Gangguan dan Rintangan Yang Dialami Oleh Dakwah Ahlus Sunnah, Sebuah Kemestian

Bagikan :

Sesungguhnya dakwah Ahlus Sunnah Wal Jamaah As-Salafiyah adalah penerus dakwah para Nabi dan Rasul. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (108)

“Katakanlah (Wahai Muhammad) inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berda’wah ke jalan (agama) Allah dengan bashirah (petunjuk dan ilmu), Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” [Yusuf : 108]

Dengan hikmahnya, Allah Subhanahu Wata’ala telah menetapkan bahwa dakwah para Nabi selalu ada musuhnya. Ada saja pihak yang berupaya untuk memusuhi, menghalangi, dan menghambat dakwah Ahlus Sunnah. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Demikianlah telah kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan dari kalangan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lainnya perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia).” [Al An’am : 112]

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا (31)

“Demikianlah telah kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh dari kalangan orang-orang mujrim (jahat), dan cukuplah Rabb mu sebagai pemberi hidayah dan sebagai penolong.” [Al Furqan : 31]

Gangguan Nyata Yang Dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Penerus Dakwahnya

Sejarah mencatat, dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditekan dan dimusuhi oleh kaum musyrikin Quraisy. Para shahabat disiksa dan dibunuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak luput dari upaya pembunuhan tersebut. Hingga akhirnya terpaksa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya harus hijrah ke Madinah. Namun akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin, dan manusia berbondong-bondong masuk Islam.

Demikian juga dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sepeninggal beliau, pun menghadapi gangguan dan tantangan. Di samping dari kaum kuffar dan musyrikin, gangguan itu juga datang ahlul bid’ah dengan beragam sekte dan kelompoknya. Sebut saja kelompok Khawarij, Rafidhah, Qadariyyah, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Shufiyyah, dan berbagai macam aliran bid’ah sesat lainnya yang memusuhi dan menyerang dakwah Ahlus Sunnah.

Di masa Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, mu’tazilah berhasil menyusup dan menghasut pemerintah untuk bermadzhab mu’tazilah dan memerangi madzhab Ahlus Sunnah. Para ‘ulama Ahlus Sunnah diteror dan disiksa. Termasuk juga Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Beliau harus menghadapi siksaan yang sangat pedih sebagai konsekuensi beliau yang tetap konsisten memegang teguh manhaj Ahlus Sunnah.

Namun, walaupun sedemikian pedihnya siksa yang beliau hadapi, tak ada satupun kalimat terucap dari beliau yang memvonis kafir penguasa pada waktu itu. Tak sedikitpun beliau memprovokasi dan menggerakkan umat untuk memberontak terhadap penguasa. Hingga Allah Subhanahu Wata’ala memberikan hidayah kepada penguasa untuk ruju’ kepada manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Keadaan pun berbalik, manhaj Ahlus Sunnah akhirnya meraih kemenangan dan kejayaan.

Di masa Al-Imam Ahmad bin Taimiyyah (yang terkenal dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) rahimahullah, lagi-lagi ahlul bid’ah berhasil menghasut penguasa untuk membenci beliau rahimahullah. Ibnu Taimiyyah rahimahullah dipenjara selama bertahun-tahun. Namun itu semua tidak menghalangi Ibnu Taimiyyah untuk melancarkan dakwah dan membersihkan aqidah umat Islam yang terkotori oleh syirik dan bid’ah, terlebih di masa itu umat Islam harus menghadapi serangan brutal tentara kuffar: Tartar.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berdakwah memberikan semangat kepada umat Islam, membersihkan aqidah umat, bahkan beliau juga ikut terjun langsung di medan tempur!! Melalui dakwah Ibnu Taimiyyah rahimahullah, Allah Subhanahu Wata’ala memberikan pertolongan kepada kaum muslimin, sehingga berhasil mengusir Tartar dan mendapatkan kemenangan.

Meskipun dipenjara oleh penguasa, Ibnu Taimiyyah sama sekali tidak memprovokasi dan menggerakkan umat Islam untuk memberontak terhadap penguasa pada waktu itu. Bahkan beliau menasehati umat dan menunjukkan kepada umat manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam bersikap terhadap penguasanya, yaitu harus taat kepada penguasa, baik yang adil maupun yang zhalim, dan tidak boleh memberontak terhadap mereka.

Demikian juga di masa Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, beliau harus berhadapan dengan musuh-musuh tauhid dan sunnah dari kalangan musyrikin dan alirang-aliran sesat. Di antaranya adalah Daulah ‘Utsmaniyyah Turki dan Mesir, di mana negeri tersebut mendukung dan menyokong kesyirikan dan kebid’ahan yang otomatis bersebrangan dan tidak sejalan dengan dakwah tauhid yang sedang berkibar di Najd.

Allah Subhanahu Wata’ala terus mengokohkan dakwah tauhid tersebut, sebagaimana kita saksikan, Saudi ‘Arabia masih kokoh berdiri, serta masih konsisten dalam membela dan mengibarkan bendera tauhid dan sunnah. Dakwah didukung, difasilitasi, dan didanai. Ilmu dan ahlul ilmi/para ulama dihormati, dihargai, dan didukung.

Eksistensi Ahlus Sunnah di Tengah Gangguan dan Keterasingan

Demikianlah perjalanan dakwah salafiyyah dari masa ke masa, terus mengalami pasang surut. Allah mentakdirkan mereka itu selalu sedikit dan minoritas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam itu dimulai dalam keadaan asing, dan ia akan kembali asing lagi seperti semula, maka beruntunglah Al Ghuraba’ (Orang-orang yang asing itu).” [HR. Muslim, At Tirmidzi, Ibnu Majah] 1)

Dalam riwayat lain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang siapakah Al Ghuraba’,

قِيْلَ وَ مَنْ هُمُ الغُرَبَاءُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ اَلَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ

“Siapakah Al Ghuraba itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab : “Orang-orang yang mengadakan ishlah (perbaikan) ketika rusaknya manusia” 2)

Dalam riwayat lain dengan lafazh,

أُنَاسٌ صَالِحُوْنَ قَلِيْلُوْنَ فيِ أُنَاسٍ سُوْءٍ كَثِيْرٍ مَنْ يَعْصِيْهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيْعُهُمْ

“Orang-orang shalih yang sedikit di antara orang-orang jelek yang banyak. Yang memusuhi mereka lebih banyak daripada yang mematuhi mereka. 3)

Dalam riwayat lain dengan lafazh,

اَلَّذِيْنَ يُحْيُوْنَ مَا أَمَاتَ النَّاسُ مِنْ سُنَّتِيْ

“Orang-orang yang menghidupkan sunnah-sunnahku yang telah dimatikan oleh manusia.”

Yang pasti, dakwah salafiyyah akan senantiasa eksis dan jaya, walaupun mereka dimusuhi dan ditekan oleh musuh-musuhnya dari kalangan ahlul bid’ah dan munafiqun. Hal ini sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلىَ الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتىَّ يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ

“Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang (thaifah) yang selalu tampak di atas Al-Haq, tidak akan menyusahkan mereka orang-orang yang meninggalkan (tidak mau menolong) mereka dan tidak pula orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah (hari kiamat). [Al Bukhari – Muslim]

As-Salafiyyun dibenci dan dimusuhi karena al-haq yang mereka bawa. Demikian juga mereka disambut, diterima, dan didukung dakwahnya karena al-haq yang mereka perjuangkan.

Sementara ahlul batil itu dibenci oleh umat karena kebatilan yang ada pada mereka. Terkadang mereka diterima oleh umat karena kuatnya syubhat-syubhat yang mereka lontarkan, karena keberhasilan mereka dalam menipu umat, atau keberhasilan mereka dalam menipu dan menghasut penguasa, sehingga mereka didukung oleh suatu penguasa tertentu.

Tidak benar orang yang menyatakan bahwa dakwah salafiyah tidak mendapat tantangan yang berarti. Justru dakwah yang mulia ini akan selalu mendapat tantangan dan hambatan, bahkan tantangan mereka lebih keras dan kuat, karena mereka harus berhadapan dengan kuffar, musyrikin, munafiqin, ahlul bid’ah, dll. Semua aliran-aliran bid’ah membenci dan memusuhi Ahlus Sunnah.

Bahkan terkadang Ahlus Sunnah harus berhadapan dengan penguasanya (yang berhasil dikuasai atau dihasut oleh musuh-musuh dakwah). Namun hal itu tidak menyebabkan Ahlus Sunnah melanggar prinsip, yaitu dengan memberontak terhadap penguasa misalnya, atau melakukan tindakan-tindakan teror dan anarkhis yang sama sekali tidak dibenarkan oleh Islam.

Sikap Ahlul Bid’ah Merugikan dan Mencelakakan Ahlus Sunnah

Perlu kami tegaskan pula, bahwa tidak jarang ulah ahlul bid’ah justru merugikan dan mencelakakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, atau minimalnya membuat image Ahlus Sunnah menjadi jelek di mata muslimin. Sejarah mencatat ini semua:

  1. Hasutan dan provokasi ahlul bid’ah telah membuat Al-Imam Ahmad dipenjara dan disiksa. Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
  2. Akibat tindakan bodoh gerombolan Juhaiman, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi harus merasakan getahnya.
  3. Karena tindakan khawarij dan politikus di Aljazair, salafiyyun juga mendapat tindakan represif dari penguasa.
  4. Dan di zaman ini, tidak sedikit dari teroris-teroris pelaku peledakan, pelaku-pelaku demo, da’i-da’i dan mufti-mufti (baca: orator dan provokator) itu yang berjenggot, celananya di atas mata kaki, mamakai gamis dan jubah. Isteri-isteri mereka mengenakan pakaian serba hitam bahkan bercadar, yang ini semua merupakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia dan bagian dari Islam. Akibatnya, salafiyyun Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang memang senantiasa konsisten berpegang kepada sunnah dan menampakkan syi’ar-syi’arnya secara terang-terangan, harus mendapatkan getahnya karena pemerintah dan orang-orang awam dari kalangan kaum muslimin menganggap mereka sama dengan para teroris tersebut.

Bahkan tidak jarang pula para teroris itu yang belajar Shahih Al-Bukhari, Kitabut Tauhid, dll. demikian juga buku-buku para ‘ulama: Asy-Syaikh Al-Albani, Asy-Syaikh bin Baz, dan yang lainnya, tapi khusus untuk bab-bab fiqh. Adapun untuk urusan jihad, maka ‘pakarnya’ Ahmad Yasin, ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rantisi, ‘Abdullah ‘Azzam, Usamah bin Laden, Safar, Salman, Mullah Omar, dan.. dan…. Sehingga ketika salafiyyun juga membahas dan mengkaji kitab-kitab karya Asy-Syaikh Bin Baz, Asy-Syaikh Al-Albani, dan para ‘ulama yang lainnya, maka orang-orang awam dan pemerintah menyangka bahwa salafiyyun itu tidak ada bedanya dengan para teroris tersebut.

Sumber: Buku MEREKA ADALAH TERORIS, karya Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, cet. ke-1, hal. 531-536, dengan beberapa perubahan dan penyesuaian


1 HR. Muslim 145, 146; At-Tirmidzi 2629; Ibnu Majah 4057, 4058, dari Abu Hurairah, Ibnu ‘Umar, Anas bin Malik, dan yang lainnya radhiyallahu ‘anhum.

2 HR. Abu ‘Umar Ad-Dani dalam As-Sunanul Warudatu fi Al Fitan I/25; Al-Ajurri dalam Al-Ghuraba15-16 dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Lihat Ash-Shahihah 1273.

3 HR. Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd II/190, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah 1619.

 489 kali dibaca,  1 kali dibaca hari ini

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *