Judul di atas bersumber dari pertanyaan salah satu jama’ah haji 1447 H.
Untuk menjawabnya kami kutipkan fatwa dua ulama kibar (senior) dan terkemuka Abad ini.
1. Fatwa al-Imam Abdul Aziz bin Baz
Dalam kitab Fatawa Arkanil Islam hal. 534.
Beliau mengatakan,
وإذا أتاها الحيض بعد السعي فلا يجب عليها طواف الوداع حينئذ، لأن طواف الوداع يسقط عن الحائض.
“Apabila haid datang kepadanya setelah selesai sa’i (yaitu pasca Thawaf Ifadhah), maka pada saat itu ia tidak wajib melakukan Thawaf Wada’, karena Thawaf Wada’ gugur (tidak diwajibkan) bagi wanita yang sedang haid.”
2. Fatwa al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin
Dalam kitab Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb Lil ‘Utsaimin, juz 12 hal. 2.
Beliau ditanya tentang seorang wanita yang haidh sebelum melakukan Thawaf Wada’. Maka beliau menjawab,
الحائض والنفساء لا يجب عليهما طواف الوداع لحديث ابن عباس رضي الله عنهما قال (أمر الناس أن يكون آخر عهدهم بالبيت إلا أنه خفف عن الحائض) وفي الصحيحين من حديث صفية بنت حيي رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم أرادها فقيل إنها حائض فقال (أحابستنا هي) قالوا إنها قد أفاضت قال (فلتنفر إذا) فالحائض ليس عليها وداع لا في حج ولا عمرة. انتهى.
“Wanita yang sedang haid dan nifas tidak wajib melakukan Thawaf Wada’.
Hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,
‘Manusia (jama’ah haji) diperintahkan agar menjadikan akhir ibadah mereka (sebelum meninggalkan Makkah) adalah Thawaf di Baitullah, hanya saja diberikan keringanan bagi wanita yang sedang haid (untuk tidak thawaf wada’).’
(Juga hadits) Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari hadits Shafiyyah binti Huyayy radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ingin menggaulinya1, lalu dikatakan kepada beliau bahwa Shafiyyah sedang haidh. Maka beliau bersabda,
‘Apakah dia akan menahan (kepulangan) kita?’
Mereka menjawab,
‘Sesungguhnya dia telah melakukan Thawaf Ifadhah.’
Maka beliau bersabda,
‘Kalau begitu, hendaklah dia (Shafiyyah) berangkat (untuk pulang).’
Oleh karena itu, wanita yang sedang haid tidak wajib melakukan Thawaf Wada’, baik dalam haji maupun umrah.”
Selesai kutipan
Catatan
- Hadits Ibnu Abbas diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab al-Hajj, Bab Thawaf Wada’ (2/624), no. 1668. Dan diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab al-Hajj, Bab Wajibnya Thawaf Wada’ dan gugurnya kewajiban tersebut bagi wanita haid, (2/963).
- Hadits Shafiyyah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Bab Apabila seorang wanita mengalami haid setelah melakukan Thawaf Ifadhah (2/624), no. 1668, dan Muslim dalam Bab Wajibnya Thawaf Wada’ dan gugurnya kewajiban tersebut bagi wanita haid, (2/963), no. 1328.
- Hal ini sebagaimana riwayat lain yang disebutkan oleh al-Imam al-Albani dalam al-Irwa’, dalam penjelasan hadits no. 1069:
ثم أخرجه البخارى (١/٤٣٤) وأحمد (٦/١٨٥) من طريقين آخرين عن أبى سلمة وحده وفيه عند البخارى: ” فأراد النبى صلى الله عليه وسلم منها ما يريد الرجل من أهله , فقلت: يا رسول الله إنها حائض.. “..
“Kemudian hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1/434) dan Ahmad (6/185) melalui dua jalur lain dari Abu Salamah saja.
Dalam riwayat Al-Bukhari terdapat lafazh:
‘Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menginginkan darinya (hubungan suami istri) sebagaimana yang biasa diinginkan seorang suami dari istrinya. Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ia sedang haid…”‘
