Wafat Meninggalkan Hutang Puasa dan Shalat Siapa yang Membayar?

Bagikan :

Sebuah pertanyaan diajukan kepada al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin (wafat 1421 H). Pertanyaan dan jawabannya mengandung beberapa permasalahan penting sekaligus, yaitu:

  • Apakah tanggungan shalat si mayit juga diqada/dibayar oleh wali/keluarganya sebagaimana
  • tanggungan hutang puasa?
  • Siapa saja yang masuk dalam katagori “Wali” dalam konteks permasalahan ini?
  • Bolehkah selain keluarga berta’awun/membantu mengqada untuk si mayit?
  • Jika tidak ada seorangpun dari keluaraga atau selainnya yang bisa mengqada hutang puasamayit, apa solusinya?

Mari kita ikuti dengan seksama pertanyaan yang diajukan kepada al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin beserta jawaban/fatwa beliau berikut ini:

Pertanyaan: Jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan memiliki tanggungan hutang puasa dan shalat, maka siapa yang disyari’atkan membayarnya?

Beliau menjawab:

مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين – (ج 17 / ص 290-291)

سئل فضيلة الشيخ رحمه الله تعالى : إذا مات الإنسان وعليه صيام وصلاة فمن يقضيهما عنه؟

من مات وعليه : فأجاب فضيلته بقوله: إذا مات الإنسان وعليه صيام فإنه يصوم عنه وليه، لقول النبي صلى الله عليه وسلم صيام صام عنه وليه.

قال أهل العلم: وليه وارثه، فمثلاً إذا كان رجل قد أفطر في رمضان لسفر أو لمرض ثم عافاه الله من المرض ولم يصم القضاء الذي عليه ثم مات، فإن وليه يصوم عنه، سواء كان ابنه، أو أباه، أو أمه، أو ابنته، المهم أن يكون من الورثة، وإن تبرع أحد غير الورثة فلا حرج أيضاً، وإن لم يقم أحد بالصيام عنه فإنه يطعم من تركته لكل يوم مسكيناً.

وأما الصلاة فإنه إذا مات أحد وعليه صلاة فإنها لا تصلى عنه، لأن ذلك لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم، ولا يصح قياس الصلاة على الصوم، لأن الشارع فرق بينهما في مسائل كثيرة، فلما جاء الفرق بينهما في مسائل كثيرة لم يمكن قياس أحدهما على الآخر، لكن إذا مات الإنسان وعليه صلاة لم يقضها فإنه يدعى له بالمغفرة والرحمة والعفو عن تفريطه وإهماله.والله الموفق.

Jika seseorang wafat dalam kondisi meninggalkan tanggungan puasa maka yang berpuasa untuk menggantikannya adalah walinya, berdasarkan sabda Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam –

“Barang siapa wafat dalam keadaan dia meniggalkan tanggungan puasa, maka walinya yang berpuasa menggantikannya”

Para ulama berkata, bahwa maksud “walinya” (dalam konteks ini) adalah para ahli warisnya, yaitu jika seseorang berbuka pada bulan Ramadhan disebabkan perjalanan safar atau karena sakit kemudian Allah sembuhkan dia dari penyakit tersebut tetapi dia belum sempat mengqada tanggungan puasanya, maka wali (ahli waris)nya yang berpuasa untuk menggantikannya, baik wali/ahli waris tersebut adalah putranya, atau ayahnya, atau ibunya, atau putrinya, yang penting dia adalah bagian dari ahli waris.

Jika ada seseorang selain ahli waris yang ingin bersumbangsih ikut berpuasa maka boleh juga. Tetapi jika tidak ada seorang pun (baik ahli waris atau bukan) yang bisa mengqada/menggantikan tanggungan puasa si mayit maka dengan memberi makan (fidyah) yang (biayanya) diambil dari harta peninggalannya untuk setiap hari (dari bilangan hutang puasanya) memberi makan satu orang miskin.

Sementara terkait shalat, jika seseorang wafat dalam keadaan memiliki tanggungan shalat, maka tidak diqada/tidak digantikan untuk si mayit, karena hal itu tidak ada dalil dari Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam -, dan tidak dibenarkan pengkiasan (penyamaan) shalat dengan puasa

(Juga) Karena sang penentu syari’at (Allah dan Rasul-Nya) telah membedakan antar keduanya (shalat dan puasa) dalam banyak halnya, maka ketika telah datang unsur-unsur pembeda antar keduanya dalam banyak sisinya tidak boleh dikiaskan salah satunya dengan yang lain.

Tetapi ketika seseorang wafat dalam keadaan memiliki tanggungan shalat kemudian tidak diqada, maka dimohonkan untuknya ampunan dan rahmat serta pemaafan terhadap sikap mengentengkan dan menelantarkannya. Dan Allah yang maha memberi taufiq.

Dikutip dari kitab “Kumpulan Fatwa Dan Karya Ibnu Utsaimin” (17/ 290-291)

Selesai

**********

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *