Meraih Pertolongan Allah Adalah dengan Ketaatan Untuk Menjalankan Syariat-Nya

Bagikan :

Jika kaum muslimin jujur dan mau bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh-musuhnya, dengan mengerahkan semua potensi dan kemampuan yang dimiliki berupa persiapan fisik dan menolong agama Allah, niscaya Allah Subhanahu Wata’ala akan menolong mereka. Allah jadikan kaum muslimin kuat di hadapan musuh dan menang dalam menghadapi mereka, serta tidak hina di bawah mereka. Allah Subhanahu Wata’ala Yang Maha benar perkataan dan janji-janji-Nya telah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (7)

“Hai orang-orang mukmin, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” [Muhammad: 7]

Allah Subhanahu Wata’ala itu tidak lemah, serta tidak butuh kepada manusia. Akan tetapi, Dia hendak menguji hamba-hamba-Nya yang baik dengan hamba-hamba-Nya yang jelek, agar terlihat kejujuran orang-orang yang jujur dan kedustaan para pendusta. Agar terlihat mana yang benar-benar sebagai mujahid dan mana yang bukan, siapa yang berharap selamat dari adzab dan siapa yang tidak. Yang sebenarnya Allah, Dia Maha mampu untuk menolong wali-wali-Nya dan menghancurkan musuh-musuh-Nya tanpa peperangan, tanpa jihad, dan tanpa yang lainnya. Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman,

ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ

“Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain.” [Muhammad: 4]

Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman di Surat Al-Anfal tentang kisah Perang Badr,

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (10)

“Dan Allah tidaklah menjadikannya (yakni pengiriman bala bantuan dari-Nya berupa bala tentara malaikat) kecuali sebagai kabar gembira dan agar hati kalian menjadi tentram. Tidaklah pertolongan itu kecuali hanya dari sisi Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” [Al-Anfal: 10]

Dan Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman di dalam surat Ali ‘Imran,

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَى لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُمْ بِهِ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ (126)

“Dan Allah tidaklah menjadikannya (yakni pengiriman bala bantuan dari-Nya berupa bala tentara malaikat) kecuali sebagai kabar gembira bagi kalian dan agar hati kalian tenang dengannya. Dan tidaklah pertolongan itu kecuali hanya dari sisi Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” [Ali ‘Imran: 126]

Jadi pertolongan itu hanya dari Allah Jalla Wa’ala saja. Tapi Allah (mengirimkankannya dalam bentuk) bantuan bala tentara malaikat, dan juga kekuatan yang Allah berikan dalam bentuk senjata, materi, dan pasukan yang besar. Semuanya itu hanyalah sebab-sebab (datangnya) pertolongan serta kabar gembira dan ketenangan hati. Dan (perlu diingat bahwa) pertolongan Allah tidak terkait dengan itu. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ (249)

“Berapa banyak pasukan kecil bisa mengalahkan pasukan besar dengan idzin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang shabar.” [Al-Baqarah: 249]

Sejarah Kemenangan Kaum Muslimin Berkat Pertolongan Allah

Perlu kita ingat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya dulu di pertempuran Badr, jumlah mereka hanya sekitar 310 orang saja. Persenjataan minim, kendaraan hanya 70 ekor onta, di mana mereka saling bergantian dalam mengendarainya. Dan tidak ada kuda kecuali hanya 2 ekor saja.

Adapun pasukan kafir ketika itu berjumlah sekitar 1000 personil! Dilengkapi dengan kekuatan yang besar dan persenjataan yang banyak. Namun ketika Allah menghendaki mereka (kaum kafir) hancur, maka Allah hancurkan mereka. Kekuatan dan pasukan dalam jumlah besar itu tidak ada gunanya lagi.

Dengan pasukan (muslimin) yang kecil dan lemah, Allah hancurkan ribuan orang (kuffar) dan kekuatan yang besar itu dengan 3000 malaikat. (Jumlah pasukan muslimin ketika itu sedikit dan lemah) namun dengan kemudahan dan pertolongan Allah, muslimin menang dan berhasil menawan 70 kuffar serta membunuh 70 kuffar, adapun sisanya barhasil dipukul mundur.

Semuanya itu merupakan tanda kekuasaan dan kebesaran Allah Subhanahu Wata’ala dan itu merupakan pertolongan-Nya.

Demikian juga dalam pertempuran Ahzab. Tentara kuffar mengepung Kota Madinah dengan kekuatan 10.000 personil! Mereka merupakan gabungan segenap qabilah ‘arab ketika itu, Quraisy dan yang lainnya.

Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya menghadapi mereka dengan strategi khandaq (membuat parit sepanjang perbatasan Kota Madinah, sehingga menghalangi tentara kuffar untuk masuk, pent). Ini merupakan sebab datangnya pertolongan Allah yang hissi (tampak).

Dan terus, tentara kuffar mengepung Kota Madinah sampai beberapa waktu lamanya. Kemudian Allah porak-porandakan barisan mereka tanpa melalui peperangan! Allah masukan ke hati mereka ru’b (perasaan takut dan gentar). Allah kirimkan angin dan tentara dari sisi-Nya (untuk mengacaukan dan menghancurkan mereka), sehingga merekapun tidak bisa tenang, yang akhirnya mereka diliputi ketakutan dan memutuskan untuk menghentikan pengepungan dan kembali ke daerah masing-masing dengan penuh ketakutan.

Ini semua merupakan pertolongan dan bantuan dari Allah Subhanahu Wata’ala. Kekuatan kuffar melemah dan mereka tidak jadi memerangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat di Madinah.

Bahkan sebaliknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam balik memerangi mereka di hari Hudaibiyyah. Yaitu melalui Perjanjian Hudaibiyyah, di mana terjadi kesepakatan gencatan senjata ketika itu. (Ini merupakan bentuk kemenangan Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas kuffar). Yang kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya memerangi kuffar tersebut secara fisik pada Ramadhan tahun 8 H dalam peristiwa Fathu Makkah. Yang akhirnya setelah itu manusia masuk Islam secara berbondong-bondong.

Di Antara Ketaatan Terbesar Adalah Mempelajari Ilmu Agama

Pertolongan itu di tangan Allah Subhanahu Wata’ala. Dialah yang menolong hamba-hamba-Nya (mukminin). Namun, Allah juga memerintahkan mereka untuk melakukan sebab-sebab yang bisa mendatangkan pertolongan-Nya tersebut. Dan sebab terbesarnya adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Di antara bentuk ketaatan itu adalah tafaqquh dan mempelajari agama-Nya, sehingga dengannya engkau mengetahui hukum-hukum Allah dan syari’at-Nya untuk dirimu dalam hal yang berkaitan dengan pribadimu, orang lain dan juga dalam jihadmu melawan musuh. Sehingga mendorongmu untuk melakukan persiapan untuk menghadapi musuh.

Dengan ilmu tersebut juga, engkau bisa menahan diri dari larangan-larangan Allah, menunaikan perintah-perintah Allah, serta berhenti di batas-batas (syariat) yang Allah tentukan. Ilmu tersebut mendorongmu untuk bekerjasama dengan saudara-saudaramu muslimin, dan engkau pun rela mengorbankan hartamu yang paling mahal dan berharga sekalipun di jalan Allah Subhanahu Wata’ala, dalam rangka menolong agama Allah Subhanahu Wata’ala dan meninggikan kalimat Allah Subhanahu Wata’ala. Bukan untuk kepentingan negara atau suku (atau yang semisal itu).

Inilah cara dan jalan untuk mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu Wata’ala. Yaitu dengan cara mempelajari ilmu syar’i dan tafaqquh fiddin, baik pemerintah maupun rakyatnya, besar maupun kecil, semua harus melakukannya. Kemudian hendaknya mereka mengamalkan konsekuensi-konsekuensi dari ilmu tersebut, serta meninggalkan larangan-larangan Allah yang selama ini kita masih bergelimang di dalamnya.

(Majmu’Fatawa Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, 5/109-112)

 109 kali dibaca,  1 kali dibaca hari ini

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *