Bagian 1
Komunitas Salafi yang kerap dijuluki Wahabi oleh pihak-pihak tertentu, sering menjadi sasaran tuduhan miring tak mendasar oleh kaum orientalis dan liberalis khususnya, kemudian pihak-pihak yang terkontaminasi oleh pola pikir dan sikap mereka.
Di antara tuduhan miring tersebut antara lain:
Salafi mengajarkan kebencian dan penentangan terhadap pemerintah yang sah.
Benarkah demikian?
Untuk mengetahui jawaban yang terbimbing, tentu harus merujuk kepada sumber-sumber asli karya ulama Salafi yang bisa dipertanggungjawabkan validitasnya, bukan kepada sumber-sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, apalagi hanya isu atau kabar yang tidak jelas asal usulnya.
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab (wafat 1206 H) adalah seorang ulama ternama yang sering menjadi sasaran tuduhan tak mendasar. Dalam salah satu kitab karya beliau yang berjudul “Masail Al-Jahiliyyah”, sebuah kitab yang beliau tulis untuk menjelaskan tentang karakter tercela generasi jahiliyah, yang baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang keras umat Islam untuk meniru jejak mereka.
Beliau menyebutkan dalam kitab tersebut,
الثالثة: أن مخالفة ولي الأمر وعدم الانقياد له فضيلة، والسمع والطاعة ذل ومهانة، فخالفهم رسول الله صلى الله عليهوسلم، وأمر بالصبر على جور الولاة، وأمر بالسمع والطاعة لهم والنصيحة ،وغلظ في ذلك وأبدى وأعاد .اهـ
Ketiga: (Kaum Jahiliyah berkeyakinan) bahwa membangkang dan sikap tidak patuh kepada pemerintah adalah sebuah keutamaan, sementara sikap patuh dan taat (kepada pemerintah) adalah sebagai sebuah kerendahan dan kehinaan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyelisihi kaum jahiliyah tersebut dan memerintahkan (umat Islam) untuk bersabar atas kekejaman penguasa, dan agar tetap patuh dan taat kepada pemerintah, serta juga hendaknya berupaya memberi nasehat kepada penguasa tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menekankan permasalahan ini secara tegas dan menampakkannya secara gamblang ,serta mengulang-ulangnya (dalam banyak kesempatan).
Selesai
Bagi yang membaca pernyataan di atas dengan penuh sportivitas dan objektivitas, serta jauh dari unsur kebencian, dan benar-benar menginginkan kebaikan untuk bangsa dan negara ini, insya Allah akan dapat menyimpulkan bahwa akidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan prinsip Salafi adalah mengajak umat beserta seluruh mayarakat untuk menciptakan stabilitas keamanan, dan menjaga wibawa negara dan pemerintahnya melalui prinsip as-Sam’u wath-Tha’ah (mendengar dan taat kepada pemerintah).
Kemudian al-Imam Abul Ma’aly Mahmud Syukri al-Alusi, seorang ulama dan pakar tafsir terkemuka dari negeri Baghdad, Irak (wafat 1342 H), dalam kitab karyanya yang berjudul “Fashlul Khithab”, yang beliau tulis khusus untuk menjelaskan isi kitab Masail Al-Jahiliyyah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab di atas, beliau mengatakan,
وروى البخاري عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال «مَن كَرهَ مِنْ أميره شَيْئا، فلْيصْبرْ، فإِنه مَنْ خَرجَ مِنَ
»السُّلطانِ شِبْـرا، ماتَ مِيْتةً جاهِليةً
Dan telah diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,
“Barangsiapa mendapatkan suatu perkara yang dia benci pada pemerintahnya, maka hendaknya dia bersabar (tidak menentangnya), karena barang siapa yang keluar dari (ketaatan) pemerintahnya walau sejengkal, (kemudian dia mati), maka matinya dalam keadaan jahiliyah.”
Kemudian beliau menyebutkan dalil hadits dari sahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata,
دعانا النبي صلى الله عليه وسلم فبايعنا, فكان فيما أخذ علينا: أن بايعنا على السمع والطاعة في منشطنا ومكرهناوعسرنا ويسرنا وأثرة علينا, وأن لا ننازع الأمر أهله.”..
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil kami, kemudian kami pun segera membaiat (mengucapkan ikrar sumpah setia) kepada beliau, dan di antara permasalahan yang beliau mengambil baiat dari kami adalah: kami bersumpah setia untuk tetap patuh dan taat (kepada pemerintah), baik dalam keadaan kami suka atau tidak suka, dalam keadaan sulit maupun mudah, serta (tetap patuh dan taat) walaupun kami mendapati egoisme pemerintah (sikap mementingkan diri sendiri dan melupakan rakyat), dan (berjanji setia) untuk kami tidak mencabut kekuasaan dari penguasa yang sah…”
Kemudian beliau menegaskan,
الأحاديث الصحيحة في هذا الباب كثيرة، ولم يقع خلل في دين الناس أو دنياهم إلا من خلال الإخلال بهذه الوصية.
Hadits-hadits yang shahih dalam permasalahan ini (yaitu kewajiban taat dan patuh kepada pemerintah) banyak sekali, serta tidaklah terjadi instabilitas (kekacauan) pada urusan agama dan dunia masyarakat melainkan disebabkan oleh pelanggaran terhadap wasiat (baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) dalam perkara ini.
Selesai
Sehingga dengan ini, kita tahu bahwa salah satu prinsip penting Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan ulama Salafi lainnya, yang selalu mereka ajarkan kepada umat adalah mengajak masyarakat setiap negara untuk bersikap taat dan patuh kepada pemerintahnya, serta melarang mereka dari perbuatan menentang apalagi memberontak kepada pemerintah yang berkuasa.
Alhamdulillah
