Shahihkah Hadits: “Barangsiapa Berbuat Dosa dalam Keadaan Tertawa, Maka Ia Akan Masuk Neraka dalam Keadaan Menangis”? (bag. 2)

Bagikan :

Telah disebutkan pada bagian pertama penjelasan riwayat yang marfu’ dari hadits:

مَنْ يَأْتِيَ الْخَطِيئَةَ وَهُوَ يَضْحَكُ دَخَلَ النَّارَ وَهُوَ يَبْكِي.

Barangsiapa yang berbuat dosa dalam keadaan tertawa, maka dia akan masuk neraka dalam keadaan menangis.”

Dalam riwayat yang lain disebutkan dengan lafazh berbeda, namun sama maknanya, yaitu:

مَنْ أَذْنَبَ وَهُوَ يَضْحَكُ دَخَلَ النَّارَ وَهُوَ يَبْكِي.

Pada bagian kedua ini, akan disebutkan riwayat hadits yang mauquf dan maqthu’.

    1. Riwayat yang mauquf

Hadits ini disebutkan secara mauquf (disandarkan kepada shahabat) dari Ibnu ‘Abbas tanpa penyebutan sanad hadits. Di antaranya yang disebutkan oleh al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin dengan lafazh:

وقال ابن عباس من أذنب ذنباً وهو يضحك دخل النار وهو يبكي

Demikian pula disebutkan oleh Abul Laits as-Samarqandi dalam kitab Tanbihul Ghafilin dengan lafazh:

وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا , أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَذْنَبَ ذَنْبًا وَهُوَ يَضْحَكُ، دَخَلَ النَّارَ وَهُوَ يَبْكِي

Komentar para ulama terkait kitab Tanbihul Ghafilin

  1. Berkata adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A‘lam an-Nubala’ (3434) tentang kitab Tanbihul Ghafilin, “Beredar di dalamnya hadits-hadits palsu.”

Di dalam kitab Tarikhul Islam (225) , adz-Dzahabi juga menyatakan, “Dalam kitab Tanbihul Ghafilin banyak didapati hadits-hadits palsu.”

  1. Berkata asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz,

Sepantasnya bagi seorang mukmin untuk berhati-hati dari setiap kitab atau tulisan yang mengandung sesuatu yang merusak agama dan dakwah. Setiap kitab, tulisan, atau majalah yang menyebarkan kerusakan, ajakan kebathilan, pemikiran-pemikiran yang menghancurkan, atau gambaran-gambaran yang tidak jelas, maka wajib untuk berhati-hati darinya. Adapun kitab Tanbihul Ghafilin, sebenarnya ada 2 kitab dengan judul yang sama. Yang pertama karya Ibnu Nuhas, ini merupakan kitab yang bagus dan bermanfaat. Yang kedua karya Abul Laits as-Samarqandi, ini merupakan kitab yang di dalamnya terdapat hadits-hadits palsu dan dha’if yang tidak boleh disebarkan. Adapun kitab karya Ibnu Nuhas merupakan kitab bagus yang di dalamnya terdapat wasiat-wasiat dan arahan-arahan yang baik.”

(Fatwa asy Syaikh Bin Baz dalam website beliau https://binbaz.org.sa/fatwas/4429/%D9%85%D8%A7-%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%A7%D9%8A-%D9%81%D9%8A-%D9%83%D8%AA%D8%A7%D8%A8-%D8%AA%D9%86%D8%A8%D9%8A%D9%87-%D8%A7%D9%84%D8%BA%D8%A7%D9%81%D9%84%D9%8A%D9%86)

  1. Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Salih al-Utsaimin,

Aku tidak mengetahui kitab Ar-Raudhul Faiq. Adapun kitab Tanbihul Ghafilin adalah kitab yang berisi nasehat, dan kebanyakan kitab-kitab tentang nasehat terdapat hadits-hadits lemah bahkan palsu. Terkadang terdapat pula kisah-kisah yang tidak benar, yang tujuan para penulis kitab-kitab tersebut menjadikan lembutnya hati dan menetesnya air mata. Namun yang demikian itu bukanlah metode yang tepat. Nasehat-nasehat yang tertuang di dalam kitabullah dan sunah Rasulullah sangatlah mencukupi. Tidak sepantasnya untuk memberikan wejangan kepada manusia dengan sesuatu yang tidak shahih, baik disandarkan kepada Rasulullah atau disandarkan kepada orang-orang shalih, yang tidak jarang jatuh kepada kesalahan terkait ucapan-ucapan dan amalan-amalan mereka. Sebenarnya di dalam kitab ini terdapat beberapa hal yang tidak mengapa, hanya saja aku sendiri tidak menasehati untuk membacanya. Kecuali bagi seseorang yang memiliki ilmu, pemahaman dan kemampuan untuk membedakan antara yang shahih, dha’if dan mauquf.”

(Majmu’ Fatawa wa Rasail al-Utsaimin, no. 156)

Komentar para ulama terkait kitab Ihya ‘Ulumuddin

  1. Berkata Jamaluddin Abul Faraj ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad al-Jauzi (yakni Ibnul Jauzi) dalam kitab beliau Talbis Iblis,

Kemudian datang Abu Hamid al-Ghazali, lalu menulis untuk mereka sebuah kitab berjudul al-Ihya’ sesuai dengan metode suatu kaum dan mengisinya dengan hadits-hadits yang bathil dalam keadaan dia sendiri tidak mengetahui tentang kebathilannya, serta berbicara tentang ilmu mukasyafah………”

  1. Dalam Muqaddimah kitab Minhajul Qashidin, yang merupakan ringkasan kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, Ibnul Jauzi menyatakan,

Ketahuilah bahwa dalam kitab al-Ihya’ terdapat banyak kesalahan-kesalahan yang tidak diketahui kecuali oleh para ulama. Yang paling ringan dari kesalahan tersebut adalah adanya hadits-hadits yang bathil, palsu, dan mauquf, yang terkadang digambarkan sebagai hadits yang marfu’………”

  1.  Berkata adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’,

Pada kitab alIhya’ banyak terdapat hadits-hadits bathil. Sebenarnya di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak, jika sekiranya tidak ada di dalamnya permasalahan adab, etika, zuhud, serta metode para hukama’ dan orang-orang yang menyimpang dari kalangan kaum sufi…”

  1. Berkata Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa,

Di dalamnya terdapat hadits-hadits dan atsar-atsar yang dha’if, bahkan palsu. Terdapat pula banyak permasalahan terkait kesalahan-kesalahan dan kebathilan-kebathilan kaum sufi …..”

  1. Berkata asy-Syaikh al-Albani dalam kitab Silsilah alAhadits adhDhai’fah 1/60,

Betapa banyak di kitab al-Ihya’ dari sekian hadits (palsu) yang dinisbahkan kepada nabi, sementara al-Hafizh al-‘Iraqi dan yang lainnya menyatakan bahwa hadits-hadits tersebut tidak ada asalnya.”

  1. Riwayat yang maqthu’

Adapun riwayat yang maqthu’ (disandarkan kepada seorang tabi’i), di antaranya disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’ pula dengan lafazh:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ مَالِكٍ، ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، قَالَ: ثنا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ الْقَوَارِيرِيُّ، قَالَ: ثنا الْمِنْهَالُ بْنُ عِيسَى الْعَبْدِيُّ، قَالَ: ثنا غَالِبٌ الْقَطَّانُ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْمُزَنِيِّ، قَالَ: «مَنْ يَأْتِيَ الْخَطِيئَةَ وَهُوَ يَضْحَكُ دَخَلَ النَّارَ وَهُوَ يَبْكِي»

Demikian pula disebutkan oleh al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman (6757) dengan lafazh:

وَحَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا، نا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ الْجُشَمِيُّ، نا الْمِنْهَالُ بْنُ عِيسَى، عَنْ غَالِبٌ الْقَطَّانُ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْمُزَنِيِّ، قَالَ: ” إِنَّهُ مَنْ يَأْتِي الْخَطِيئَةَ وَهُوَ يَضْحَكُ يَدْخُلُ النَّارَ وَهُوَ يَبْكِي

Hadits ini disandarkan kepada seorang tabi’i yang bernama Bakr bin Abdillah al-Muzani, sehingga hadits ini diistilahkan dengan hadits maqthu’.

Namun yang perlu diperhatikan bahwa hadits ini, baik yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim maupun al-Baihaqi, semuanya diriwayatkan dari jalan seorang perawi yang bernama al-Minhal bin ‘Isa al-‘Abdi.

Abu Hatim mengatakan bahwa al-Minhal adalah perawi yang majhul (tidak dikenal).

Berkata al-Albani dalam kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (5601 dan 676),

لأن المنهال بن عيسى مجهول؛ كما قال أبو حاتم فيما نقله

ابن علان في تخريجالأذكار ” (5 / 152) عن الحافظ ابن حجر

“Disebabkan al-Minhal bin ‘Isa adalah majhul, sebagaimana ucapan Abu Hatim yang dinukilan oleh Ibnu ‘Allan di takhrij kitab al-Adzkar ( 5/152) dari al-Hafizh Ibnu Hajar.”

Dari sini kita mengetahui bahwa riwayat hadits yang maqthu’ ini adalah riwayat yang lemah, karena di dalam riwayatnya terdapat seorang perawi majhul, yang menyebabkan hadits ini lemah.

Demikian sedikit faidah yang bisa kami sampaikan sebatas kemampuan dan pengetahuan yang ada pada kami. Wallahu a’lam bish shawwab.

Penulis: Abu Abdillah Imam

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *