Ada pertanyaan sebagai berikut:
Jika seseorang pergi umrah kemudian ikut berpuasa bersama keputusan pemerintah kerajaan Arab Saudi pada hari Rabu.
Lalu di pertengahan bulan, dia pulang ke Indonesia yang memulai puasa hari Kamis atau terlambat satu hari dalam memulai puasa Ramadhan.
Pada akhir bulan, ketika di Indonesia berpuasa 30 hari, apakah dia tetap berpuasa bersama pemerintah Indonesia, sehingga total puasanya menjadi 31 hari?
Jawaban
Dia harus tetap berpuasa, dan tidak boleh berbuka sampai muslimin Indonesia berbuka mengikuti keputusan rukyatul hilal pemerintah Indonesia,
walaupun terpaksa berpuasa 31 hari.
Berikut kami kutipkan fatwa al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah saat menjawab pertanyaan berikut:
أنا من شرق آسيا، عندنا الشهر الهجري يتأخر عن المملكة العربية السعودية بيوم، وسأسافر إلى بلدي في رمضان، وقد بدأت الصوم في المملكة، وفي نهاية الشهر نكون قد صمنا واحدا وثلاثين يوماً، فما حكم صيامنا؟ وكم يوماً نصوم؟
“Saya berasal dari Asia Timur. Di tempat kami, awal bulan Hijriyah terlambat satu hari dibanding Arab Saudi.
Saya akan pulang ke negara saya pada bulan Ramadhan, sementara saya memulai puasa di Saudi.
Di akhir bulan nanti, kami menjadi berpuasa 31 hari. Apa hukum puasa kami? Berapa hari kami harus berpuasa?”
Beliau Menjawab:
إذا صمتم في السعودية أو غيرها ثم صمتم بقية الشهر في بلادكم فأفطروا بإفطارهم، ولو زاد ذلك على ثلاثين يوماً، لقول النبي صلى الله عليه وسلم:
الصوم يوم تصومون، والفطر يوم تفطرون
لكن إن لم تكملوا الشهر تسعة وعشرين يوما فعليكم إكمال ذلك، لأن الشهر لا ينقص عن تسع وعشرين “انتهى.
“مجموع فتاوى ومقالات متنوعة – ابن باز” (١٥/ ١٥٥ – ١٥٦).
“Jika kalian (mengawali) berpuasa di Arab Saudi atau selainnya, lalu melanjutkannya di sisa hari pada bulan ini di negeri kalian,
maka beridul Fitri-lah mengikuti waktu Idul Fitri mereka (kaum muslimin negeri kalian), meskipun hal itu menyebabkan jumlah puasa kalian lebih dari 30 hari.Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Puasa itu adalah pada hari kalian berpuasa, dan beridul Fitri itu pada hari kalian beridul Fitri.”
Namun, jika kalian belum menyempurnakan 29 hari, maka wajib menyempurnakannya, karena jumlah hari dalam satu bulan (hijriyah) tidak mungkin kurang dari 29 hari.”
-Selesai, dari kitab Majmu‘ Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz, (15/155 – 156)-
Fatwa yang sama juga ditegaskan oleh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah dalam beberapa karya beliau,
antara lain dalam kitab “Majmu’ Fatawa wa Rasail al-‘Utsaimin, (19/65)”, juga kitab “Fatawa Arkanil Islam” hal. 453.
