Tanya Jawab Haji: Kurban bagi Jamaah Haji Disyariatkan atau Tidak?

Bagikan :

Apakah Orang yang Berhaji Disyariatkan Berkurban?

Ada pertanyaan sebagai berikut:

“Bismillah… Bagaimana dengan syariat Qurban Idul Adha bagi jamaah haji dan bagi keluarga yang ditinggal di tanah air?”

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kami nukilkan fatwa ulama kibar (senior) Ahlussunah abad ini yaitu al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah. Berikut fatwanya.

FATWA PERTAMA

س ١٢: هل على الحاج أضحية؟
فأجاب بقوله: الأضحية للحاج إن كان يريد أن يضحي في أهله، بمعنى أنه حج وأهله مقيمون في بلده وأراد أن يعطيهم دراهم يشترون بها الأضحية يضحون بها فهذا لا بأس به.
وأما إذا كان يريد أن يضحي في منى فإنه لا يضحي في منى، ليس في الحج إلا الهدي.

مجموع فتاوى ورسائل العثيمين (٢٥/٢٠)

Pertanyaan 12:

“Apakah seorang yang berhaji wajib berkurban?”

Beliau menjawab,

“Kurban bagi orang yang berhaji, jika memang ia ingin berkurban untuk keluarganya, -yakni ia berhaji, sementara keluarganya tinggal di negerinya, lalu ia ingin memberikan sejumlah dirham (sejumlah uang) kepada mereka agar membeli hewan kurban dan menyembelihnya-, maka hal ini tidak mengapa.

Adapun jika ia ingin menyembelih hewan kurban di Mina (saat berhaji), maka jangan sekali-kali menyembelih hewan kurban di Mina, karena dalam ibadah haji tidak disyariatkan (menyembelih) selain (menyembelih hewan) hadyu.

[Majmu’ Fatawa wa Rasail al-‘Utsaimin, (20/25)]

FATWA KEDUA

Sementara itu dalam kitab yang sama, pada pertanyaan nomor 92, beliau menjawab lebih rinci sebagai berikut.

س٩٢: سئل فضيلة الشيخ-رحمه الله-: هل تشرع الأضحية للحاج أم يكفي الهدي؟
فأجاب بقوله: الإنسان الذي سيحج هو وأهله فإنه لا حاجة إلى الأضحية في حقهم، لأنهم سوف يهدون، والهدي في مكة أفضل من الأضحية، وأما من كان يريد أن يحج ببعض عائلته ويبقي البعض في البلد فهذا يشرع له أن يضحي لأهله الباقين أضحية عندهم.
وحينئذ يثبت في حقه حكم المنع في الأخذ من الشعر والأظفار والبشرة إلا أنه إذا تمتع لابد أن يقصر من شعر رأسه ويسمح له في ذلك؛ لأن التقصير حينئذ نسك مأمور به من واجبات العمرة.

مجموع فتاوى ورسائل العثيمين (١١٣/٢٥)

Pertanyaan 92:

Syaikh yang mulia rahimahullah pernah ditanya: “Apakah disyariatkan berkurban bagi orang yang berhaji? Ataukah menyembelih hadyu sudah mencukupi?”

Beliau menjawab,

“Seseorang yang akan berhaji bersama keluarganya, maka tidak perlu berkurban bagi mereka (di Makkah), karena mereka akan menyembelih hewan hadyu. (Menyembelih) hadyu (bagi yang berhaji Tamattu’ dan Qiran) di Makkah adalah lebih utama daripada kurban.

Adapun jika seseorang berhaji dengan sebagian keluarganya dan sebagian lainnya tetap tinggal di negerinya, maka disyariatkan baginya untuk berkurban bagi keluarganya yang tinggal tersebut, dengan menyembelihkan kurban di negeri mereka.

Maka dalam kondisi ini, berlaku baginya larangan-larangan (selama ihram), yaitu mengambil (memotong) rambut, kuku, dan kulit. Namun jika ia melakukan haji tamattu’, maka ia tetap harus memendekkan rambut kepalanya (tahallul), dan hal itu diperbolehkan baginya karena memendekkan rambut (tahallul) saat itu termasuk manasik yang diperintahkan dan merupakan bagian dari kewajiban umrah.”

[Majmu’ Fatawa wa Rasail al-‘Utsaimin, (25/113)]

Loading

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *