Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الدين النصيحة “, قلنا: لمن؟ قال: “…ولأئمة المسلمين، وعامتهم“
“Agama ini adalah nasihat.”
Para Shahabat bertanya, “Untuk siapakah (nasihat itu)? “
Rasul shallallahu alaihi wa sallam menjawab, (antara lain) “… Untuk para pemimpin kaum muslimin, dan rakyatnya.”
📚 (HR. Muslim)
Nasihat bagi pemimpin atau pemerintah kaum muslimin adalah salah satu bagian prinsip Islam.
Maka termasuk bentuk nasihat yang disyariatkan adalah mendoakan kebaikan bagi pemerintah agar mendapat taufik dan hidayah, serta teman-teman dekat (para menteri, dll) yang baik dan bertaqwa yang mengarahkan pemerintah kepada kebaikan dan ketaqwaan
Bahkan, pemerintah adalah pihak yang lebih berhak untuk didoakan dengan doa kebaikan oleh kita semua sebagai rakyatnya. Do’a untuk pemerintah agar mendapat taufik, hidayah, kebaikan hati dan amalan yang lurus, dan teman-teman dekat (menteri dan para stafnya) yang baik dan bertaqwa, merupakan diantara perkara yang paling penting dan diantara amalan shaleh yang paling utama.
📜Telah diriwayatkan dari al-Imam Ahmad rahimahullah (wafat 241) beliau mengatakan,
لو أعلم أن لي دعوة مستجابة لصرفتها للسلطان
“Kalau seandainya aku tahu bahwa aku memiliki sebuah do’a mustajabah(do’a yang pasti dikabulkan oleh Allah), niscaya akan aku peruntukan do’a mustajabah tersebut untuk (mendo’akan kebaikan bagi) pemerintah.”
📚 (Lihat taujihat asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz di dalam Majmu’ Fatawa wa Maqalat asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz [8/209])
📃Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, seorang ulama terkemuka di masa Tabi’ut Tabi’in (wafat 187 H), juga menyatakan,
لو أن لي دعوة مستجابة ما جعلتها إلا في السلطان. قيل له: يا أبا علي فسر لنا هذا. قال: إذا جعلتها في نفسي لم تعدني، وإذا جعلتها في السلطان صلح، فصلح بصلاحه العباد والبلاد
“Seandainya aku mempunyai sebuah doa yang mustajab, aku tidak akan memanjatkan nya (kepada Allah) kecuali untuk pemimpin negara.”
Ada yang bertanya: ” Wahai Abu Ali (kunyah atau panggilan akrab al-Fudhail), terangkan kepada kami (hakekat) perkara ini! “
Imam Al-Fudhail menjawab: “Jika aku memanjatkan doa mustajab tersebut untuk diriku sendiri, maka (kebaikannya) tidak akan dirasakan kecuali oleh diriku seorang. Tetapi, jika aku panjatkan doa tersebut untuk pemimpin negara, maka akan pemimpin tersebut akan menjadi baik. Sehingga, dengan baiknya pemimpin maka baik pula rakyat dan negeri.”
📚 (Dinukil dari Syarhus Sunnah [hlm. 113], karya Imam al-Barbahari rahimahullah)
Mendoakan kebaikan bagi pemerintah kaum muslimin adalah salah satu tanda dan ciri seorang pengikut sunnah.
Ahlussunnah (pengikut sunnah) akan senantiasa mendoakan kebaikan bagi pemimpin dan pemerintahnya, baik pemerintah itu berlaku adil terhadap rakyatnya, atau pemerintah dianggap zalim dan menindas hak-hak rakyatnya.
Kezaliman pemerintah tidak menghalangi seorang muslim sebagai rakyat untuk memanjatkan doa kebaikan bagi pemerintah. Sebab, kezaliman penguasa dosanya menjadi tanggungan mereka sendiri. Adapun kebaikan penguasa, maka itu untuk diri mereka sendiri dan untuk seluruh rakyatnya.
Oleh karena itu, seorang ulama besar dari negeri Baghdad, Imam al-Barbahari (wafat 329 H) rahimahullah menyatakan,
فأمرنا أن ندعو لهم بالصلاح؛ وما أمرنا ان ندعو عليهم وإن جاروا؛ لان ظلمهم وجورهم على أنفسهم، وصلاحهم لأنفسهم وللمسلمين
“Maka kita diperintahkan agar mendoakan kebaikan untuk mereka (para pemimpin). Dan kita tidak pernah diperintahkan mendoakan kejelekan untuk mereka, meskipun mereka berlaku lalim.
Sebab, kedzaliman dan kelaliman pemerintah tersebut (akibatnya) adalah akan merugikan diri mereka sendiri. Sementara kebaikan mereka akan dirasakan oleh mereka sendiri dan seluruh kaum muslimin (rakyat).”
📚 ( Syarhus Sunnah, hlm. 113 )
Sebaliknya, mendoakan kejelekan bagi pemerintah adalah tanda dan ciri pengikut hawa nafsu (ahlul bid’ah). Sebagaimana kembali dikemukakan oleh Imam al-Barbahari rahimahullah,
وإذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى، وإذا رأيت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله
“Apabila anda melihat seorang mendoakan kejelekan untuk pemimpin, ketahuilah, bahwa dia seorang pengekor hawa nafsu. Dan apabila anda melihat seorang mendoakan kebaikan untuk pemimpin, ketahuilah, bahwa dia adalah pengikut sunnah, InsyaAllah. “
📚 ( Syarhus Sunnah, hlm. 113 )
Oleh karena itu, kami menghasung kepada seluruh kaum muslimin di mana pun anda berada, untuk banyak-banyak mendoakan kebaikan bagi pemerintah, serta tidak jemu untuk meminta taufik dan hidayah kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala bagi pemerintah.
