Bolehkah Suami Istri Tinggal Satu Atap dengan Masjid

Pertanyaan dari Abu Abdirrozzaq. 0812407xxxx :

Afwn ust… ana punya beberapa partanyaan…

  1. yang pertama ada seorang dai telah mengakui dia telah melakukan perbuatan yg mengarah ke liwath hanya saja dari pengakuannya baru sebatas meraba raba… yg ingin ana tanyakan apakah boleh kita mengambil ilmu dari orang tsb meskipun yg diajari pelajaran tajwid
  2. Pertanyaan kedua apakah boleh suami istri tinggal satu atap masjid dgn alasan blm memiliki rumah…jazakumullahukhoir wa barakallahufiik

Jawaban:

Pada surat Anda ada dua pertanyaan:

    1. Tidak boleh mengambil ilmu dari seorang dai yang kondisinya seperti yang Anda sebutkan dalam semua disiplin ilmu agama termasuk ilmu tajwid, karena dia adalah seorang yang fasiq, sementara ilmu Islam hanya boleh diambil dari seorang yang berada diatas kesolehan. Dan interaksi dengan orang seperti itu walau melalui belajar mengajar, akan membahayakan iman dan akhlak kita atau anak-anak kita.

    2. Kalau yang dimaksud “satu atap” adalah di dalam bangunan masjid yang di sana ditegakkan shalat, dan yang dimaksud “tinggal” adalah layaknya sebuah rumah tangga dengan segala aktivitasnya, maka Tidak boleh! karena masjid adalah rumah Allah yang dibangun untuk tujuan ibadah dan dzikir kepada-Nya. Tetapi apabila sekedar menginap beberapa hari karena kondisi atau kebutuhan tertentu yang mendesak seperti seorang Musafir atau orang yang sakit dan tidak ada alternatif tempat selain masjid, maka boleh sebatas kebutuhan dengan syarat tidak menggangu prosesi ibadah dan dzikir, serta tetap menjaga kesantunan kata dan perbuatan dari segala yang bertentangan dengan tujuan pembangunan masjid.

      Al-Imam al-Bukhari meletakkan sebuah bab dengan judul:

      باب الْخَيْمَةِ فِى الْمَسْجِدِ لِلْمَرْضَى وَغَيْرِهِم

      Bab “Tenda di masjid untuk orang-orang sakit dan selainya.”

      Berkata Ibnu Hajar dalam “Fathul Bari”: yakni bolehnya mendirikan tenda (di dalam masjid).
      Berkata Ibnu Baththal : dalam bab ini terdapat penjelasan tentang bolehnya tinggal di masjid untuk sebuah uzur (kebutuhan) tertentu.
      Semakna dengan penjelasan di atas disebutkan pula oleh an-Nawawy dalam kitab “Syarah Shahih Muslim”.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *