Tokoh-Tokoh Pemikiran Takfir

Bagikan :

Pemikiran dan gerakan takfir ini terus ada, dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Sejak dulu, pemikiran ekstrim ini selalu diiringi dengan aksi dan tindakan teror terhadap kaum muslimin sendiri, sehingga sekian banyak darah muslimin tertumpah dan jiwa melayang. Pemikiran dan gerakan ini disambut dan diwarisi dengan baik oleh pergerakan-pergerakan Islam, di antaranya:

  • Di Mesir muncul gerakan Al Ikhwanul Muslimun pimpinan Hasan Al Banna,
  • Al Jama’ah Al Islamiyyah pimpinan Dr. ‘Umar ‘Abdurrahman,
  • Jama’atut Takfir wal Hijrah pimpinan Syukri Mushthafa,
  • Di Yordania muncul gerakan Hizbut Tahrir pimpinan Dr. Taqiyyuddin An Nabhani,
  • Di Yaman muncul Jama’atul Jihad Usamah bin Laden.

Bahkan gerakan-gerakan tersebut juga sampai ke Indonesia, antara lain gerakan NII, LDII, juga gerakan ‘Abdullah Sungkar (Ustadz ‘Abdul Halim) dan Abu Bakr Ba’asyir (Ustadz ‘Abdush Shamad), dan masih banyak lagi gerakan neo-khawarij masa kini yang menampilkan pemikiran takfir dengan versi yang bermacam-macam.


Baca Juga: Abdurrahman Abdul Khaliq Hizbiyah dan Kesesatan yang Diwariskannya (Bagian Pertama)


Sayyid Quthb, Tokoh Pemikiran Takfir Yang Banyak Mempengaruhi Aktivis Pergerakan

Salah satu tokoh yang sangat ekstrim dan radikal di dalam mengusung pemikiran-pemikiran takfir pada masa ini adalah Sayyid Quthb, salah satu tokoh besar, sekaligus kader kuat Ikhwanul Muslimin pimpinan Hasan Al Banna. Ia sebarkan sampah-sampah pemikirannya itu melalui buku-bukunya. Yang kini buku-buku tersebut telah tersebar luas dan banyak berpengaruh pada para aktivis pergerakan Islam.

Pemikiran takfir yang diusung oleh Sayyid Quthb ini terlihat dalam sekian banyak kesempatan,di antaranya :

  • Sayyid menghukumi kaum muslimin telah kafir karena mereka tidak berhukum dengan hukum Allah.

Dia berkata:

“…termasuk dalam lingkup masyarakat jahiliyyah adalah masyarakat yang mengaku dirinya muslim. Masyarakat tersebut masuk ke dalam lingkungan ini bukan karena meyakini uluhiyyah kepada selain Allah dan tidak pula karena menghadapkan syi’ar-syi’ar ibadah kepada selain Allah, tetapi mereka masuk ke dalam masyarakat jahiliyyah ini karena tidak beragama dengan ‘peribadatan’ kepada Allah dalam undang-undang kehidupan mereka …”

  • Sayyid Quthb menyatakan bahwa umat Islam telah lenyap

Dia berkata:

“Kita telah mengetahui bahwa kehidupan Islam seperti ini telah berhenti sejak lama di seluruh permukaan bumi. Dan Keberadaan Islam pun telah berhenti …” (Hadhirul Islam wa Mustaqbaluh)

“… sesungguhnya keberadaan agama Islam telah lenyap sejak kelompok terakhir dari kaum muslimin melepaskan pengesaan Allah dalam hakimiyyah dalam kehidupan manusia. Yang demikian adalah ketika mereka meninggalkan berhukum dengan syari’at Allah semata dalam segala aspek kehidupan.” (Al ‘Adalah hal. 183)

  • Sayyid menyatakan bahwa umat Islam telah murtad

Dia berkata:

“… yaitu kemanusiaan seluruhnya, termasuk di dalamnya mereka yang mengulang-ulang di menara-menara adzan di timur atau di barat bumi ini kalimat lailaha illallah tanpa maksud dan tanpa kenyataan.

Mereka paling berat dosanya dan paling keras adzabnya karena mereka telah murtad kepada peribadatan para hamba setelah jelas baginya petunjuk dan karena mereka sebelumnya berada dalam dienullah.” (Fi Zhilalil Qur’an II/1057)

  • Masjid kaum muslimin menurut Sayyid Quthb merupakan tempat peribadatan jahiliyyah.

Dia berkata:

“Demikian pula keadaan di zaman Fir’aun pada masa kini. Di sini Allah mengarahkan kita pada beberapa perkara : ….. menghindari tempat-tempat peribadatan jahiliyyah dan menjadikan rumah-rumah ‘kelompok muslimin’ sebagai masjid yang di sana mereka dapat merasakan keterpisahan mereka dari masyarakat jahiliyyah …” (Fi Zhilalil Qur’an III/1816)

Solusinya bagaimana? Ditegaskan oleh Sayyid: “…kecuali jika mereka memisahkan keyakinan, perasaan, dan juga prinsip hidup mereka dari masyarakat jahiliyyah dan memisahkan diri dari kaumnya. Hingga Allah mengijinkan bagi mereka untuk mendirikan negara Islam yang mereka berpegang padanya. Kalau tidak, maka hendaknya mereka merasakan dengan seluruh perasaannya bahwa mereka sendirilah sebagai umat Islam dan merasakan bahwa apa dan siapa yang di sekitarnya yang tidak masuk kepada apa yang mereka masuki sebagai jahiliyyah dan masyarakat jahiliyyah… ) (Fi Zhilalil Qur’an II/1125).

Inilah solusinya menurut Sayyid Quthb, yaitu menjadi khawarij, mengkafirkan dan memisahkan diri dari umat Islam, dan merasa bahwa hanya dirinya dan orang-orang yang sepaham dengannya sajalah yang muslim.

Mungkin sebagian pembaca akan menyatakan bahwa penilaian terhadap Sayyid Quthb di atas terlalu berlebihan. Jangan terburu mengingkari fakta ini, karena sesungguhnya hal ini juga dibenarkan dan disaksikan tokoh-tokoh besar Ikhwanul Muslimin sendiri, di antaranya:

  • Yusuf Al Qardhawi, ia berkata : “Pada fase ini telah muncul buku-buku karya Sayyid Quthb yang merupakan pemikiran terakhirnya, yaitu pengkafiran terhadap masyarakat dan …, yang demikian itu nampak jelas dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an cet ke-2, Ma’alim Fith Thariq yang kebanyakan diambil dari Azh-Zhilal, Al Islam wa Musykilatul Hadlarah, dsb…”1
  • Farid ‘Abdul Khaliq, ia berkata : “Telah kami singgung dalam pernyataan yang lalu bahwa pemikiran takfir (dewasa ini) bermula dari sebagian pemuda-pemuda Ikhwanul Muslimin yang meringkuk di LP Al Qanathir pada akhir-akhir tahun 50-an awal-awal tahun 60-an yang mereka terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb dan karya-karya tulisnya. Mereka menimba dari karya-karya tulis tersebut bahwa masyarakat ini berada dalam kejahiliyyahan dan pemerintah-pemerintah yang ada ini kafir karena tidak berhukum dengan hukum Allah. Demikian pula rakyatnya karena kerelaan mereka terhadap selain hukum Allah itu.”2

Baca Juga: MAKNA DAN PRINSIP SALAFY


Pemikiran Takfir Melegitimasi Pemberontakan Terhadap Pemerintah Muslimin

Tokoh lain yang juga tidak kalah ekstrim dan radikal adalah Abul A’la Al-Maududi. Masih banyak lagi tokoh-tokoh takfiri yang tulisan-tulisan mereka tersebar luas di berbagai negeri. Tersebarlah pemikiran takfir yang sangat ekstrim dan radikal ini ke seantero dunia Islam dan sangat digandrungi oleh para aktivis-aktivis muda pergerakan Islam yang masih dangkal pemahaman keislamannya dan hanya mendasarkan amalan-amalannya di atas emosi dan semangat saja.

Sehingga lahirlah aktivis-aktivis pergerakan Islam yang sangat radikal dan frontal terhadap pemerintah muslimin. Sampai-sampai sikap berani mengkafirkan pemerintah muslimin ini dijadikan ukuran dan tanda militansi seorang muslim. Siapa yang tidak mengkafirkan pemerintah muslim, atau tokoh-tokoh tertentu, yang ‘tidak berhukum dengan hukum Islam’ –-menurut penilaian mereka— maka masih diragukan militansinya, bahkan bisa-bisa dia dinyatakan agen pemerintah, antek-antek kuffar yang berarti sama pula hukumnya : kafir juga!

Lebih runyam lagi, ketika fitnah pemikiran takfir ini dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok Islam yang berhaluan radikal dan ekstrim di atas untuk melegimitasi dan mengesahkan tindakan pemberontakan terhadap pemerintah muslim dan sebagai landasan untuk bolehnya melakukan peledakan-peledakan -dan berbagai aksi teror lainnya- di negeri-negeri muslimin. Virus ini disebarkan melalui berbagai buku-buku yang ditulis oleh tokoh-tokoh reaksioner dan ‘mujaddid’ -menurut versi mereka- yang laris manis di pasaran bak kacang goreng dan selalu menjadi ‘best seller’ di beberapa negeri.

Termasuk juga virus-virus pemikiran sesat tersebut masuk ke Saudi Arabia dan disambut serta dielu-elukan oleh tokoh-tokoh muda di negeri tersebut, antara lain: Muhammad Surur, Salman Al ‘Audah, A’idh Al Qarni, Safar Al Hawali, dll. Yang pada mulanya mereka tidak berani menampilkan pemikiran-pemikiran busuk tersebut, karena di Saudi banyak para ‘ulama ahlus sunnah yang siap membela dan membentengi dien ini dari berbagai macam pemikiran bid’ah.

Namun ketika terjadi kasus teluk, mereka tidak tahan lagi menyembunyikan itu semua, sehingga merekapun tampil menghujat, melecehkan, dan mengkafirkan pemerintah dan juga para ‘ulamanya. Demikian juga mereka memprovokasi rakyat untuk memprotes, menghujat, dan memberontak terhadap pemerintah muslimin. Maka sejak saat itu terbongkarlah sindikat jaringan gerakan bid’ah -yang mewarisi manhaj dan gerakan khawarij-, yaitu gerakan Al Quthbiyyah.

Sumber: Buku MEREKA ADALAH TERORIS, karya Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, cet, ke-1, hal. 494-498, dengan beberapa perubahan dan penyesuaian


1 Adhwa’ Islamiyyah, hal. 102.

2 Adhwa’ Islamiyyah, hal. 103.

 394 kali dibaca,  1 kali dibaca hari ini

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *