Hukum Mengeraskan Suara Bacaan Al-Qur’an Untuk Mengingatkan/Menasihati Manusia di Sekitarnya

Bagikan :

Ada pertanyaan dari saudara kita sebagai berikut:

Ustadz, apa hukum membaca al-Qur’an menggunakan mikrofon masjid dengan tujuan menampakkan syi’ar Islam dan agar diketahui bahwa di masjid sedang ada kegiatan, karena di sebelah masjid ada tetangga yang menyetel musik dengan keras yang sangat mengganggu.

Jawaban:

Permasalahan hukum amalan ini bergantung atau ditentukan oleh niat dan tujuannya, sebagaimana sering disebutkan oleh fuqaha (para pakar fiqih):

الأمور بمقاصدها

“Hukum berbagai perkara dipengaruhi oleh niat/tujuan dilakukannya.”

Jika tujuannya seperti yang disebutkan, yaitu:

  1. Dalam rangka izh-har (menampakkan) adanya majelis ilmu agama yang mulia kepada lingkungan, dan untuk memberi tasyji’/semangat belajar al-Qur’an dan ilmu diin (agama).
  2. Dalam rangka menghentikan kebiasaan mungkar sebagian tetangga masjid sebagaimana yang disebutkan dalam pertanyaan,

Maka hukumnya boleh insya Allah. Wallahu a’lam.

Berikut ini kami sajikan fatwa ulama senior sekaligus pakar fikih dan akidah pertengahan abad ke-14 hingga awal abad ke-15 hijriah, yaitu al-Imam al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, dengan tujuan sebagai penguat artikel yang kami tampilkan sebelumnya (yaitu tentang Hukum Mengeraskan Suara Bacaan Al-Qur’an Untuk Mengingatkan/Menasihati Manusia di Sekitarnya).

Fatwa beliau tersebut berjudul:

حكم قراءة القرآن بصوت عال داخل المسجد من أجل الموعظة.

Hukum Membaca al-Qur’an Dengan Suara Nyaring di dalam Masjid dengan Tujuan Sebagai Nasihat

Pertanyaan yang diajukan kepada beliau sebagai berikut:

رجل له صوت جميل، ويريد أن يقرأ القرآن الكريم للناس في المساجد أو في غيرها؛ من أجل أن يدخل الرقة في قلوبهم، هل هذا يعد من الرياء؟ جزاكم الله خيرا

Seorang pria memiliki suara yang merdu, dia ingin memperdengarkan bacaan al-Quran kepada orang-orang yang berada di dalam masjid atau di tempat lainnya, dengan tujuan untuk melembutkan hati mereka, apakah amalan ini tergolong perbuatan riya’ (pamer amalan)? Jazakumullahu khairan.

Beliau menjawab:

ليس من الرياء، إذا قصد الخير وأراد أن يسمعهم القرآن لترق قلوبهم ويستفيدوا لا حرج، أما إذا قصد الرياء فلا يجوز.

“Perbuatan itu bukan tergolong riya’, jika dia bermaksud untuk suatu kebaikan, dan bertujuan memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada mereka agar hati mereka menjadi lembut, dan agar mereka dapat mengambil manfaat ilmu (nasehat), maka amalan tersebut boleh. Tetapi apabila tujuannya adalah riya’ (pamer amalan), maka tidak boleh.”

📚 Dikutip dari kitab Fatawa Nur ‘Alad Darb, karya al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz (11/330).

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *