Diantara Pintu Fitnah : Hasad dan Dusta

Faidah Ringkas :

Diantara Pintu Fitnah : Hasad dan Dusta

Disampaikan Oleh : Al Ustadz Luqman Ba’abduh Hafizhahullahu

Link Audio : https://goo.gl/7pvMs1

Transkrip :

Namun Rasulullah mengingatkan:

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ

“Hati-hati kalian dari dusta”

Dusta dalam bentuk kata-katanya, mengucapkan sesuatu yang tidak sama dengan realita, menyampaikan sesuatu yang faktanya tidak demikian, atau dusta dalam sikap-sikapnya.

Dusta dalam sikap itu bisa disebutkan atau dinamakan juga dengan At Talawwun. Talawwun itu bisa diartikan dalam beberapa kondisinya sebagai nifaq, kemunafikan. Talawwun itu artinya berwarna-warni. Dia memakai warna yang sesuai dengan kebutuhan. Ini Al Kadzib, dusta dalam sikap, dusta dalam sikap manhajnya, dusta dalam aqidahnya,إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ

“Waspada kalian dari sifat kadzib (dusta)”

 فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ

Sesungguhnya kedustaan itu akan menyeret dia kepada kefajiran“, kemaksiatan berikutnya, kemaksiatan lidahnya, kemaksiatan ahlaknya, kemaksiatan manhajnya, kemaksiatan aqidahnya…

وَإِنَّ الفُجُورَ يَهدِي إِلَى النَّارِ

Sesungguhnya kefajiran itu akan menyeret dia kepada api neraka

وإن الرجل ليكذب ويتحرى الكذب حتى يكتب عند الله كذابا

Tidaklah seorang hamba atau “sesungguhnya seseorang berdusta dan berupaya” dalam banyak kesempatan, berdusta karena hawa nafsunya, berdusta karena kepentingannya, berdusta sehingga dia berwarna-warni dalam sikapnya, berupaya terus, mana yang sesuai/mana yang angin yang lebih kuat di situ dia akan ikut, walaupun dia tahu disitu kebatilan. Di mana angin yang lemah yang tidak menguntungkannya dia akan tinggalkan walaupun dia tahu disitu ada kebenaran. Ini Al Kadzib fil mawaqif (Dusta dalam sikap-sikap).

Ikhwani fiddin rahimani wa rahimakumullah, waspada dari Al kadzib wat Talawwun.

Kata-kata  الصدق (Ash Shidqu) : kejujuran dan الكذب (Al Kadzib) kata-kata yang kita sendiri takut, kita sendiri khawatir, semoga Allah jauhkan Ana dan Antum semuanya (dari sifat Al Kadzib, ed) ketika kita atau saya berbicara seperti ini dalam keadaan khawatir terhadap diri Ana dan demikian Ana berharap Antum khawatir dan takut.

Tidak tersibukkan kita mengarahkan pandangan kita kepada pihak lain, kepada orang selain diri kita:

“Owh, maksud dari ceramah ini adalah itu, Owh maksud dari materi ini adalah itu..!”

Begitu kita keluar dari masjid, keluar dari majelis  مَا اسْتَفَدنَا شَيئًا. لا زيادة الايمان ولا زيادة التقوى ولا زيادة حُسنِ الخُلق, kita nggak pulang dari majelis ini dari masjid ini kita gak membawa faidah, gak mendapatkan faidah tambahan iman karena benaknya ke tempat lain. Nggak mendapat mendapatkan tambahan taqwa karena memang nggak ada niatan untuk beramal dengannya. Menarik di dengar : ini maksudnya yang itu, ini maksudnya yang sana, ini maksudnya yang itu.

Tidak pula membawa pembenahan akhlak. Ini musibah.. Musibah.. وهذ من عدم التوفيق. Termasuk bentuk seorang tidak mendapatkan taufik dari Allah. Maka dari itu diantara doa yang diajarkan oleh Nabi ‘alaihi shalatu wassallam untuk kita banyak membacanya dan mengulanginya yaitu :

…اللَّهُمَّ إِنا نسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى

Ya Allah, sesungguhnya kami mohon kepadamu Al Huda (kata ulama Al Huda artinya Al Ilmu An Nafi’: ilmu yang bermanfaat)   “وَالتُّقَى” اي: العمل بالعلم النافعز : beramal dengan ilmu yang bermanfaat tadi.

Mungkin seseorang mendapatkan Huda (هُدَى) tapi dia tidak mendapatkan At Tuqa (التُّقَى).  Mungkin dia mendapatkan ilmu yang bermanfaat, tapi dia tidak mendapatkan taufik untuk beramal dengan ilmu ini.

Ikhwani fiddin rahimani wa rahimakumullah, terkhusus di masa-masa Al fitan betapa butuhnya kita kepada sifat Ash Shidq (الصدق), betapa butuhnya kita perlindungan dari Allah untuk jauh dari sifat Al Kadzib (الْكَذِبَ), karena di situ akan nampak : فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (Al Ankabut :3) Sungguh pasti akan nampak siapa di antara mereka yang mengklaim keimanan tersebut, siapa yang Shadaquu (صَدَقُوا) : jujur dan siapa yang Kadzibiin (كَاذِبِينَ).

Kadang-kadang cobaan itu di luar dugaan kita. Cobaan itu kan tadi sudah disebutkan bisa syahwat bisa syubuhat. Mungkin seseorang diberi ilmu yang sangat kokoh luas dalam memahami syubhat dan membantahnya secara rinci, menukilkan riwayat-riwayat aqwal dan fatawa ulama, mungkin, tapi ternyata fitnah menimpa dia dari pintu syahwat. Dimana itu ? banyak, pintu syahwat ini tak terhitung.

Misal : ada di antara kita seorang yang Allah berikan kelebihan. Kelebihan akhlaknya, kelebihan pemahamannya, kelebihan mungkin kekuatan hafalannya, kelebihan bahkan dalam bentuk : dia banyak diterima oleh kawan-kawannya, disukai oleh kawan-kawannya, didengar kasihat dan ucapannya, diterima ide-idenya, dipercaya oleh lingkungan, ini ujian bagi pihak yang kedua yang kebetulan belum mendapatkan itu. Ini yang Allah katakan :

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

Dan kami jadikan sebagian kalian dengan sebagian lainnya sebagai fintah (ujian). Apakah kalian mau bersabar?; dan adalah Rabb-Mu Maha Melihat” (Al Furqon : 20)

Dan sungguh telah kami jadikan sebagian kalian dengan sebagian yang lainnya sebagai fitnah (ujian). Apakah kalian mau bersabar?. Bersabar maknanya….

Datanglah sebuah penyakit yang dinamakan dengan Al Hasad sehingga dia tidak bisa bersabar yang Allah katakan : أَتَصْبِرُونَ , maukah kalian bersabar menyikapi ajang ujian, ajang fitnah yang Allah jadikan diantara kalian ini? Sebagaimana iblis tidak sabar diberi ujian perintah bersujud kepada Adam. Iblis tidak sabar menahan diri untuk tidak dengki, mengingat kemuliaan Adam yang Allah ciptakan dengan kedua tangan-Nya, خَلَقْتُ بِيَدَيَّ (Shad : 75) kata Allah: “Aku ciptakan dia (Adam) dengan kedua TanganKu“. Dengan sifat tentunya yang sesuai dengan kebesaran Allah tidak sama dengan sifat-sifat makhluk-Nya.

Hasad, tidak sabar iblis, akhirnya apa? membuat syubuhat. Tidak sabar iblis sampai akhirnya menolak syariat Allah dengan takwil-takwil :  أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ (Al A’raf : 12), Ana lebih mulia dari pada dia. Kau ciptakan aku dari api, lebih mulia daripada dia yang Kau ciptakan dari tanah. Syubhat untuk memuaskan ambisi hasadnya. Mengeluarkan syubhat, mengeluarkan kedustaan, mengeluarkan sebuah berita dan pernyataan yang tidak sesuai dengan fakta. Kenapa? tidak sabar.

Para malaikat sabar dalam keadaan malaikat diciptakan dari cahaya, lebih mulia dari iblis, Nur, خُلِقَتِ المَلَائِكَةُ مِنْ نُوْرٍ Sungguh telah diciptakan malaikat itu dari Nur, dari cahaya, melihat Adam yang diciptakan dengan kekhususan yang tidak dimiliki oleh malaikat, tidak hasad mereka, memuji Allah, bertasbih, bertahmid, diperintahkan bersujud, فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ (Al A’raf : 73). Malaikat semuanya tanpa terkecuali bersujud kepada Adam, menjalankan perintah, tidak main logika, tidak mengeluarkan syubhat.

Ikhwani fiddin a’aazaniyallahu wa iyyakum, turun temurun antara bani Adam dan bani iblis sampai hari kiamat. Kadang-kadang fitnah datangnya dari syahwat dalam bentuk iri: kenapa si fulan dijadikan ketua panitia?  Kenapa tidak ana? ana merasa disingkirkan oleh teman-teman. Ana merasa disingkirkan oleh Ustadz.! Mulai dia sakit hati. Apa sebabnya? kepanitiaan kajian. Apa sebabnya? kepanitiaan pembangunan masjid.

Sakit hati disimpan bertahun-tahun dia mencoba menyembunyikan apa yang di dalam hatinya, tahun pertama tidak ketahuan, tahun kedua tidak, tahun ketiga, tetapi Allah mengatakan:  وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (Al Baqarah : 72) Allah itu akan mengeluarkan segala rahasia yang kalian sembunyikan selama ini. Rahasia kita pun akan terkuak, akan nampak kalau nggak di dunia ini atau nanti di akhirat. يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ (Ath Thariq : 9) Dihari segala rahasia itu akan ditampakkan oleh Allah.

Ikhwani fiddin a’aazaniyallahu wa iyyakum, syahwat membuat dia tidak sabar menahan diri untuk tetap berada di atas aturan syariat dalam menyikapi keadaan, dalam menyikapi sebuah fenomena, dalam menyikapi kawan-kawan dan lingkungannya.

Berapa banyak kemudian seorang jatuh dalam fitnah bahkan dia menjadi orang terdepan dalam fitnah bermula dari urusan pribadi, dari urusan dengki, urusan pernah dirugikan, pernah disakiti dengan kata-katanya.

Bisa saja memang dia betul-betul terdzolimi mungkin dalam urusan bisnis, mungkin dengan urusan anak-anak dia, keributan antara anak-anak, mungkin keributan antara istri, benar dia terdzolimi waktu itu. Subhanallah, posisi dia sebagai madzlum, sebagai orang yang terdzolimi yang semestinya dia sabar, semestinya dia عافين عن الناس, termasuk orang-orang yang mudah memaafkan, tidak, dia simpan itu dan Subhanallah, datang di salah satu waktu di salah satu tahun sebuah fitnah terkait dakwah dan manhaj.

Tadi dia madzlum, dia posisinya tadi betul-betul terdzolimi, pernah dirugikan sekian dan sekian dari uang dia, betul dia dirugikan. Tapi Subhanallah, ujian berikutnya yaitu fitnah terkait manhaj, terkait aqidah, terkait dakwah, mulai perasaan sakit hati itu bermain juga.

Di saat itu, tadi yang kawannya berbuat dzolim kepada dia pada periode yang dulu kali ini terselamatkan dari fitnatu syubuhat kali ini dia diberi Taufik oleh Allah untuk berjalan tetap di atas Al Haq dengan kehendak Allah yang Maha Adil. Allah yang maha tahu apa yang tersimpan di dalam hati manusia.

Tapi saudara kita yang satu tadi tetap mengikuti sakit hatinya : saya tampil beda dengan dia, saya gak sama, saya masih teringat dulu dia menyakiti istri saya, dia dulu menyakiti anak saya, dulu dia pernah mendzolimi dalam bisnis yang itu.

Subhanallah yang ini tetap di atas sunnah, di atas manhaj yang benar, yang itu jatuh dalam fitnah yang menyesatkan.

Maka jujur (الصدق) punya peran yang sangat besar seseorang selamat dari sebuah fitnah.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *