekat masjid. Na’am. Bisa difahami? sekali lagi dengan ini sunnah AL Ihlal yaitu mengucapkan Labbaik Allahumma umratan dilakukan ketika seorang mi’tamir, seorang yang berihram untuk umroh telah berada di atas kendaraannya.

Menit 25:18

Kemudian setelah itu penting pula diketahui bahwa Al Ihlal disunahkan untuk meninggikan suara, disunahkan untuk meninggikan suara. Na’am.

Hal ini sebagaimana dalam Hadits Anas bin Malik juga sama, dengan lafadz yang mirip bahwasanya beliau Anas mengatakan :

عن أنس -رضي الله عنه- قال:
صلى النبي بالمدينة الظهر أربعا والعصر بذي الحليفة ركعتين، وسمعتهم يصرخون بهما جميعا

“Bahwa Rasulullah shalat empat rakaat ketiga masih di Madinah dan shalat ashar dua rakaat ketika tiba di Dzulhilaifah dan aku (kata Anas bin Malik) mendengar suara mereka (Rasulullah dan para sahabatnya mengucapkan ihlal haji dan umroh yang digabung pada waktu itu ) dengan suara yang tinggi.” (HR. Bukhari)

Kalimat يصرخون dari kalimat صرخ, الصرخ yaitu suara yang tinggi. Na’am.

Kemudian setelah itu dilanjutkan dengan At Talbiyah. At Talbiyah yaitu ucapan Labbaik

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ

Ini namanya apa ? At talbiyah.

Ada beberapa alfazh (lafazh-lafazh) talbiyah lainnya, semuanya shahih namun ini yang gampang dan masyhur. Ini yang lebih mudah diucapkan dan Masyhur.

Namun seorang thalibul ‘ilm ketika berumroh atau berhaji hendaknya dia menghafal beberapa cara Talbiyah yang diucapkan juga oleh Nabi selain yang masyhur ini. Na’am.

Salah satu prinsip penting ketika kita tahu dalam sebuah sunnah terdapat beberapa cara, hendaknya beberapa cara yang memang telah diterapkan oleh Nabi diterapkan secara bergantian, At Tanawwu’. Na’am.

ebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun menerapkannya secara silih berganti. Na’am.

Namun kalimat Talbiyah yang umum seperti yang sudah sering kita dengar, yang tadi kita dengarkan bersama. Na’am

Kemudian Talbiyah ini pun disunnahkan untuk meninggikan suara.

Dalilnya antara lain adalah Hadits sahabat As Said bin Al Khallad radhiallahu Anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

أتاني جبريل فأمرني أن آمر أصحابي أن يَرفعوا أصواتهم بالإهلال والتلبية

“Datang kepadaku Jibril kemudian memerintahkan kepadaku agar aku memerintah para sahabatku untuk meninggikan suara mereka dalam berihlal dan bertalbiyah” (HR. Al Khamsah, dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Berihlal yaitu mengucapkan: لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عمرة

Talbiyah : لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Imam Malik, Al Imam An Nasa i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Kemudian di situ ada beberapa hadits lainnya antara lain adalah Hadits Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, At Tirmidzi, Ibnu khuzaimah, Al Hakim dan hasankan oleh Syaikh Muhammad Nashirudin Albani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

ما من مؤمن يلبي إلا لبّى ما عن يمينه و شماله منحجر أو شجر أو مدر، حتى تنقطع الأرض من هنا وهنا ـ يعني ـ عن يمينه وشماله 

“Tidaklah seorang mukmin bertalbiyah (mengucapkan : لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ) kecuali ikut pula bertalbiyah segala yang ada di sebelah kanan dia dan di sebelah kiri dia baik itu bebatuan maupun pepohonan ataupun tanah liat, semuanya ikut bertalbiyah sampai terputusnya bumi ini dari arah sini dan dari arah situ (yakni) dari arah kanan dan dari arah kiri (ujung bumi dari sebelah kanan kita dan ujung bumi dari sebelah kiri kita semua benda itu ikut bertalbiyah).

Tetapi kita tidak mendengarnya.Tetapi kita manusia tidak mengetahuinya. Namun ini adalah salah satu fadhilah daripada Talbiyah dan fadhilah daripada meninggikan suara saat kita bertalbiyah.
Ketika seorang mu’tamir telah selesai mandi dan hendak, kemudian melakukan shalat di Dzulhulaifah, baik shalat itu niatnya shalat tahiyatul masjid atau niatnya mau shalat untuk lembah Dzulhulaifah dalam rangka mendapatkan barokah yang Allah letakkan pada tempat tersebut atau dalam rangka sunnatul wudhu atau mungkin salat wajib/salat fardhu kemudian dia langsung menuju kepada kendaraannya, maka disunnahkan sebelum berihlal untuk dia memulai dengan do’a Ar Rukub, Do’a Ar Rukub = doa ketika seseorang hendak menaiki kendaraan :

اللَّهُ أَكْبَرُ, اللَّهُ أَكْبَرُ, اللَّهُ أَكْبَرُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ,الْحَمْدُ لِلَّهِ,الْحَمْدُ لِلَّهِ
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Sampai selesai do’a menaiki kendaraan baru setelah itu berihlal لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ.

وصل الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى اله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *