Aku (asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah) akan membahas Tauhid Uluhiyyah karena dua alasan, yaitu:
Pertama:
Tauhid Uluhiyyah merupakan sisi terpenting dari seluruh dakwah para Rasul ‘alaihimussalam sebagaimana yang telah dipaparkan al-Qur’an kepada kita. Tauhid Uluhiyyah merupakan perkara yang menjadi perseteruan antara para Nabi dan musuh-musuhnya dari kalangan orang-orang yang angkuh dan penentang dari setiap umat mereka.
Perseteruan itu terus berlangsung hingga sekarang, dan bisa jadi akan tetap berlanjut hingga hari kiamat nanti sebagai ujian, cobaan, dan pengangkat derajat pewaris para rasul ‘alaihimussalam.
Kedua:
Bahwa penyimpangan paling berbahaya, paling berat, dan paling sulit yang menimpa kaum muslimin di belahan bumi timur maupun barat adalah perkara ini (Tauhid Uluhiyyah). Penyimpangan ini telah menimpa kebanyakan kaum muslimin yang jahil, dan banyak juga menimpa kalangan orang-orang berpendidikan dan yang menisbatkan kepada ilmu.
Baca juga: Manhaj Para Nabi dalam Berdakwah di Jalan Allah
Maka marilah kita mulai mengupas pembahasan dakwah para nabi ‘alaihimussalam yang bersifat umum, kemudian kita membahas dakwah sebagian mereka yang bersifat khusus.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (36)
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).“ (QS. an-Nahl: 36)
Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ (25)
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kalian kepada-Ku.” (QS. al-Anbiya’: 25)
Setelah menyebutkan kisah beberapa Nabi ‘alaihimush shalatu wassalam, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ (92)
“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kalian semua; agama yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kalian kepada-Ku.” (QS. al-Anbiya’: 92)
Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman,
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ (51) وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ (52)
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kalian semua, agama yang satu, dan Aku adalah Rabb kalian, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. al-Mu’minun: 51-52)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Mujahid, Said bin Zubair, Qatadah, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan firman Allah Subhanahu Wata’ala: “Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kalian semua, agama yang satu.” Yakni bahwa agama kalian adalah satu.[1]
Makna dua ayat di atas disebutkan di dalam as-Sunnah, yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ.
“Aku adalah orang yang paling berhak terhadap ‘Isa bin Maryam ‘alaihimassalam di dunia dan akhirat. Para Nabi itu adalah saudara seayah dari ibu yang berbeda-beda, dan agama mereka adalah satu.”[2]
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman tentang Ulul ‘Azmi dari kalangan para Rasul ‘alaihimussalam,
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (13)
“Dia telah mensyari’atkan bagi kalian tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kalian seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).“ (QS. asy-Syura: 13)
Itulah dakwah para nabi ‘alaihimussalam semuanya, para pemukanya adalah Ulul ‘Azmi. Para nabi ‘alaihimussalam yang jumlahnya mencapai 124.000 itu berjalan di atas manhaj yang satu dalam dakwah mereka dan memulainya pun dari dasar yang sama, yaitu tauhid, perkara dan dasar terpenting yang mereka pikul untuk disampaikan kepada umat manusia seluruhnya di setiap generasi yang beranekaragam tempat tinggal, negeri, dan masanya.
Ini semua menunjukkan bahwa tauhid merupakan jalan satu-satunya yang harus ditempuh dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Menunjukkan pula bahwa tauhid merupakan jalan yang telah digariskan oleh Allah untuk para nabi-Nya dan para pengikutnya yang jujur. Tidak boleh diubah dan berpaling darinya.
Diterjemahkan dari: Manhajul Anbiya’ fi ad-Da’wah ilallah fihi al-Hikmah wal ‘Aql, hal. 38-40
[1] Tafsir Ibnu Katsir, (5/365).
[2] HR. al-Bukhari, Muslim.
