Definisi Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in

Bagikan :

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyebutkan tentang definisi Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in di dalam hadits-haditsnya sehingga batasan dan definisinya jelas. Jadi kita tidak bisa serampangan. Berikut sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

خير أمتي قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

“Sebaik-baik umatku adalah generasiku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (Muttafaqun ‘alaihi dari sahabat Watsilah bin al-Asqa’)

Beliau juga bersabda dalam sebuah hadis dari sahabat Watsilah bin al-Atsqa’, Dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لا تزالون بخير ما دام فيكم من رآني وصاحبني، والله! لا تزالون بخير ما دام فيكم من رأى من رآني وصاحب من صاحبني، والله! لا تزالون بخير ما دام فيكم من رأى من رأى من رآني وصاحب من صاحب من صاحبني.

“Kalian akan senantiasa dalam kebaikan selama di tengah-tengah kalian masih didapati orang yang pernah melihatku dan bersahabat denganku. Demi Allah kalian senantiasa dalam kebaikan selama di tengah-tengah kalian masih didapati orang yang melihat orang yang pernah melihatku dan bersahabat dengan orang yang pernah bersahabat denganku. Demi Allah kalian senantiasa dalam kebaikan selama di tengah-tengah kalian masih didapati orang yang melihat orang yang pernah melihat orang yang pernah melihatku dan bersahabat dengan orang yang pernah bersahabat dengan orang yang pernah bersahabat denganku. “ (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Abi ‘Ashim)

Sehingga para ulama menyimpulkan sebagai berikut:

  • Sahabat adalah orang-orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam walau hanya sebentar dan beriman kepada beliau shallallahu alaihi wasallam beserta wafat di atas Islam.
  • Tabi’in adalah orang-orang beriman kepada nabi shallallahu alaihi wasallam namun tidak bertemu dan tidak sezaman dengan beliau tapi bertemu dan belajar agama dari para sahabat nabi serta wafat dalam keadaan beriman.
  • Tabi’ut Tabi’in adalah: orang-orang beriman yang tidak bertemu dan tidak sezaman dengan sahabat nabi, tetapi bertemu dan belajar ilmu dari para murid sahabat (Tabi’in) dan wafat dalam keadaan beriman.

Itulah definisi dari masing-masing generasi tersebut. Sehingga tolak ukur yang paling penting adalah bertemu, bukan hanya sekedar sezaman karena bisa jadi sezaman dengan tabi’in misalnya, namun tidak pernah bertemu dengan seorang pun dari generasi sahabat, maka dia tidak termasuk generasi tabi’in. Contohnya adalah:

  • Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij yang dikenal dengan sebutan Ibnu Juraij (w. 150 H)
  • Sa’id bin Abi Hilal (w. 135/133/149 H) dan
  • Suhail bin Abi Shalih (w….)

Demikian juga seorang yang tidak pernah bertemu dengan tabi’in, maka dia tidak digolongkan sebagai tabi’ut tabi’in. Contohnya adalah:

  • al-Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)
  • Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H), dan
  • Zuhair bin Harb (w. 234 H).

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *