Abdurrahman Abdul Khaliq Hizbiyah dan Kesesatan yang Diwariskannya (Bagian Kedua)

Bagikan :

Abdurrahman Abdul Khaliq

Hizbiyah Dan Kesesatan Yang Diwariskannya

(Bagian Kedua)

Ihyaut Turats (IT) Tidak Membedakan Antara Seorang Ahlussunnah Dengan Seorang Mubtadi’, Bahkan Syi’ah Rafidhah

Ihyaut Turats adalah organisasi yang sangat berambisi untuk menyatukan berbagai kelompok dan sekte-sekte Islam dengan tanpa mempedulikan latar belakang aqidah dan ideologi masing-masing yang berbeda, bahkan saling bertolak belakang. Ini semua dilakukan oleh Ihyaut Turats karena berangkat dari pola pikir atau manhajnya yang mengacu kepada manhaj kelompok Ikhwanul Muslimin (disingkat IM) yang sudah sangat masyhur yaitu,

نَتَعَاوَنُ فِيْمَا اتَّفَقْنَا عَلَيْهِ وَيَعْذُرُ بَعْضُنَا بَعْضًا فِيْمَا اخْتَلَفْنَا فِيْهِ

“Kita saling menolong dalam perkara-perkara yang kita sepakat tentangnya, dan saling memberi udzur (mentoleransi) perbedaan diantara kita.”

Berdasarkan manhaj atau prinsip ini, Ihyaut Turats hendak menyatukan berbagai sekte dan kelompok yang mereka istilahkan dengan “Kelompok Islam”, tak peduli apakah itu kelompok radikal berhaluan Khawarij teroris semisal IM, al-Qaidah, JI (Jamaah Islamiyyah), ISIS, HT (Hizbut Tahrir) dan lain-lain, atau kelompok radikal berhaluan Syi’ah, atau kelompok berhaluan Tasawwuf, Liberal, dan seterusnya.

Apa yang kami sebutkan di atas terbukti dengan beberapa ucapan dan perbuatan Abdurrahman Abdul Khaliq yang menunjukkan atas prinsip atau pola pikirnya tersebut, antara lain dalam karyanya yang berjudul “al-Washaya al-‘Asyr lil ‘Amilin bid Da’wati Ilallahi Ta’ala” (Sepuluh Wasiat Untuk Para Aktivis Dakwah Kepada Allah Ta’ala), tepatnya pada wasiat kesembilan dengan judul:

ﺗﻨﺴﻴﻖ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻤﺎﻋـﺎﺕ ﺍﻹﺳـﻼﻣﻴﺔ ﻭﻣﻨﺎﺻﺮﺓ ﺑﻌﻀﻬﺎ ﺑﻌﻀﺎ، ﻭﺍﻟﻮﻗﻮﻑ ﺻﻔﺎ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﺃﻣﺎﻡ ﺍﻟﻘﻮﻯ ﺍﻌﺎﺩﻳﺔ

“Pengaturan (Perapian) Kerja Antar Berbagai Jama’ah/Kelompok Islam Dan Sikap Saling Menolong Satu Dengan Yang Lain, Serta Bersikap di Atas Satu Barisan di Hadapan Kekuatan Musuh.”


Baca: Abdurrahman Abdul Khaliq Hizbiyah dan Kesesatan yang Diwariskannya (Bagian Pertama)


Abdurrahman Abdul Khaliq berkata,

ﺍﻟﺘﻼﻗﻲ ﺑﲔ ﺍﻟﻌﺎﻣﻠﲔ ﻟﻺﺳﻼﻡ، ﻭﻣﻨﺎﻗﺸﺔ ﺃﻭﻟﻮﻳﺎتهم ﻭﻣﻨﺎﻫﺠﻬﻢ ﻭﺍﻻﻧﻔﺘﺎﺡ ﻋﻠﻰ ﺍﻵﺧﺮﻳﻦ، ﻭﻣﻌﺮﻓـﺔ ﻣـﺎ ﻋﻨﺪﻫﻢ. ﻭﰲ ﻇﲏ ﺃﻥ ﺣﺘﻤﻴﺔ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﻭﻭﺣﺪﺓ ﺍﳌﺼﲑ ﺳﺘﺤﺘﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺎﻣﻠﲔ ﻟﻺﺳﻼﻡ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻧﻮﺍ ﻭﺣـﺪﺓ ﰲ ﺁﺧـﺮﺍﳌﻄﺎﻑ.

“Perjumpaan para aktivis (kelompok-kelompok) Islam dan upaya mendiskusikan prioritas (dakwah) mereka dan prinsip-prinsipnya, serta saling keterbukaan (satu kelompok) terhadap yang lain dan mengenali apa yang ada pada kelompok lain, dalam dugaanku bahwa pelaksanaan kerja dan persatuan akhir menjadi suatu keharusan dan wajib atas para aktivis (kelompok) Islam untuk kemudian mereka menjadi satu pada akhir putaran (dakwah).”

Kemudian Abdurrahman Abdul Khaliq melanjutkan,

ﻭﺑﺎﻟﺘﺎلي سيجد ﺃﻫﻞ ﺍﳋﲑ ﻭﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻣﻨﺎﺹ ﳍﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻌﺎﻭﻥ ﻭﺍﻟﺘﺂﺯﺭ…

ﺑﻞ ﳚﺐ ﺃﻥ ﻳﺴﻌﻰ ﻛﻞ ﺍﻟﻌﺎﻣﻠﲔ ﻟﻺﺳﻼﻡ، ﻭﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻓﺈﻧﲏ ﻻ ﺃﻗﻮﻝ ﳚﺐ ﺃﻥ ﻧﺼﱪ ﺣﱴ ﺗﻠﺠﺌﻨﺎ ﺍﻟﻈﺮﻭﻑ ﺇﱃ ﺍﻟﺘﻌﺎﻭﻥ، ﺇﱃ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻧﻮﺍ ﺇﺧﻮﺓ ﻣﺘﺤﺎﺑﲔ ﻣﺘﻨﺎﺻﺮﻳﻦ، ﻭﺃﻥ ﻳﻜﻮﻧﻮﺍ صفا ﻭﺍﺣﺪﺍ ﰲ ﻭﺟﻪ ﺍلمجرﻣﲔ ﻣﻦ ﺍﳌﻠﺤـﺪﻳﻦ ﻭﺃﻻ ﻳﻨﺘﻈﺮﻭﺍ ﺣﱴ ﺗﻠﺠﺌﻬﻢ ﺍﻟﻈﺮﻭﻑ ﺇﱃ ﺫﻟﻚ، ﺑﻞ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺃﻥ ﻳﻌﻤﻠﻮﺍ ﻟﻠﻮﺣﺪﺓ ﻭﺍﻟﺘﺂﻟﻒ ﻭﺍﻟﺘﺂﺯﺭ ﻣﻦ ﺍﻵﻥ.

“Dan selanjutnya para aktivis kebaikan dan dakwah pasti akan mendapatkan (keadaan) tak terelakkan lagi bagi mereka untuk segera saling menolong dan saling menguatkan…

bahkan wajib atas setiap aktivis untuk berupaya demi Islam ini , bersama itu saya tidak mengatakan bahwa kita wajib bersabar (dalam kondisi seperti ini) hingga keadaan mengharuskan kita untuk saling menolong, maka baru kita akan menjadi saudara yang saling mencintai dan saling menguatkan, atau baru akan menjadi satu barisan di hadapan orang-orang jahat dari kalangan orang-orang kafir, maka hendaknya mereka (para aktivis kelompok Islam) tidak lagi menunggu hingga kondisi akan memaksa mereka untuk itu (bersatu/bersaudara), justru wajib atas mereka (para aktivis kelompok Islam) untuk segera berupaya mewujudkan persatuan dan upaya saling bergabung serta saling menguatkan sejak sekarang!”

Masih dalam karyanya yang berjudul “al-Washaya al-‘Asyr lil ‘Amilin bid Da’wati Ilallahi Ta’ala” (Sepuluh Wasiat Untuk Para Aktivis Dakwah Kepada Allah Ta’ala), Abdurrahman Abdul Khaliq kembali menegaskan,

ﻭﻣﻊ ﻫﺬﺍ ﻓﺄﻧﺎ ﻻ ﺃﺷﻚ بتاﺗﺎ ﺃﻥ ﻣﺼﲑ الفرﻗﺔ ﺑﲔ ﺍﳉﻤﺎﻋﺎﺕ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ ﺇﱃ ﺯﻭﺍﻝ وأنه لا مناص لهم عن ﺍﻟﺘﺂﺧﻲ ﻭﺍﻟﺘﺂﺯﺭ.

ﻭﺃﻧﺎ ﻻ ﺃﺩﻋﻮ ﺑﺎﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﺇﱃ ﺩﻣﺞ ﺍﳉﻤﺎﻋﺎﺕ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ ﰲ ﲨﺎﻋﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ، ﻓﻬﺬﺍ ﻻ ﺷﻚ ﻓﻴﻪ ﺍﺳﺘﺤﺎﻟﺔ ﻭﺑﻌـﺪ ﻋﻦ ﺍﻟﻮﺍﻗﻊ ﻭﺍﳌﻌﻘﻮﻟﻴﺔ ﰲ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺍﳊﺎﺿﺮ، ﻭﺇﳕﺎ ﺃﺩﻋﻮ ﺇﱃ ﺍﻟﻮﻗﻮﻑ ﺻﻔﺎ ﻭﺍﺣﺪﺍ في ﺍﻟﻘﻀﺎﻳﺎ ﺍﻟﻌﺎﻣﺔ، وحرب ﺃﻋﺪﺍﺀ ﺍﷲ ﻭﺃﻋﺪﺍﺀ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﻭﺩﻳﻨﻪ. ﻭﺃﻣﺎ ﰲ ﺃﻣﻮﺭ ﺍﻟﺘﺮﺑﻴﺔ ﺍﳋﺎﺻﺔ ﻭﺍﻷﻭﻟﻮﻳﺎﺕ ﻭﺍﻻﻫﺘﻤﺎﻣﺎﺕ ﻓﻼ ﺷﻚ ﺃﻧﻪ ﻛﻠﻤﺎ ﻛـﺎﻥ ﻫﻨﺎﻙ ﻟﻘﺎﺀ ﻛﺎﻥ ﻫﻨﺎﻙ ﺗﻘﺎﺭﺏ، وكلما ﻛﺎﻥ ﻫﻨﺎﻙ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﲨﺎﻋﺔ ﰲ ﺍﻟﻘﻄﺮ ﺍﻟﻮﺍﺣﺪ ﻛﺎﻥ ﻫﻨﺎﻙ ﳎـﺎﻝ ﻋﻈـﻴﻢ ﻟﻠﺘﻨﺎﻓﺲ ﰲ ﺍﳋﲑ ﻭﺍﻟﺘﺴﺎﺑﻖ ﺇﱃ ﺍﻹﺣﺴﺎﻥ ﻭﺇﱃ ﺗﻄﻮﻳﺮ ﻛﻞ ﲨﺎﻋﺔ ﻟﻌﻤﻠﻬﺎ ﻭﺍﻫﺘﻤﺎﻣﻬـﺎ ﺑﻨـﺸﺎﻃﻬﺎ… ﻭﺃﻣﺎ ﻭﺟﻮﺩ ﲨﺎﻋﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻟﻠـﺪﻋﻮﺓ ﰲ ﺍﻟﻘُﻄـِﺮﺍﻟﻮﺍﺣﺪ، ﻓﺈنها ﺑﺎﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﺗﺆﺩﻱ ﺇﱃ ﺍﻟﺮﺗﺎﺑﺔ ﻭﺍﳋﻤﻮﻝ ﻭﺍﻟﻜﺴﻞ

ﻭﺍﳋﻼﺻﺔ ﺃﻧﲏ ﺃﺩﻋﻮ ﺇﱃ ﺍﻟﺘﻘﺎﺭﺏ ﻭﺍﻟﺘﻨﺴﻴﻖ ﺑﲔ ﺍﳉﻤﺎﻋﺎﺕ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ، ﻭﻓﺘﺢ مجالات الحوار واللقاء.

“Dan bersama ini saya tidak ragu sedikitpun, bahwa perselisihan antar kelompok-kelompok Islam akan segera sirna, dan mereka tak akan terelakkan lagi dari keharusan saling bersaudara dan saling menguatkan.

Saya tidak menyeru kepada keharusan menggabungkan kelompok-kelompok Islam dalam satu kelompok saja, karena tidak diragukan untuk zaman sekarang, hal itu mustahil dan jauh dari realita dan logika, namun saya menyeru (kelompok-kelompok Islam) untuk berada dalam satu barisan dalam menyikapi permasalahan-permasalahan global dan dalam memerangi musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya serta agama-Nya. Sementara untuk permasalahan pembinaan yang bersifat khusus (pada masing-masing kelompok) dan skala prioritas masing-masing, tidak diragukan lagi jika di sana ada pertemuan (antar kelompok) maka akan terwujud pendekatan, dan jika di satu wilayah didapati lebih dari satu jama’ah/kelompok maka di situ akan terbuka peluang besar untuk saling berkompetisi dalam kebaikan dan pengembangan kegiatan serta program masing-masing kelompok…

Sementara keberadaan hanya satu jama’ah/satu kelomoak dakwah dalam satu wilayah secara pasti akan menimbulkan kondisi yang statis, lemah, dan malas…

Kesimpulannya bahwa saya menyeru kepada pendekatan dan koordinasi antar kelompok-kelompok Islam dan membuka berbagai kesempatan dialog dan pertemuan.”

Para pembaca yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Ta’ala, perhatikanlah dengan seksama beberapa petikan ringkas ucapan Abdurrahman Abdul Khaliq di atas. Ucapan perintis kelompok Ihyaut Turats (IT) ini menunjukkan kepada kita bahwa:

  1. Abdurrahman Abdul Khaliq menyeru umat Islam untuk tetap berkelompok-kelompok dengan berbagai latar belakang aqidah dan ideologi yang berbeda-beda, bahkan saling bertolak belakang.
  2. Abdurrahman Abdul Khaliq dan juga Ihyaut Turats benar-benar berada di atas pola pikir dan manhaj kelompok ekstrim Ikhwanul Muslimin, sebuah kelompok yang banyak lahir darinya beragam kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam.

Prinsip atau ideologi Abdurrahman Abdul Khaliq inipun diyakini sebagai kebenaran dan banyak diterapkan oleh Yayasan Ihyaut Turats, baik yang tertuang dalam berbagai statemen para pimpinan terasnya, maupun yang terwujud dalam berbagai program dan kegiatan kerjasamanya dengan berbagai kelompok dan organisasi radikal di negara Kuwait dan lainnya, baik kelompok radikal yang berhaluan Khawarij maupun Syi’ah.

Pertanyaan penting

Bagaimana pandangan Islam terhadap dua pola pikir Abdurrahman Abdul Khaliq dan Yayasan Ihyaut Turats di atas?

Silakan ikuti penjelasannya berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah dalam bingkai pemahaman generasi salaf, serta keterangan dan fatwa ulama umat yang mengekuti jejak salaf, in syaa Allah pada bagian ketiga tulisan ini.

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *