Bimbingan Ringkas Manasik Umroh – Pertemuan ke 2

Pembahasan Buku :

Bimbingan Ringkas Manasik Umroh dalam Bingkai Sunnah Nabi

Karya al-Ustadz Luqman Ba’abduh hafizhahullah

Bersama al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah

di Masjid Ma’had as-Salafy Jember

Selasa malam   Jumadal Ula 1437 H –Februari 2016 M

Link Audio : https://goo.gl/CeewbU

Transkrip Pertemuan ke 2

Dalam kajian yang lalu kita telah membahas hukum umroh beserta dalil-dalilnya dan atsar serta fatawa al ulama yang berfatwa dengan kewajiban umroh dan kita telah memasuki pembahasan tentang Apakah kewajiban ini boleh ditunda bagi yang telah datang kemampuan dan tidak ada halangan apapun boleh ditunda boleh memilih atau sifatnya fauron (فورا) harus bersegera, yang kesimpulannya bahwa telah difatwakan oleh jumhur ulama, di antara mereka adalah Imam Malik Imam Abu Hanifah Imam Syafi’i dan Imam Ahmad rohimahumullah juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu qudamah, Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al-utsaimin dan Al Imam Al-Albani rohimahumullah bahwasanya mereka berpendapat kewajiban ini bersifat segera, tidak boleh ditunda-tunda.

Maknanya kalau ditunda dengan sengaja dalam keadaan mampu tidak ada halangan apapun yang halangan itu memang halangan berarti maka dia berdosa.

Dalil mereka dalam hal ini yang pertama : bahwa secara umum segala perintah di dalam syariat yang status hukumnya wajib maka pelaksanaannya bersifat segera. Ini hukum asal. Kecuali ada dalil yang mengkhususkannya bahwa hal itu tidak bersifat segera.

Yang kedua keumuman firman Allah Subhanahu wa ta’ala ini dalil yang dipakai oleh mereka, jumhur diantaranya Al Imam Al Albani dan yang lainnya firman Allah Ta’ala :

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu” (Ali ‘Imran : 133)

“Bersegeralah” perintah al-musara’ah, perintah untuk ber-musara’ah, bersegera.  Ayat ini bersifat umum pada semua amalan, bersifat segera.

Kemudian juga ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang berisi perintah :

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Ayat ini Allah memerintahkan padanya syariat Haji. Makna ayat ini adalah : “Mengerjakan haji adalah kewajiban atas manusia untuk Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu melakukan perjalanan ke Baitullah.” (Ali ‘Imran : 97)

Dalil yang ketiga adalah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiyallah ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

من أراد الحج، فليتعجل

“Barangsiapa yang hendak atau berencana melakukan haji maka hendaknya bersegera mewujudkannya“ (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al Hakim, Al Baihaqi dan di hasankan oleh Al Imam Al Albani rahimahullahu ta’ala)

Dari beberapa dari itu kita tahu pendapat jumhur : Al Imam Malik, Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal dan yang disebutkan sesudahnya bahwa pelaksanaannya bersifat segera.

Ada beberapa ulama termasuk Al Imam Syafi’i yang menganggap bahwa perintah ini bersifat Tarakhiy ( التراخي ), boleh ditunda, dengan dalil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika turunnya ayat perintah Haji ini tidak langsung pada tahun itu melaksanakannya tetapi tertunda.

Dijawab oleh jumhur bahwa pelaksanaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Haji pada waktu itu dan juga umroh- Barakallah fikum – mendapat halangan yang sangat besar. Dimana Mekah masih di tangan Quraisy sehingga disebutkan dalam salah satu riwayat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sampai mendekati Kota Mekah tetapi Quraisy menghalangi Nya maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menyembelih onta (الْهَدْي) yang dipersiapkan untuk الْهَدْيِ dan nusuk (النسك) disembelihnya dan kemudian menggunduli rambutnya kemudian pulang.

Sehingga masalahnya pada waktu itu Mekah masih di bawah kekuasaan Quraisy, belum ada fathul Mekah. Sehingga tetap kesimpulannya bahwa pelaksanaan Haji dan juga umroh bagi yang mampu secara materi dan secara fisik tidak ada kendala yang berarti bersifat (فوريّا) bersegera untuk dilaksanakan.

Yang berikutnya yang penting juga diketahui oleh calon jamaah haji atau calon jamaah umroh, terkhusus dalam hal ini kaum wanita. Bahwa diwajibkan atas kaum wanita yang ingin berumroh untuk ditemani oleh mahramnya, mungkin suaminya atau anaknya atau ayahnya pamannya dan seterusnya dari kalangan mahram.

Dilarang atau diharamkan seorang wanita melakukan umroh ataupun haji tanpa ada mahrom. Hal ini sering terjadi hal ini sering terjadi terkhusus di negeri kita ini khusus di negeri Indonesia ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang muttafaqun ‘alaihi dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma beliau menyatakan:

نِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ، وَلَايَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلَّا وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ . فَقَالَ ﺭَﺟُﻞٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّي أُرِيْدُ أَنْ أَخْرُجَ فِيْ جَيْشِ كَذَا وَكَذَا، وَامْرَأَتِيْ تُرِيْدُ الْحَجَّ. فَقَالَ: اخْرُجْ مَعَهَا!

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Janganlah seorang wanita safar (bepergian) kecuali bersama mahramnya, dan janganlah seorang pria masuk ke ruang seorang wanita kecuali apabila wanita tersebut bersama mahramnya.’ Seorang pria bertanya, ‘Wahai Rasulullah, saya ingin berangkatperang bersama suatu pasukan, sedangkan istri saya ingin berangkat haji.’ Rasulullah menjawab, ‘Berangkatlah kamu bersama istrimu!’.” (HR. al-Bukhari)

Perhatikan baik-baik hadits ini. Haji hadits ini terkait dengan konteks ibadah haji.

Rasulullah mengatakan :

لَا تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ

“Tidak boleh seorang wanita melakukan Safar kecuali bersama dengan mahramnya, mahram wanita tersebut.”

Hukum asal larangan adalah haram hukumnya dilakukan. Menegaskan hal ini Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan :

وَلَايَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلَّا وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ

“Tidak boleh ada seorang pria yang datang menemui wanita tersebut kecuali dengan mahram.” Ini larangan untuk khalwah, sebagaimana mungkin nanti akan disebutkan.

فَقَالَ ﺭَﺟُﻞٌ

Ada seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّي أُرِيْدُ أَنْ أَخْرُجَ فِيْ جَيْشِ كَذَا وَكَذَا

Ya, Rasulullah, Aku ingin ikut bertempur bersama pasukan ini atau itu – ingin jihad fisabilillah –

وَامْرَأَتِيْ تُرِيْدُ الْحَجَّ

sementara istriku ingin menunaikan ibadah haji – Aku ingin jihad tapi di waktu yang sama istriku ingin berhaji – Apa jawaban Nabi? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan

اخْرُجْ مَعَهَا

Kamu tinggalkan jihad tersebut dan kamu berangkat ke sana (istrimu) menemani dia menunaikan ibadah haji.

 

Ini potongan terakhir dari hadits ini menegaskan haramnya bagi seorang wanita safar tanpa mahram.

Faidah berikutnya kita bisa mengetahui jenis udzur yang mana sih yang sebenarnya dikatakan udzur !?. – Barakallahu fiikum –

Terkait masalah kemampuan ini, subhanallah, seseorang itu ditentukan juga oleh al hirsy (kesungguhan). Banyak kisah dari sebagian jamaah umroh yang bersama kita ataupun yang bersama umum, atau jamaah haji, karena keinginannya berhaji dia menabung selama 30 tahun atau lebih. Dia seorang tukang becak, hirsy, dia tabung diletakkan di sebuah bambu – kata orang kita “celengan”-. Tiap hari dari hasil pekerjaannya sebagai tukang becak dia kumpulkan, kumpulkan, kumpulkan sampai bisa haji. Ini tentunya kembali kepada al hirsy seorang mukmin untuk menunaikan rukun Islam dan juga ibadah umroh yang diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Dari hadits ini pula ada beberapa hal : kemungkaran yang terjadi yang bisa kita ketahui yang terjadi di keumuman perjalanan umroh. Baik ketika akan berangkat ataupun ketika di pesawat ataupun ketika setibanya di tanah suci, baik ketika prosesi umroh itu sendiri ataupun sesudah dan sebelumnya. Untuk pembahasan ini Insya Allah kita akan melanjutkan pada pertemuan yang akan datang. Wallahu ta’ala A’lam.

وصل الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى اله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين

Audio Lengkap : 

Bimbingan Ringkas Manasik Umroh dalam Bingkai Sunnah Nabi

 

 

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *