Bid’ah, Tercampur Padanya Kebenaran dan Kebatilan

Bagikan :

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata,

فإن البدعة لو كانت باطلا محضا لما قبلت ولبادر كل أحد إلى ردها وإنكارها، ولو كانت حقا محضا لم تكن بدعة وكانت موافقة للسنة ولكنها تشتمل على حق وباطل ويلتبس فيها الحق بالباطل كما قال تعالى: وَلَا تَلْبِسُوا۟ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَٰطِلِ وَتَكْتُمُوا۟ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya kalau bid’ah itu tampak kelihatan murni kebatilan, niscaya tidak akan diterima oleh manusia, setiap orang pasti akan segera menolak dan mengingkarinya.

Kalau bid’ah itu murni berupa kebenaran, maka itu bukan bid’ah, tapi perkara yang sesuai dengan sunnah.

Namun, bid’ah itu mengandung kebenaran dan kebatilan. Kebenaran di dalamnya tercampur adukkan dengan kebatilan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَلْبِسُوا۟ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَٰطِلِ وَتَكْتُمُوا۟ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kalian campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kalian sembunyikan yang hak itu, sedang kalian mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 42)

[Ash-Shawa’iq al-Mursalah, (3/926]

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *