Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam Masalah Takfir

Bagikan :

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, As-Salafiyyun, adalah orang-orang yang sangat berhati-hati dalam masalah takfir, bahkan merekalah yang sejak dahulu hingga kini memerangi fitnah dan pemikiran tersebut. Kitab-kitab dan fatwa-fatwa para ulama Ahlus sunnah cukup sebagai bukti dan saksi, sehingga sangat ironis sekali apa yang diopinikan oleh musuh-musuh Islam bahwa motor dari fitnah takfir ini adalah As-Salafiyyun, dan mereka adalah para teroris. Ini adalah fitnah keji yang tidak berdasar sama sekali.

Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

“Ringkas kata, wajib bagi yang ingin mengintrospeksi dirinya agar tidak berbicara dalam masalah (takfir) ini kecuali dengan ilmu dan keterangan dari Allah, dan hendaknya berhati-hati dari perbuatan mengeluarkan seseorang dari Islam semata-mata dengan pemahamannya dan anggapan baik akalnya, karena mengeluarkan seseorang dari Islam atau memasukkan seseorang ke dalamnya termasuk perkara besar dari perkara-perkara agama ini.” (Ad-Durar As-Saniyyah, 8/217)

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

“Pemberian vonis kafir dan fasiq bukan urusan kita, bahkan ia dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, karena ia termasuk hukum syari’ah yang referensinya adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka wajib untuk ekstra hati-hati dan teliti dalam permasalahan ini, sehingga tidaklah seseorang dikafirkan dan dihukumi fasiq kecuali bila Al-Qur’an dan As-Sunnah telah menunjukkan kekafiran dan kefasikannya.

Hukum asal bagi seorang muslim yang secara zhahir nampak ciri-ciri keislamannya adalah tetap berada di atas keislaman sampai benar-benar terbukti dengan dalil syar’i adanya sesuatu yang menghapusnya, dan tidak boleh bermudah-mudahan dalam mengkafirkan seorang muslim atau menghukuminya sebagai fasiq.” (Al-Qawa’idul Mutsla, hal. 87-88)

Oleh karena itu, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sangat berbeda dengan khawarij dan para teroris. Namun hal ini tidak menjadikan mereka seperti Murji’ah, yang menyatakan bahwa kemaksiatan tidak berpengaruh sama sekali terhadap keimanan seseorang.


Baca Juga: Sejarah Munculnya Pemikiran Takfir


Syarat dan Ketentuan Takfir dalam Timbangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah akan menjatuhkan vonis kafir tersebut (dengan tegas) kepada seseorang, jika memang benar-benar telah terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak ada lagi sesuatu yang dapat menghalanginya dari vonis tersebut.

Syarat-syarat seseorang bisa dinyatakan kafir ada empat, yaitu:

    1. Orang tersebut berakal.
    2. Kekafiran tersebut terjadi dengan keinginannya, bukan karena dipaksa.
    3. Telah sampai kepadanya hujjah yang dengan menyelisihi hujjah itu dia dikafirkan.
    4. Dia melakukannya bukan karena ta’wil terhadap nash.

Jika tidak terpenuhi salah satu saja dari empat syarat tersebut, maka seseorang terhalangi (tidak boleh) untuk dinyatakan kafir. (lihat Mauqif Ahlis Sunnah I/201)

Sumber: Buku MEREKA ADALAH TERORIS, karya Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, cet, ke-1, hal. 503-505, dengan beberapa perubahan dan penyesuaian

 222 kali dibaca,  1 kali dibaca hari ini

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *