Ilmu Tauhid ini merupakan landasan yang dibangun di atasnya amalan-amalan shalih. Hal inilah prioritas dakwah para nabi dan para rasul, termasuk nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alahi wassalam.
Tauhid merupakan sebuah pohon di dalam hati yang cabangnya adalah amalan yang shalih dan buahnya adalah kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ () تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap saat dengan seizin Rabb-nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (Ibrahim: 24-25)
Dakwah Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya adalah dakwah tauhid dan tidak pernah beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam lepas dari hal ini. Dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam diawali dengan tauhid, diiringi dengan tauhid dan diakhiri pula dengan tauhid.
Al-Imam Abu ‘Abdillah ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al-’Ukbari rahimahullah (wafat tahun 387 H) dalam karya besarnya yang berjudul Al-Ibanah al-Kubra, mengatakan:
“Bahwa dasar iman kepada Allah yang wajib atas makhluk (manusia dan jin) untuk meyakininya dalam menetapkan keimanan kepada-Nya, ada tiga hal:
1. Pertama: Seorang hamba harus meyakini Rububiyyah-Nya, yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan atheis yang tidak menetapkan (mengingkari) adanya pencipta.
2. Kedua: Seorang hamba harus meyakini Wahdaniyyah-Nya (Uluhiyyah-Nya), yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan jalannya orang-orang musyrik yang mengakui sang Pencipta namun menyekutukan-Nya dengan selain-Nya dalam peribadahan.
3. Ketiga: Meyakini bahwa Dia (Allah) bersifat dengan sifat-sifat (kesempurnaan) yang Dia harus bersifat dengannya, berupa sifat Ilmu, Qudrah, Hikmah, dan semua sifat yang Dia menyifati diri-Nya dalam kitab-Nya.”
al-Ibanah ‘an Syari’ati al-Firqah an-Najiyah 2/172-173
قال الإمام أبو عبد الله عبيد الله بن محمد بن بطه العكبري المتوفى سنة ٣٨٧ هـ في كتابه « الإبانة الكبرى »
وذلك أنّ أصل الإيمان بالله الذي يجب على الخلق اعتقاده في إثبات الإيمان به ثلاثة أشياء :
أحدها : أن يعتقد العبد ربانيته ليكون بذلك مبايناً لمذهب أهل التعطيل الذين لا يثبتون صانعاً
والثاني : أن يعتقد وحدانيته ليكون مبايناً بذلك مذاهب أهل الشرك الذين أقروا بالصانع وأشركوا معه في العبادة غيره
والثالث : أن يعتقده موصوفاً بالصفات التي لا يجوز إلا أن يكون موصوفاً بها من العلم والقدرة والحكمة وسائر ما وصف به نفسه في كتابه “
« الإبانة عن شريعة الفرقة الناجية » ٢ / ١٧٢ – ١٧٣
Oleh karena itu kami menyajikan untuk anda audio pembahasan Tauhid. Pembahasan ini disadur dari kitak At Tauhid karya Al Imam Al Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdi rahimahullahu. Bersama : Al Ustadz Luqman Ba’abduh Hafizhahullahu
Link Unduh Semua File (30 File Audio) : https://goo.gl/U5JxBJ
Pembahasan Kitab At Tauhid
*Jika ada link yang salah/rusak mohon sampaikan di kolom komentar. Jazakumullahu khairan.

Assaalmu`alaikum…
Alhamdulillah dengan adanya web ini, sya bisa mendowload audio2 rekaman yang insya Alloh bermanfaat bagi saya.
Untuk rekaman audio kitab tauhid, apakah saya bisa mendapatkan rekaman nomor 8,9, 12, 13, dan 34?
Jazakumulloh khoir
bismillah. afwan ayat yang di surat Ibrohim terbalik posisinya. barokAllohufiikum
Alhamdulillah sudah kami perbaiki. Jazakallahu khairan, antum telah mengingatkan.