Hukum Melempar Jumrah Sebelum Matahari Tergelincir Pada Hari-Hari Tasyriq

Bagikan :

Ada pertanyaan dari salah satu jamaah haji Indonesia tahun ini (1446):

Kami melakukan lempar jumrah di pagi hari, jauh sebelum waktu Zawal (Zhuhur). Apakah lempar jamarat kami sah? Apa yang harus kami lakukan?

Jawaban:

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kami kutipkan jawaban atau fatwa beberapa ulama senior, antara lain:

  1. Fatwa asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafidzahullah ta’ala

ومن يرمي قبل الزوال فإنه لا يرمي معه، وإنما يرمي بعد الزوال، لأن الرمي قبل الزوال لا يجوز ولا يصح ، فمن رمى قبل الزوال يجب عليه أن يعيده بعد الزوال، وإن لم يعده فإنه لم يرم، وهو كالذي يصلي الظهر قبل الزوال لا تصح صلاته، فكذلك الذي يرمي قبل الزوال لا يصح رميه، لأن النبي صلى الله عليه وسلم جلس في منى ثلاثة أيام متوالية وفي كلها ينتظر الشمس حتى تزول ثم يرمي، حتى في اليوم الثالث عشر انتظر حتى زالت الشمس ثم رمى، ولو كان الرمي قبل الزوال جائزاً لفعله النبي صلى الله عليه وسلم في يوم واحد من الأيام الثلاثة، حتى يبين أنه جائز، لكن كونه يتحرى الزوال في أيام ثلاثة متوالية فإنه يدل على أن الرمي قبل الزوال لا يجوز، وأن من رمى قبله فعليه أن يعيد، وإن لم يعد فإنه لم يرم وعليه فدية، وهي شاة يذبحها في مكة ويوزعها على فقراء الحرم إن استطاع، وإلا صام عشرة أيام مكانها.

Terjemah:

“Barang siapa yang melempar jumrah sebelum matahari tergelincir (zawal), maka lemparannya tidak sah. Lemparan jumrah hanya sah jika dilakukan setelah matahari tergelincir (zawal). Sebab, melempar jumrah sebelum zawal tidak diperbolehkan dan tidak sah. Maka dari itu, barang siapa yang melempar sebelum zawal, wajib mengulangnya setelah zawal. Jika tidak diulangi, maka dia terhitung belum melakukan amalan lempar jumrah.

Hal ini serupa dengan orang yang shalat Zhuhur sebelum zawal, shalatnya tidak sah. Demikian pula orang yang melempar jumrah sebelum zawal, lemparannya tidak sah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk (tinggal) di Mina selama tiga hari berturut-turut, dan setiap harinya beliau menunggu hingga matahari tergelincir (zawal), lalu beliau melempar jumrah. Bahkan pada hari ketiga belas, beliau menunggu hingga matahari tergelincir, lalu melempar.

Seandainya melempar jumrah sebelum zawal diperbolehkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melakukannya pada salah satu dari tiga hari tersebut, sehingga jelas bahwa hal itu diperbolehkan. Namun, kenyataan bahwa beliau menunggu zawal selama tiga hari berturut-turut menunjukkan bahwa melempar jumrah sebelum zawal tidak diperbolehkan.

Maka dari itu, barang siapa yang melempar sebelum zawal, wajib mengulangi lemparannya. Jika tidak diulangi, maka dia terhitung belum melempar jumrah (lemparannya yang tadi tidak sah) dan dia harus membayar fidyah, yaitu seekor kambing yang disembelih di Makkah dan dibagikan kepada orang-orang miskin di tanah Haram jika mampu. Jika tidak mampu, maka dia harus berpuasa selama 10 hari sebagai gantinya.”

  1. Fatwa Dewan Fatwa Kerajaan Arab Saudi, antara lain yang mulia Doktor asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafuzhahullah

خامسا: ما حصل منكم من الرمي في أيام التشريق قبل الزوال رمي غير مجزي، وعلى كل واحد منكم ذبح فدية تجزئ في الأضحية توزع على فقراء الحرم.

Terjemah:

“Lempar jumrah yang kalian lakukan pada hari-hari Tasyriq sebelum zawal adalah lemparan yang tidak sah. Setiap dari kalian harus membayar fidyah dengan menyembelih hewan yang memenuhi syarat hewan kurban dan membagikannya kepada orang-orang miskin di tanah haram (Makkah).”

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *