Sebab-Sebab Kelemahan dan Kehinaan Umat Islam, Serta Solusi Untuk Mengembalikan Kekuatan Dan Kemuliaan Mereka

Bagikan :

Kenyataan pahit yang dirasakan pada hari-hari ini, di mana kaum muslimin direndahkan oleh musuh-musuhnya, ditambah lagi kehinaan yang terus menyelubungi dan menguasai mereka, sesungguhnya hal itu bukan karena mereka tidak memiliki materi duniawi, dan bukan pula karena mereka tidak menguasai IPTEK. Namun itu terjadi ketika mereka melepaskan syarat yang harus dipenuhi, yaitu menegakkan keimanan dan amal shalih.

Kenapa dua syarat tersebut hilang dari kaum muslimin?

Jawabannya: karena mereka telah jauh dari ajaran agama mereka, tenggelam dalam kehidupan dunia, dan bergelimang dalam lumpur dosa dan maksiat. Bahkan lebih tragisnya lagi, kesyirikan menyebar luas di tengah-tengah umat, sehingga tidak diketahui lagi mana yang dinamakan syirik, dan mana yang dinamakan tauhid. Tauhid disangka syirik, dan syirik disangka tauhid. Begitu juga sunnah dianggap bid’ah, dan bid’ah dianggap sunnah.

Sebab Kehinaan Umat Islam dan Solusi Untuk Meraih Kemuliaan

Jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada umat ini tentang sebab-sebab kelemahan mereka, sekaligus solusi dan jalan keluar dari kelemahan tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan penyakit dan obatnya sekaligus. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ، وَ أَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَ رَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ، وَ تَرَكْتُمُ الجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ عَنْكُمْ حَتىَّ تَرْجِعُوا إِلىَ دِيْنِكُمْ

“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah 1), dan kalian telah disibukkan dengan ekor-ekor sapi (peternakan), dan telah senang dengan bercocok tanam, dan juga kalian telah meninggalkan jihad, niscaya Allah akan timpakan pada kalian kehinaan kepada kalian, tidak akan Allah cabut kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian.” [HR. Abu Dawud] 2)

[Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah] merupakan isyarat satu jenis dari mu’amalah ribawiyah yang mengandung unsur tipu muslihat terhadap syari’at.

[dan kalian telah disibukkan memegang ekor-ekor sapi, dan telah senang dengan bercocok tanam] merupakan isyarat tentang sangat perhatiannya seseorang terhadap perkara-perkara dunia dan kecenderungan terhadapnya, sementara perkara syari’at dan hukum-hukumnya diabaikan.

[dan juga kalian telah meninggalkan jihad] merupakan buah dari keinginan hidup kekal di dunia.

Itulah tiga penyakit yang menyebabkan kelemahan umat. Yang semuanya kembali pada satu sebab sentral yaitu: kebodohan umat ini terhadap agama mereka, yang menyebabkan mereka jauh dari ilmu dan jauh dari ajaranya agamanya. Sehingga timbullah pelanggaran-pelanggaran tersebut. Mereka begitu asyik dengan dunia, sementara agama dan aqidah mereka rusak.

Akibatnya, mereka begitu cinta dengan dunia dan takut mati, yang melahirkan sikap pengecut dan penakut, yang puncaknya adalah mereka meninggalkan jihad fi sabilillah.

Solusinya apa? Bukan serta merta dengan perang, bukan memprovokasi umat untuk perang, bukan pula dengan cara-cara teror. Namun apa kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Solusi apa yang beliau sebutkan? Jawabannya: “…tidak akan dicabut kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian.”

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam risalahnya, Fiqhul Waqi’, hal 48-50 menjelaskan, “Sesungguhnya sebab mendasar kehinaan kaum muslimin ialah:

  1. Kebodohan mereka tentang syari’at Islam yang Allah turunkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

  2. Mayoritas kaum muslimin telah mengetahui hukum-hukum Islam, tetapi tidak mau mengamalkan, dan bahkan meremehkannya.

Dengan demikian, kunci kembalinya kemuliaan Islam ialah dengan mempraktekkan ilmu yang bermanfaat dan mengerjakan amal shalih. Ini adalah masalah besar yang tidak mungkin dicapai oleh kaum muslimin melainkan dengan manhaj At-Tashfiyyah (pembersihan) dan At-Tarbiyyah (pendidikan). Dua hal ini adalah keharusan yang mesti dan sangat agung kedudukannya.

Yang saya maksud dengan At-Tashfiyyah ialah:

  1. Membersihkan aqidah Islamiyyah dari perkara yang menyimpang, seperti kesyirikan, menolak sifat-sifat Allah, menta’wilkan sifat-sifat Allah, menolak hadits-hadits shahih yang berhubungan dengan masalah aqidah dan yang lainnya.

  2. Membersihkan fiqih islam dari ijtihad-ijtihad keliru yang menyalahi Al Qur’an dan As Sunnah dan membebaskan akal dari belenggu-belenggu taqlid dan kegelapan ta’asshub.

  3. Membersihkan kitab-kitab tafsir, fiqih, raqa’iq, dan yang lainnya dari hadits-hadits dha’if, maudlu’, isra-iliyyat, dan mungkar.

Adapun yang saya maksud dengan At-Tarbiyyah ialah mendidik generasi yang tumbuh dengan Islam yang telah dimurnikan dari penyimpangan-penyimpangan di atas. Mendidik mereka dengan pendidikan Islam yang benar sejak dini dan tidak terpengaruh sedikitpun dengan sistem pendidikan ala barat yang kafir.” (Fiqhul Waqi’, hal. 48-50)

Sumber: Buku MEREKA ADALAH TERORIS, karya Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, cet. ke-1, hal. 559-562, dengan beberapa perubahan dan penyesuaian


1 Jual beli ‘inah adalah jual beli dengan cara riba. Contohnya si A menjual barang kepada si B dengan harga tertentu dan pembayaran dilakukan di belakang hari (kredit). Kemudian sebelum lunas pembayarannya, si A membeli kembali (dengan kontan) barang yang dia jual tersebut dari si B dengan harga yang lebih murah daripada harga yang ditetapkan ketika dia menjualnya. Kemudian nantinya si B harus rtetap membayar barang tersebut dengan harga semula walaupun barang tersebut sudah tidak lagi dimilikinya. (lihat Nailul Authar, V/250).

2 HR. Abu Dawud no 3462, Ahmad II/28. Dishahihkan oleh AsySyaikh Al-Albani di Ash-Shahihah, no. 11.

 264 kali dibaca,  1 kali dibaca hari ini

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *