Bimbingan Ringkas Manasik Umroh – Pertemuan Ke 3

Pembahasan Buku :
Bimbingan Ringkas Manasik Umroh dalam Bingkai Sunnah Nabi
Karya al-Ustadz Luqman Ba’abduh hafizhahullah
Bersama : al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah
di Masjid Ma’had as-Salafy Jember,  Jumadal Ula 1437 H –Februari 2016 M

Audio Pertemuan ke 3

Transkrip Pertemuan ke 3: Rukun Umrah

الحمد لله حمداً طيباً كثيراً مباركاً فيه كما يحب ربنا ويرضى وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له

وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحابه وسلم و بعد

 

Dalam kajian yang lalu kita telah mengetahui bahwa kewajiban Al umrah bersifat Al Faur, yaitu wajib untuk disegerakan dan tidak boleh ditunda saat kemampuan itu telah datang. Kemampuan atau Al Istitho’ah, baik Al Istitho’ah Al Maliyyah atau Al Istitho’ah Al Badaniyyah, kemampuan materi maupun juga kemampuan fisik, termasuk pula teknis perjalanan dan keamanannya.

Jika semua itu telah terpenuhi maka kewajiban umroh bersifat wajib untuk disegerakan.

Ada beberapa pertanyaan sebelum kita melanjutkan pembahasan kita.

Yang pertama adalah  : seorang suami pernah berumrah sekali berjalan waktu dia memiliki sejumlah uang yang cukup untuk berangkat 2 orang, dia dan istrinya. Sementara istri belum pernah menunaikan umroh. Yang perlu diketahui bahwa keuangan atau materi yang dia miliki tersebut adalah uang modal usaha, bukan uang tabungan.

Pertanyaannya adalah dalam kondisi seperti itu apakah tergolong wajib dan mampu melaksanakan umroh yakni dengan mengumrohkan istri. Kalau bagi sang suami sudah gugur kewajiban umroh Karena dia sudah pernah melakukannya sekali. Terkait dengan istri jangankan dalam kondisi seperti yang disebutkan yakni sejumlah materi yang dia miliki itu adalah uang modal usaha.

Jika yang dimaksud disini adalah sangat dibutuhkan untuk modal usaha dalam rangka memenuhi nafkah keluarga yang bersifat primer, maka yang seperti itu gugur kewajiban umrah. Walaupun sang suami belum pernah umrah.

Dalam hal ini dia belum terkategorikan mampu selama modal yang dimaksud adalah modal usaha yang hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer. Karena ulama membagi al-hajaj dalam dua jenis bagian al hajaj al ashliyyah ini yang pertama yang kedua adalah al hajjaj al far’iyyah. Hajat yang sifatnya pokok yakni primer dan ada hajat yang sifatnya cabang yakni sekunder. kalau itu sifatnya primer, kebutuhan kebutuhan yang sangat yang dia nafkahi dari hasil usaha tersebut, makan, minum istri termasuk uang kontrak rumah atau bahkan rencana untuk membangun rumah sendiri secukupnya yang terlindungi dari panas, hujan, angin dan ancaman-ancaman lainnya, itu primer sifatnya.

Maka yang seperti ini tidak diwajibkan atasnya untuk umroh walaupun yang pertama kecuali kalau yang dimaksud dengan modal itu adalah modal usaha yang sangat besar yang mendatangkan hasil atau keuntungan lebih dari kebutuhan kebutuhan primer. Kalau dia manfaatkan sebagian modal tersebut untuk menunaikan haji fardhu atau umroh fardhu tidak mengurangi nafkah dia yang sifatnya primer untuk keluarga maka dia terkena kewajiban.

Kondisi berikutnya adalah istri yang belum menunaikan umrah wajib atau Haji wajib dalam keadaan suami orang yang mampu. Tidak terpengaruh perekonomian, bisnis, usahanya dengan memberangkatkan sang istri berhaji atau umrah. Apakah wajib atas suami untuk mengumrahkan atau menghajikan istri? Suami dalam keadaan mampu, orang yang kaya.

Menjawab pertanyaan ini Al Imam Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah dan yang bersamanya dari Ulama Al Lajnah ad Daaimah menjawab bahwa tidak wajib atas suami tersebut menghajikan atau mengumrohkan istrinya walaupun itu haji dan umrah wajib bukan yang mustahab. Kalau dia menghajikan atau mengumrohkan maka ini bagian daripada perbuatan yang ma’ruf dan perbuatan baik untuk istrinya.

Masuk dalam keumuman hadits :

خيركم خيركم لأهله

“Orang yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik muamalah nya dengan istrinya”

 

Ini permasalahan terkait dengan pertanyaan tadi sehingga si penanya tadi tidak dikenai kewajiban untuk mengumrohkan istrinya. Walaupun dia memiliki modal yang sangat besar dan tidak mengganggu perekonomian rumah tangganya. Apalagi kalau modal itu modal yang terbatas, mengganggu perekonomian keluarganya dalam kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya primer.

Terkait dengan permasalahan ini bagaimana apabila seorang istri dari suami yang faqir.  Datang waktu dan keadaan secara mendadak istri memiliki kemampuan. Misalkan ayahnya wafat kemudian dia menerima waris, menerima harta waris yang cukup banyak dari orang tuanya. Dengan itu dia memiliki kemampuan untuk berhaji atau berumrah dan lebih malah. Secara fisik sehat. Kemudian saudara-saudara kandung dia yang lelaki juga akan berangkat bersamanya haji atau umroh, ada mahromnya dengan kata lain.

Sementara si suami tidak mengizinkannya, tidak mengizinkan istri untuk berangkat haji atau umroh tanpa ada alasan. Intinya kamu jangan berangkat. Apakah si istri dalam kondisi seperti ini dia mampu secara finansial dan secara fisik, mahram juga terpenuhi, suami sehat tidak terlalu membutuhkan layanan darinya. Apakah wajib taat kepada suami dalam hal ini yakni dalam menunaikan sebuah ibadah yang sifatnya fardhu.

Dijawab pula oleh Al Lajnah Daaimah, di antara mereka Al Alamah Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah  bahwa wajib bagi wanita tersebut atau si istri tersebut untuk berangkat haji atau umroh wajib karena telah terpenuhi persyaratannya. Tidak ada ketaatan bagi makhluk siapapun, yang apabila ketaatan itu ternyata konsekuensinya adalah kemaksiatan kepada Sang Khaliq, Allahu Subhanahu wa Ta’ala.

Pertanyaan berikutnya, seorang memiliki tanggungan hutang. Saat jatuh tempo dia ada rezeki yang cukup untuk biaya haji atau umroh. Hutangnya misalkan 35 juta, dia punya uang 45 juta cukup untuk haji atau juga cukup untuk umrah. Mana yang dikedepankan, kewajiban haji ataukah umrah atau kewajiban menunaikan hutang?

Jawabannya adalah yang kedua, kewajiban menunaikan hutang sebelum kewajiban menunaikan haji atau umroh. Ditunaikan hutangnya dulu karena sudah jatuh tempo.

Pertanyaan berikutnya, di negeri kita ini adalah proses keberangkatan haji yang diistilahkan dengan dengan haji plus. Keberangkatannya lebih cepat daripada haji non plus. Bagaimana seseorang yang ingin berhaji akan tetapi melalui pendaftaran pemerintah yang biayanya jauh lebih murah dari haji plus dalam keadaan ia harus menunggu lima tahun atau lebih dalam kondisi dia mampu untuk berhaji plus. Apakah ia dikategorikan sebagai orang yang menunda hajinya dan apakah dia berdosa karena hal tersebut ?

Kalau benar seperti yang disebutkan, dia adalah orang yang mampu untuk naik haji dengan jenis haji plus, mampu melakukannya, maka wajib untuk disegerakan dibandingkan mencari yang murah menunggu waktu yang cukup lama. Dengan syarat seperti yang disebutkan dalam pertanyaan bahwa dia mampu untuk melakukan haji dengan jenis haji plus.

Kalau dia tidak mampu dengan haji plus, mampunya hanya haji reguler melalui pemerintah, dia hanya punya uang 40 juta, ya sudah, dia mendaftar haji reguler melalui pemerintah walaupun harus menunggu waktu yang jauh lebih lama.

Menit 17:01

Dalam pembahasan terakhir yang lalu kita telah membahas tentang kewajiban berhaji atau berumroh bagi seorang wanita ditemani dengan mahramnya. Kewajiban ditemani mahram bagi wanita yang hendak haji atau umroh, dan telah kita sebutkan hadits Abdillah ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, muttafaqun ‘alaihi.  Kisah pria yang bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi sallam tentang keinginan dia untuk ikut berjihad sementara istrinya hendak berhaji maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk menemani istrinya berhaji sebagai mahram baginya dan meninggalkan amalan jihad fisabilillah.

Dari hadits di atas kita mengetahui beberapa hal penting.

Yang pertama adalah seorang wanita ketika safar haji ataukah umroh wajib ditemani oleh mahramnya.

Permasalahan kedua yang penting disebutkan di sini adalah adanya acara pengangkatan mahram sementara. Praktek ini banyak terjadi dan difasilitasi oleh oknum-oknum travel atau biro perjalanan haji dan umroh.

Bagaimana bentuknya mahram sementara itu? Yakni wanita yang sebenarnya wajib atasnya untuk ditemani oleh mahramnya sementara dia tidak memiliki mahram, dalam pengertian suami ada tapi tidak berangkat dengan suami karena suami sibuk bekerja dia berangkat dengan teman-temannya atau saudara misannya dan seterusnya maka dibuatkanlah sebuah surat yang diistilahkan dengan surat mahram sementara. Ini dijadikan mahramnya si fulan, selesai haji atau umroh kembali lagi bukan mahram.

Perbuatan ini tentu adalah perbuatan mungkar karena disamping perbuatan yang tidak pernah dicontohkan dalam syariat Islam, dia mengandung pula pengkhianatan dan kedustaan. Dikatakan pengkhianatan, karena pemerintah Arab Saudi mempersyaratkan adanya mahram, sementara dia berkhianat. Yang kedua, dusta, karena pria yang dinyatakan mahram baginya ternyata bukan mahram pada hakikatnya.

Praktik seperti ini terjadi dan sangat disayangkan. Banyaknya da’i-da’i atau tokoh agama yang tidak mengingkarinya atau diam atas kejadian tersebut.

Yang ketiga diantara kemungkaran yang juga sering terjadi dalam prosesi Haji atau umrah adalah al khalwah. Berduaan pria dengan wanita yang bukan mahramnya. Telah kita ketahui dari hadits yang sebelumnya juga hadits sahabat Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu yag diriwayatkan oleh Al Imam At Tirmidzi rahimahullahu beliau menyatakan Shallallahu Alaihi Wasallam :

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Tidaklah seorang pria berduaan dengan wanita yang bukan mahramnya kecuali yang ketiga adalah syaithan”. (HR. Imam Tirmidzi)

Dalam travel-travel umum bahkan dalam beberapa jamaah haji terjadi khalwah, terjadi ikhtilath. Hal ini tentu haram hukumnya dan mengurangi nilai dari ibadah haji serta umrah yang dilakukannya.

Yang keempat terkait dengan umroh dan haji wanita. Sering terjadi pula bersentuhan antara pria dengan wanita yang bukan mahramnya, berjabat tangan dan yang semisalnya baik saat di bandara atau sesampainya di tanah suci atau.. atau.. dan seterusnya. Ini juga kemungkaran kemungkaran yang sering terjadi.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits Ma’til bin Yasar radhiyallahu ‘anhu. Yang diriwayatkan oleh Al Imam Ath Thabrani dan Al Baihaqi,  dan dihasankan oleh al-imam Muhammad nashiruddin al-albani rahimahullah menyatakan:

ﻷَﻥْ ﻳُﻄْﻌِﻦَ ﻓِﻲ ﺭَﺃْﺱِ ﺭَﺟُﻞٍ ﺑِﻤِﺨْﻴَﻂٍ ﻣِﻦْ ﺣَﺪِﻳْﺪٍ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﺃَﻥْ ﻳَﻤﺲَّ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻻَ ﺗَﺤِﻞُّ ﻟَﻪُ

“Sungguh seseorang itu akan ditusuk kepalanya dengan pasung besi lebih baik baginya dibandingkan menyentuh wanita yang bukan mahramnya.”  (HR. Al Imam Ath Thabrani dan Al Baihaqi)

Kemudian pembahasan berikutnya berbicara tentang fadhilah umrah pembahasan ini tidak terlalu banyak mengandung ahkam (hukum-hukum) hanya sekedar fadhoil.

Kita baca secara ringkas, diantara fadhilahnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari dan Muslim atau muttafaqun alaih Dari sahabat Abu Hurairah beliau menyatakan

العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما

Bahwasanya satu umrah yang dilakukannya hingga umrah yang berikutnya adalah penghapus dosa yang terjadi di antara kedua masa tersebut.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim)

(Yakni) Masa umrah yang pertama ke masa umrah yang kedua.

Terkhusus umroh di bulan Ramadhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abdillah ibnu Abbas, muttafaqun alaih, menyatakan :

عمرة في رمضان تعدل حجة ، أو حجة معي

“Umroh di bulan Ramadhan pahalanya senilai dengan satu kali haji bersamaku.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Yakni bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kemudian ada di situ banyak sekali fadhoil yang bisa dibaca oleh teman-teman.

Bab yang kedua : Mengenal rukun-rukun dan kewajiban-kewajiban umroh

Rukun-rukun umroh berbeda dengan rukun haji, artinya lebih sederhana. Rukun Umroh yang pertama adalah Al Ihram, yang kedua adalah thawaf, yang ketiga adalah Sa’i, ini Ijma’ di kalangan ulama. Al Ihram, Ath Thawaf dan As Sa’i.

Yang berikutnya ada di kalangan ulama yang menggolongkannya sebagai rukun ada yang tidak demikian, yaitu At Tahallul. Ada sebagian ulama yang menyatakan itu rukun. Tidak sah umrah yang dilakukannya apabila meninggalkan tahallul, ada yang menyatakan itu adalah wajib sehingga jika ditinggalkannya dengan sengaja dia terkenai kaffarah.

Rukun Umrah yang pertama adalah Al Ihram

Apa itu Al Ihram? Sebagian orang memahami Al Ihram adalah mulai memakai kain ihram, tidak demikian. Karena memakai kain ihrom sejak di Miqot adalah salah satu dari amalan-amalan wajib bukan rukun, itu akan ada pembahasan Insya Allah pada masa berikutnya.

Tapi yang dimaksud dengan Al Ihram yang merupakan rukun umrah adalah peletakan niat umroh dalam hati saat tiba di Miqot yang kemudian dilanjutkan dengan ucapan Labbaik Allahumma umratan atau boleh dengan Labbaik Umratan, Labbaik Allahumma umratan.

Jadi Al Ihram adalah peletakan niat umrah dalam hati saat tiba di Miqot kemudian mengucapkan Labbaik Allahumma umratan.

Di sini ada beberapa hal yang penting untuk ditekankan:

Yang pertama bahwa yang dimaksud Al Ihram bukanlah memakai kain Ihram, ini yang pertama. Yang dinyatakan rukun adalah apa? peletakan niat umroh dalam hati masing-masing saat tiba di Miqot.

Perkara kedua yang penting diingatkan bahwa pengucapan lafadz Labbaik Allahumma umratan bukan pengucapan niat atau palafadzan niat. Niat tetap letaknya di hati, itu yang rukun. Kalau seseorang lupa, tidak melakukan niat maka tidak sah.

Ucapan Labbaik Allahumma umratan disebutkan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullahu bukan termasuk rukun. Sehinga kalau ada seorang yang lupa mengucapkan Labbaik Allahumma umratan umrohnya tetap sah.

Kemudian rukun yang kedua adalah Thawaf

Nanti akan ada pembahasan tersendiri tentang Al Ihram, tentang Thawaf, tentang Sa’i, tentang tahallul. Sekarang sebatas kita mengetahui ada rukun-rukun umroh ada yang menyatakan tiga yaitu Al Ihram, Ath Thawaf dan As Sa’i. Ada yang menyatakan empat ditambah At Tahallul.

Demikian rukun-rukun umroh. Rukun-rukun umrah adalah amalan-amalan yang wajib dilakukan saat umroh apabila ditinggalkan dengan sengaja maka umrah dia menjadi tidak sah.

Kemudian yang berikutnya adalah amalan-amalan wajib ketika Umrah

Amalan-amalan wajib ketika umrah adalah amalan yang apabila ditinggalkan dengan sengaja maka ia berdosa dan ibadah umrohnya tetap sah namun diwajibkan atasnya membayar Kaffarah. Itu amalan-amalan wajib, apabila ditinggalkan dengan sengaja tetap sah tapi dia berdosa karena sengaja. Namun terkenai kewajiban apa? Kaffarah.

Apa Kaffarahnya ? Ada tiga macam Kaffarahnya, yaitu menyembelih seekor kambing dan membagikannya kepada fakir miskin dari penduduk kota Mekah, tidak dibolehkan bagi pelaku Kaffarah tadi untuk memakan dari daging sembelihannya tadi, dari hewan yang disembelih untuk Kaffarah. Beda dengan Udhiyyah, beda dengan hewan kurban. Malah disyariatkan untuk makan dari daging hewan kurbannya. Kalau itu Kaffarah tidak dibolehkan.

Pertanyaannya apakah boleh dibagi untuk selain fakir miskin Kota Mekah? jawabannya tidak boleh, hanya khusus untuk fakir miskin di Kota Mekah. Kalau disembelih di Madinah ? Gak boleh, khusus untuk fakir miskin kota Mekah.

Jenis Kaffarah yang kedua adalah memberi makan enam orang miskin dari fakir miskin penduduk kota Mekah. Disebutkan, makanan ini kadarnya sesuai dengan yang kita makan normal kalau dia melebihkan baik kuantitasnya maupun kualitasnya maka itu shodaqoh baginya, lebih baik tentunya.

Kemudian yang ketiga jenis kafaratnya adalah berpuasa tiga hari baik di Mekah atau sepulangnya ke tanah air. Tiga hari baik dia lakukan saat di Mekah atau Madinah atau saat tibanya dia di tanah air. Ini jenis-jenis Kaffarah terkait orang yang meninggalkan amalan wajib saat prosesi ibadah umroh.

Thayyib, kita cukupkan sampai disini sebelum kita menyebutkan jenis-jenis amalan wajib tersebut.

 

وصل الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى اله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين

Audio Lengkap :

Bimbingan Ringkas Manasik Umroh dalam Bingkai Sunnah Nabi

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *