Keutamaan Shalat di Hijr Ismail dan Apakah Sama Hukumnya antara Shalat Fardhu dan Nafilah

Bagikan :

Untuk mengetahui hukum amalan ini, kami akan suguhkan di sini fatwa al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, sebagaimana termaktub dalam kitab:
– “Majmu’ Fatawa wa Maqaalat Mutanawwi’ah” (11/432) juga kitab
– ad-Durar Ats-Tsariyyah Minal Fatawa al-Baziyah (hal. 119)
saat beliau menjawab pertanyaan berikut:

س: نشاهد بعض الناس يتزاحمون من أجل الصلاة في حجر إسماعيل، فما حكم الصلاة فيه، وهل له مزية؟

Pertanyaan:
Kami melihat sebagian orang berdesak-desakan untuk melaksanakan shalat di Hijr Ismail. Bagaimana hukum shalat di dalamnya? Apakah tempat tersebut memiliki keutamaan khusus?

ج: الصلاة في حجر إسماعيل مستحبة، لأنه من البيت وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم: «أنه دخل الكعبة عام الفتح وصلى فيها ركعتين» (١) متفق على صحته من حديث ابن عمر رضي الله عنهما عن بلال رضي الله عنه.
وقد ثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال لعائشة رضي الله عنها لما أرادت دخول الكعبة: «صلي في الحجر فإنه من البيت» (٢).

Jawaban:
Shalat di Hijr Ismail hukumnya disunnahkan, karena Hijr merupakan bagian dari Ka‘bah.
Telah (datang hadits) shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau pernah memasuki Ka‘bah pada tahun Fathu Makkah, kemudian melaksanakan shalat dua rakaat di dalamnya (1).
Hadits ini disepakati keshahihannya oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Bilal radhiyallahu ‘anhu.

Demikian pula telah diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika beliau (‘Aisyah) ingin masuk ke dalam (bangunan) Ka‘bah:

«صَلِّي فِي الْحِجْرِ فَإِنَّهُ مِنَ الْبَيْتِ»

“Shalatlah engkau di dalam Hijr, karena sesungguhnya ia merupakan bagian dari Baitullah (Ka‘bah) (2).”

Hukum Melakukan Shalat Fardhu di Hijr Ismail

al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah melanjutkan:

أما الفريضة فالأحوط عدم أدائها في الكعبة أو في الحجر؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يفعل ذلك ولأن بعض أهل العلم قالوا: إنها لا تصح في الكعبة ولا في الحجر لأنه من البيت.
وبذلك يعلم أن المشروع أداء الفريضة خارج الكعبة وخارج الحجر تأسيا بالنبي صلى الله عليه وسلم وخروجا من خلاف العلماء القائلين بعدم صحتها في الكعبة ولا في الحجر، والله ولي التوفيق.

“Adapun shalat fardhu, maka (pendapat) yang lebih selamat adalah tidak melaksanakannya di dalam Ka‘bah maupun di dalam Hijr Ismail, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya di sana. Selain itu, sebagian ulama berpendapat bahwa shalat fardhu tidak sah apabila dikerjakan di dalam Ka‘bah maupun di dalam Hijr Ismail, karena Hijr merupakan bagian dari Ka‘bah.
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa yang disyariatkan adalah melaksanakan shalat fardhu di luar Ka‘bah dan di luar Hijr Ismail, sebagai bentuk mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sekaligus keluar dari perselisihan pendapat para ulama yang berpendapat bahwa shalat fardhu tidak sah dilakukan di dalam Ka‘bah maupun di dalam Hijr Ismail.
Dan Allah-lah yang memberikan taufik.”

SELESAI

Demikian, shalat di Hijr Ismail memiliki keutamaan karena Hijr merupakan bagian dari Ka‘bah. Namun,

hal tersebut tidak berarti seseorang boleh berdesak-desakan atau menyakiti orang lain demi mendapatkan tempat untuk shalat di sana.

_________

(1) Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Kitab ash-Shalat, hadits no. 382, dan dalam Kitab al-Jumu‘ah, hadits no. 1101; serta Imam Muslim dalam Kitab al-Hajj, hadits no. 2362.

(2) Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Baqi Musnad al-Anshar, hadits no. 23475, Imam at-Tirmidzi dalam Kitab al-Hajj, hadits no. 802, dan Imam an-Nasa’i dalam Kitab Manasik al-Hajj, hadits no. 2863.
Dan dishahihkan oleh al-Imam al-Albani dalam kitab “Ats-Tsamarul Mustathab” (1/433) dan “Irwaul Ghalil” (no. 1106).

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *