Dakwah Nabi dan Gangguan yang Pasti Dialami

Bagikan :

Allah Subhanahu Wata’ala telah mengabarkan sebagian nabi yang agung ‘alaihimussalam, bagaimana mereka menghadapi kaumnya, dan bagaimana mereka berjalan di atas rambu-rambu yang Allah Subhanahu Wata’ala tetapkan untuk mereka. Begitupula bagaimana mereka berada pada manhaj yang telah Allah Subhanahu Wata’ala tetapkan untuk para nabi semua, tidak ada seorang pun dari mereka yang berpaling dari ketetapan tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (25) أَنْ لَا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ (26) فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ (27)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan.” Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Hud: 25-27)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ (65) قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (66) قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (67) أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ (68) أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً فَاذْكُرُوا آَلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (69) قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آَبَاؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (70) قَالَ قَدْ وَقَعَ عَلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ رِجْسٌ وَغَضَبٌ أَتُجَادِلُونَنِي فِي أَسْمَاءٍ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآَبَاؤُكُمْ مَا نَزَّلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ (71) فَأَنْجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَقَطَعْنَا دَابِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَمَا كَانُوا مُؤْمِنِينَ (72)

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta.” Hud herkata “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Ia berkata: “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu.” Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yamg menunggu bersama kamu.” Maka kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman.“ (QS. al-A’raf: 65-72)


Baca juga: Manhaj Para Nabi dalam Berdakwah di Jalan Allah


Demikianlah dakwah seluruh nabi ‘alaihimussalam. Semuanya berjalan di atas manhaj ini dalam berdakwah kepada Tauhidullah dan seruan pertama mereka untuk mengajak beribadah hanya kepada-Nya semata. Justru kaum mereka -kecuali yang diberi hidayah oleh Allah- menghadapinya dengan olok-olok, mendustakan, dan ejekan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ (6) وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (7)

“Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.“ (QS. az-Zukhruf: 6-7)


Baca juga: Gangguan dan Rintangan Yang Dialami Oleh Dakwah Ahlus Sunnah, Sebuah Kemestian


Betapa dahsyatnya pendustaan, ejekan, dan cemoohan terhadap jiwa-jiwa yang beriman nan agung. Sungguhnya hal itu lebih berat menimpa mereka daripada tajamnya pedang, penjara, dan siksaan. Seorang penyair Arab mengungkapan dalam syairnya:

وظلم ذوي القربى أشد مضاضة 

على النفس من وقع الحسام المهند

Kezhaliman karib kerabat itu lebih tajam

Terhadap jiwa daripada tajamnya pedang dari India

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah pernah menimpamu suatu peristiwa yang lebih berat daripada perang Uhud?”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ ما لقيت، وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ، إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ، فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي، فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وأنا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ، قَدْ أَظَلَّتْنِي، فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ، فَنَادَانِي، فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رُدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ الله إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ، لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ، فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ، فسَلَّمَ عَلَيَّ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ، وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ، وَقَدْ بَعَثَنِي رَبّي إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِي بِأَمْرِكَ، فَمَا شِئْتَ؟ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ أَرْجُو الله أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Sungguh aku telah mengalami perlakuan sedemikian rupa dari kaummu. Perlakuan mereka yang paling berat yang aku alami adalah saat peristiwa hari Aqabah. Ketika aku mengajak Ibnu Abdi Yalail bin Abdi Kulal masuk Islam, tetapi ia tidak menyambut ajakan yang aku inginkan. Aku pun beranjak pergi dengan perasaan sangat sedih. Tidaklah aku tersadar melainkan setelah tiba di Qarnuts Tsa’alib. Aku tengadahkan kepalaku ke langit, tiba-tiba ada segumpal awan menaungiku. Aku mengangkat kepalaku, ternyata di sana ada malaikat Jibril dan berseru kepadaku, “Sungguh Allah telah mendengar ucapan kaummu dan penolakan mereka terhadapmu. Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung kepadamu, agar kamu memerintahkan kepadanya sesuai yang kamu inginkan atas mereka.” Kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku, lalu berkata, “Wahai Muhammad, sungguh Allah telah mendengar ucapan kaummu terhadapmu, aku adalah malaikat penjaga gunung, Rabbku mengutusku kepadamu agar kamu memerintahkan kepadaku sesuai dengan perintahmu, apa yang kamu inginkan? Bila kamu menghendaki, aku akan menimpakan dua gunung itu kepada mereka.”

Rasulullah mengatakan kepadanya, “Justru aku berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”[1]


Baca juga: Tauhid Uluhiyyah dan Urgensinya


Buku-buku sejarah telah menyebutkan sebagian jawaban orang-orang musyrikin yang mengolok-olok beliau dan sikap mereka yang menghinakan itu. Disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi sekelompok pemuka dan orang-orang terhormat di kalangan Bani Tsaqif. Mereka adalah tiga bersaudara, yaitu Abdu Yalail, Mas’ud, dan Habib.

Duduklah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hadapan mereka, lalu mengajak mereka kepada agama Allah Subhanahu Wata’ala dan menyampaikan kepada mereka apa yang akan mereka dapatkan (kalau menerima Islam) berupa pertolongan terhadap Islam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajak mereka untuk berpartisipasi bersama di dalam menghadapi kaum yang menyelisihi beliau.

Ternyata salah seorang di antara mereka berujar, “Dia akan melepas dan membuang kain penutup Ka’bah, jika Allah memang mengutusmu.”

Sebagian mereka menimpali, “Apakah Allah tidak menemukan seseorang selain kamu untuk diutus?”

Ada yang menambahkan, “Demi Allah, aku tidak akan berbicara denganmu selamanya. Jika kamu memang benar diutus oleh Allah sebagaimana yang kamu katakan, maka tentu kedudukanmu lebih agung daripada aku menjawab ucapanmu. Namun apabila kamu berdusta atas nama Allah, maka tidak sepantasnya bagiku untuk berbicara denganmu.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pergi, dan beliau telah putus asa dari mendapatkan kebaikan Bani Tsaqif.[2]

Inti serta substansi pembahasan dari hadits dan kisah di atas adalah bahwa cemooh, ejekan, dan gangguan kaum musyrikin bodoh yang dialami para Nabi itu lebih berat bagi mereka daripada segala bentuk musibah, bahkan peperangan sekalipun yang padanya banyak nyawa hilang dan darah para sahabat beliau tertumpah.

Pada peperangan Uhud, lebih dari 70 shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang terbunuh sebagai syahid, di antaranya Mush’ab bin ‘Umair, Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau sendiri terluka dan patah giginya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat radhiyallahu ‘anhum kerap menjumpai gangguan dari kaum munafikin, begitupula yang sering mereka temui sebelum itu di kota Makkah, pada perang Badr, dan berbagai peristiwa lainnya. Walaupun demikian, gangguan terberat yang beliau alami adalah ketika peristiwa di Thaif tersebut, karena beliau mendapatkan beban cemoohan dan penghinaan yang tidak bisa ditanggung oleh jiwa yang agung.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أشد الناس بلاء الأنبياء، ثم الأمثل، فالأمثل

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan yang semisalnya.”[3]

Yang dimaksud dengan orang semisal Nabi, kemudian yang semisalnya, adalah orang-orang shalih yang berjalan di atas manhaj mereka dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Mereka adalah para da’i yang menyerukan sebagaimana yang diserukan oleh para nabi, yaitu ajakan kepada Tauhidullah, mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, dan meninggalkan kesyirikan/meyekutuan Allah dengan selain-Nya. Hingga mereka pun juga mengalami gangguan dan cobaan sebagaimana yang dialami oleh teladan mereka, yaitu para Nabi ‘alaihimussalam.

Diterjemahkan dari: Manhajul Anbiya’ fi ad-Da’wah ilallah fihi al-Hikmah wal ‘Aql, hal. 41-45

[1] HR. al-Bukhari dan Muslim.

[2] Lihat al-Bidayah wan Nihayah, (3/135).

[3] HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan lainnya.

Loading

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *