Bolehkah Kaum Wanita Menghadiri Shalat Jenazah di Masjid?

Bagikan :

Bolehkah Kaum Wanita Menghadiri Shalat Jenazah di Masjid?

Jawaban:

Boleh bagi kaum wanita shalat jenazah sebagaimana hal itu boleh bagi kaum pria, baik shalat jenazah tersebut dilaksanakan di masjid maupun di rumah atau di tanah lapang.

Untuk lebih lengkapnya, kami kutipkan di sini fatwa beberapa ulama senior:

1. Fatwa al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz dalam kitab “ad-Durar ats-Tsariyyah Minal Fatawal Baziyah”, hal. 179-180

س: يلحظ أن المرأة لا تحضر صلاة الجنازة، والسؤال لفضيلة الشيخ: هل ذلك ممنوع شرعاً ؟

ج: الصلاة على الجنازة مشروعة للرجال والنساء، لقول النبي -صلى الله عليه وسلم-: «من شهد الجنازة حتى يصلى عليها فله قيراط ومن شهدها حتى تدفن فله قيراطان» قيل: يا رسول الله وما القيراطان؟ قال: «مثل الجبلين العظيمين» يعني من الأجر. متفق على صحته.

لكن ليس للنساء اتباع الجنائز إلى المقبرة، لأنهن منهيات عن ذلك، لما ثبت في الصحيحين عن أم عطية -رضي الله عنها- قالت: «نهينا عن اتباع الجنائز ولم يعزم علينا»

أما الصلاة على الميت فلم تنه عنها المرأة، سواء كانت الصلاة عليه في المسجد أو في البيت أو في المصلى، وكان النساء يصلين على الجنائز في مسجده صلى الله عليه وسلم مع النبي -صلى الله عليه وسلم- وبعده.

وأما الزيارة للقبور فهي خاصة بالرجال كاتباع الجنائز إلى المقبرة، لأن الرسول -صلى الله عليه وسلم- لعن زائرات القبور، والحكمة في ذلك – والله أعلم – ما يخشى في اتباعهن الجنائز إلى المقبرة وزيارتهن للقبور من الفتنة بهن وعليهن، ولقوله- صلى الله عليه وسلم-: «ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء» متفق على صحته. وبالله التوفيق.

Pertanyaan:

Terlihat (di tempat kami) bahwa kaum wanita tidak menghadiri shalat jenazah. Pertanyaannya kepada syaikh yang mulia: Apakah hal itu dilarang secara syariat?

Jawaban:

Shalat jenazah disyariatkan bagi laki-laki dan juga wanita, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Barang siapa menghadiri jenazah hingga dishalatkan, maka baginya satu qirath. Dan barang siapa menghadirinya hingga dikuburkan, maka baginya dua qirath.”

Para sahabat bertanya,

“Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dua qirath itu?”

Beliau menjawab,

“Seperti dua gunung yang besar.”

Maksudnya adalah pahala yang sangat besar. Hadits ini Muttafaq ‘Alaih (disepakati keshahihannya oleh Imam al-Bukhari dan Muslim).

Namun, wanita tidak diperbolehkan mengikuti jenazah hingga ke pemakaman, karena mereka telah dilarang melakukan hal itu. Sebagaimana riwayat yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

“Kami dilarang mengikuti jenazah, namun larangan itu tidak ditegaskan secara keras kepada kami.”

Adapun shalat jenazah, maka wanita tidak dilarang melakukannya, baik shalat tersebut dilaksanakan di masjid, di rumah, maupun di musalla (tanah lapang untuk shalat jenazah).

Dahulu para wanita juga ikut menshalatkan jenazah di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama beliau dan setelah wafatnya beliau.

Sedangkan ziarah kubur adalah kekhususan bagi laki-laki, sebagaimana mengikuti jenazah hingga ke pemakaman (juga khusus bagi laki-laki).

Hal itu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat para wanita yang berziarah kubur.

Hikmah dari larangan tersebut –wallahu a’lam– adalah karena ketika (para wanita) mengikuti jenazah hingga ke pemakaman atau (ketika mereka) berziarah kubur, maka hal itu dikhawatirkan timbul fitnah pada diri mereka atau (timbul fitnah) karena mereka.

Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada fitnah wanita.”

Hadits ini juga Muttafaq ‘Alaih.

Dan hanya kepada Allah-lah (kami memohon) taufik.

Sumber: Fatwa Abdul Aziz ibn Baz, Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah, jilid 13, hlm. 133.

 

Loading

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *