Sosok Nabi Ibrahim Bapak Tauhid dan Keluarganya

Khutbah ‘Ied al-Adha 1437 [32 kbps]- al-Ustadz Luqman Ba’abduh
(Audio di bawah tulisan)

SOSOK NABI IBRAHIM BAPAK TAUHID DAN KELUARGANYA

Di hari ini kembali kita mengingat sosok abu Tauhid, ayah dari pada dakwah tauhid, Ibrahim ‘alaihissalam. Sebagai sosok seorang da’i yang penuh dengan tawakal dan kesabaran, menjalankan perintah-perintah Allah di dalam berdakwah menuju kepada tauhid.

Seorang sosok da’i yang tidak pernah gentar karena merasa sendiri. Sosok seorang da’i yang tidak terlalaikan oleh kepentingan-kepentingan pribadi dan keluarganya.

Ibrahim ‘alaihissalam yang Allah perintahkan untuk meninggalkan negeri Syam menuju ke sebuah negeri, sebuah daerah yang kering kerontang, yang Allah sebutkan dalam ayat-Nya:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Rabbkami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang mulia, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezeki mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Ibrahim : 37)

Setelah Ibrahim membangun al Ka’bah, melanjutkan visi dan misi dakwahnya, taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sosok Ibrahim tidak pantang mundur, tidak kecil hati, tidak pesimis, tidak khawatir meninggalkan keluarganya di lembah yang kering. Tidak ada seorang di kanan dan kirinya, di belakang dan depannya, tidak ada tetangga, tidak ada sanak famili. Hajar dan Isma’il ditinggal oleh Ibrahim sang da’i.

Demikianlah sosok Nabi Ibrahim tidak merasa sendiri karena dia punya Allah.

Berdakwah menyeru kepada tauhid, peribadatan hanya kepada Allah, beliau bertawakal. Di hari ini pula kita ingat sosok Ibrahim sebagai seorang yang bersyukur kepada Allah. Selalu bersyukur kepada nikmat-nikmat Allah. Nikmat apa yang didapatkan oleh Ibrahim, di negeri yang kering, di negeri yang dikelilingi oleh gunung-gunung batu, di negeri yang tidak ada tanaman, dengan baju yang seadanya, tidak ada rumah yang meliundunginya. Nikmat apa yang didapat oleh Ibrahim, sementara Allah katakan beliau sebagai seorang yang syaakiran, bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

ايّها المسلمون عباد الله, di waktu yang sama ini pula, kita teringat dengan mawaqif Ibrahim sebagai pemimpin rumah tangga, yang mendidik anak istrinya dengan tauhid, untuk tidak takut kecuali kepada Allah. Untuk benar-benar bersandar hanya kepada Allah. Tidak kepada kekuatan manusia, tidak dengan dengan bantuan manusia.

Ibrahim, qudwah hasanah bagi kita, teladan bagi para pemimpin rumah tangga, teladan bagi para da’i, kepada para du’at, kepada para thalabatul ilm (para penuntut ilmu).

Sosok Ibrahim ‘alaihissalam mendidik istri dan putranya di atas semangat ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, di atas semangat syukur atas segala nikmat yang Allah berikan, yang Allah limpahkan kepada mereka.

Ibrahim ‘alaihissalam seorang pemimpin rumah tangga yang tidak terlalaikan dengan keinginan dan tuntutan-tuntutan istri dan anak-anaknya, menunaikan hak anak dan istrinya sebagai pihak yang di bawah tanggung jawabnya. Namun tidak dengan mengorbankan syariat Allah. Tidak kemudian Ibrahim lalai dari misi dakwah yang Allah bebankan kepada beliau.

Sosok Ibrahim tidak mendidik istri dan anaknya di atas gemerlap dunia yang melalaikan seorang hamba dari ibadah, kehidupan dunia yang gemerlap yang melalaikan seorang hamba dari kehidupan akhirat.

Ibrahim ‘alaihissalam mendidik istri untuk sabar menanggung resiko dakwah, untuk sabar menanggung konsekuensi tauhid, harus meninggalkan kampung halamannya yang hijau, yang subur, ayah ibu, saudara kandung, ditinggalkan demi mengikuti suami berdakwah, menegakkan tauhid, menghapuskan kesyirikan dari muka bumi, peribadatan kepada selain Allah.

Di hari ini kita teringat pula kepada sosok ismail sebagai putra teladan yang kokoh, bertawakal kepada Allah. Putra yang tidak banyak menuntut kepada orang tuanya, menerima sebagai putra seorang da’i.  Ismail putra yang mengerti misi dan visi dakwah tauhid yang di bawa oleh ayahnya. Ismail bukan putra yang cengeng, bukan putra yang gampang mundur, gampang putus asa menjalankan syariat Allah. Demikian Ismail justru mengokohkan, memberi semangat kepada ayahnya untuk sabar menerima konsekuensi syariat.

Ya thalabatal ilm, wahai putra-putra sunnah, wahai putra-putra penuntut ilmu, di hari ini kita diingatkan dengan sosok Ismail.

Ibrahim ‘alaihissalam adalah sosok yang tidak menjual kepentingan agama untuk kepentingan dunia, siapapun dia. Ibrahim mengajarkan kepada kita berbagai bentuk prinsip yang Allah sebutkan dalam ayat-Nya :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kalian dari daripada apa yang kalian sembah selain Allah, kami mengingkari kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (Al Mumtahanah : 4)

 

Bukan kemudian Ibrahim ikut dalam acara do’a bersama dan berbagai ritual-ritual ibadah mereka sebagaimana terjadi di hari-hari ini, orang orang yang menjual tauhid dengan ikut mengarak dan menggiring salib dan memasukkannya ke masjidnya.

Ibrahim ‘alaihissalam sebagai sosok panutan ummat.

Jama’ah shalat Ied yang saya muliakan, pada hari ini pula, shalatul ied, iedul adha, kita mengingat betapa Ibrahim sebagai seorang yang tunduk patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, secara dzahir yang nampak/dilihat dan didengar ataupun secara batin mengikhlaskan niat kepada Allah. Maka pada hari ini pula saya mengajak diri saya pribadi dan seluruh saudara saya seislam, seiman untuk mengevaluasi diri, tidak merasa sendiri, tidak merasa pesimis kerena jumlah yang sedikit. Di hari yang kita teringat kepada hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam :

بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً كما بدأ فطوبى للغرباء

“Islam telah dimulai dari kondisi yang asing dan akan kembali asing seperti semula pada masa dimulainya islam, maka beruntunglah orang-orang yang asing” (HR Muslim, Ibnu Majah , Ahmad )

(Yaitu) Orang-orang yang menjalankan syariat di tengah manusia berlomba-lomba meninggalkan syariat Allah.

Siapa itu Al ghuroba, ? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits lain menjelaskan:

الذين يصلحون عند فساد الناس

“yaitu orang-orang shalih (orang-orang yang istiqomah) di saat rusaknya manusia.” (HR. Ath-Thabarani)

Siapa itu Al Ghuroba ? dalam hadits lain Rasulullah shalallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan :

الذين يصلحون ما أفسد الناس

“yaitu orang-orang yang melakukan upaya pembenahan terhadap perkara-perkara yang dirusak oleh manusia”  (HR. At-Tirmidzi)

Melakukan pembenahan tauhid di saat manusia menyerukan kepada kesyirikan,

Menyeru kepada sunnah Nabi di saat manusia berbondong-bondong menyelisihi sunnah Nabi dalam akhlaknya, dalam ibadahnya, dalam rumah tangganya, dalam dakwahnya.

Melakukan pembenahan segala yang dirusak oleh manusia dari sisi akhlak, dari sisi manhaj.

Kerusakan demi kerusakan, kerusakan idiologi, banyaknya paham-paham yagn keluar dari Al-Qur’an dan Sunnah,

paham kaum khawarij, teroris khawarij, kilabun naar/anjing-anjing neraka yang merusak kehidupan dan tatanan hidup umat manusia,

yang mencemarkan nama nbaik Islam, yang membunuh tanpa aturan, yang meledakkan secara emosi,

membunuh ummat Islam, membunuh kaum muslimin, di masjid-masjid Allah, di rumah-rumah Allah (oleh) kaum teroris khawarij.

Maka kita terpanggil untuk membenahi yang rusak akibat perbuatan mereka.

Kita membenahi akidah ummat, manhaj ummat, metode berpikir ummat dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah.

Begitu juga munculkan kelompok syiah, kaum teroris di sisi lain. Kaum syiah rafidhah di bawah pimpinan Iran ar-rafidhah adalah kaum teroris yang menyimpan makar terhadap kaum muslimin dan negara kaum muslimin.

Maka kita, kaum muslimin ahlus sunnah berkewajiban dengan penuh kesabaran, dengan penuh ilmiah disertai dengan akhak yang mulia untuk melakukan pembenahan dan membentengi ummat, membentengi akidah ummat, tidak mundur karena jumlah yang minoritas. Tidak pesimis karena tidak banyak mendapatkan dukungan.

Demikian sosok Ibrahim ‘alaihissalam.

Dalam hadits yang samapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengatakan tentang Al-Ghuroba, siapa mereka dan bagaimana ciri-ciri mereka dan tanda-tanda mereka,

ناس صالحون قليل في ناس سوء كثير من يعصيهم أكثر ممن يطيعهم

“yaitu orang-orang shalih yang jumlah mereka sedikit di tengah orang-orang jelek yang jumlah mereka itu banyak, orang-orang yang mau mendengar nasihat mereka jauh lebih sedikit dibandingkan yang menentang mereka”

Sabar ايّها المسلمون. Itulah sosok Ibrahim yang berdakwah di sebuah lembah yang kering dan meninggalkan keluarganya di tempat tersebut.

Di waktu yang sama ini saya mengingatkan kaum nisaa’, kaum ummahat dengan sosok Hajar radhiyallahu ‘anha.

Sosok wanita penyabar, sosok wanita pendidik, sosok wanita yang taat kepada suami, sosok istri yang mendukung misi dakwah. Sabar menerima apa yang diberikan oleh suami, tidak banyak menuntut, tidak banyak permintaan. Demikian Hajar sebagai sosok istri yang penuh ibadah kepada Allah. Menghiasai hari-harinya dengan dzikir kepada Allah. Tidak tertipu oleh wanita-wanita lain yang bisa hidup nyaman, yang bisa hidup dengan serba ada. Tapi taat mengikuti ajakan suami. Kemana kita akan pergi  ? Ke sebuah lembah وَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ , sebuah lembah yang kering yang tidak ada tanaman dan tetumbuhan di sana. Berangkatlah Hajar menemani suami. Sesampainya di sana Hajar pun berusaha membantu suami dengan apa yang dia mampu. Tidak banyak mengeluh, tidak banyak menuntut, tidak mengganggu iman suami. Tidak menjadikan iman suami lemah. Tidak menjadikan semangat suami menjadi dhoif (lemah).

Hajar radhiyallahu ‘anha sosok wanita yang pendidik bagi putranya. Ketika suami mendidik putranya di atas tauhid, di atas syariat, tunduk kepada Allah dan aturan Allah, sang istri memberi semangat kepada putra, memberi semangat iman, bukan malah istri yang menggadoli anaknya, memberikan angan-angan panjang tentang dunia, “kemana hendak pergi?” “akan jadi apa kamu?” “akan makan apa kamu?”.

Hajar seorang wanita dan istri pendidik yang bisa diberi amanat oleh suami. Suami pergi berangkat berwakwah dalam waktu yang tidak sedikit. Hajar sebagai istri mengemban amanah, amanah mendidik, demikian.

Para istri, jadilah kalian istri-istri yang  taat kepada Allah, taat kepada suami dalam perkara yang ma’ruf, taat kepada suami dalam syariat Allah.

Para istri jadilah kalian orang-orang yang banyak beristighfar kepada Allah, merenungi dosa.

Para istri, bercakaplah dengan suami, berbincanglah dengan suami dengan penuh kesopanan dan kesantunan, jangan anda menyombongkan diri.

Sungguh nabi kita telah mengabarkan kepada kalian dan kita semuanya tentang wanita, نَاقِصَاتُ عَقلٍ وَدِينٍ. Aku tidak melihat hamba Allah yang lebih kurang daya berpikirnya untuk mencerana, untuk menimbang yang baik dan yang buruk, mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk untuk segera ditinggalkan, نَاقِصَاتُ عَقلٍ وَدِينٍ, dan lemah imannya dibandingkan kalian wahai wanita, sadarlah..!!

Dan Nabi kita mengabarkan فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ, Aku  melihat kalian wahai wanita adalah sebagai mayoritas penghuni neraka, kecuali orang-orang yang beriman dintara kalian, yang bertakwa diantara kalian, yang beribadah kepada Allah, menyadari tentang kondisinya, tawadhu’, rendah hati karena Allah, menghormati suami, mendidik anak-anak.

Kemudian dalam kesempatan ini pula saya mengingatkan seluruh kaum muslimin di tengah bangsa dan negara kita, sedang menghadapi ancaman, ancaman separatis,  ancaman teroris, ancaman dekadensi moral yang mengkhawatirkan akan hancurnya negeri ini.

Jangan lupa doa’akan untuk kaum muslimin, untuk pemerintah kita dengan do’a-do’a kebaikan. Mohonkan kepada Allah  untuk pemerintah kita, hidayah, agar Allah tanamkan di hati mereka kecintaan kepada Islam, kecintaan kepada Al-Qur’an, kecintaan kepada kaum muslimin.

Dan semoga Allah jauhkan pemimpin-pemimpin kita dari makar-makar musuhnya , dari rencana-rencana jahat musuh-musuh negara ini. Dan semoga Allah jadikan mereka hamba-hamba Allah yang shalih.

Demikian semoga sedikit khutbah ied ini bermanfaat untuk kita semuanya.


Link unduh Audio : http://bit.ly/2EtLJUn

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *