Hukum Meninggalkan Shalat Lima Waktu dengan Sengaja

Shalat Lima Waktu yang merupakan Rukun Islam yang kedua, adalah suatu amal wajib yang harus ditegakkan oleh setiap muslim. Barang siapa sengaja meninggalkannya maka dia akan terkenai vonis yang sangat berat dalam tinjauan syariat Islam.

Pembahasan ini meliputi dua sisi permasalahan:

Pertama: Orang yang meninggalkannya karena faktor keyakinan bahwa Shalat Lima Waktu tidak wajib, sehingga boleh bagi seorang muslim tidak mengerjakannya.

Untuk permasalahan pertama ini para ulama Islam telah berkonsensus (bersepakat) bahwa orang tersebut divonis sebagai Kafir yang telah keluar dari bingkai Islam atau disebut Murtad. Semoga Allah melindungi kita dan seluruh kaum muslimin dari kejelekan ini.

Kedua: Orang yang meninggalkannya karena malas atau bermudah-mudahan, dengan tetap beriman bahwa Shalat Lima Waktu adalah kewajiban yang tidak boleh bagi seorang muslimpun meninggalkannya walau hanya sekali.

Untuk permasalahan kedua ini, Fatwa ulama Islam terbagi menjadi dua:

  1. Orang tersebut divonis Kafir keluar dari bingkai Islam, ini adalah pendapat para ulama besar dari kalangan sahabat Nabi, seperti Umar bin al-Khaththab, Mu’adz bin Jabal, Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Jabir bin Abdillah, Abu Addarda radhiyallahu’anhum. Sementara dari kalangan ulama Tabi’in antara lain Ibrahim an-Nakha’i, kemudian ulama Tabi’it Tabi’in antara lain Ibnul Mubarak, Ayyub as-Sikhtiyani, Ishak bin Rahuyah, Ahmad bin Hambal dan Abu Bakr bin Abi Syaibah rahimahumullahu.

    Dalil pendapat ini antara lain:

    a. Ayat ke 42-43 surat al-Muddatstsir:

    { مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّين } [المدثر/42، 43]

    “Apakah yang memasukkan kalian ke dalam Saqar (neraka). Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat”.”

    b. Hadits yang diriwayatkan dari sahabat Jabir radhiyallahu’anhu, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    « إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ ».

    “Sesungguhnya pembatas antara seorang hamba dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan Shalat (Lima Waktu).” [1]

    c. Hadits yang diriwayatkan dari sahabat Buraidah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    « الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ ».

    “Perjanjian antara kami (kaum Mukmin) dengan mereka (kaum kafir) adalah Shalat, barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” [2]

  2. Tetap dinilai sebagai Muslim, tetapi dia telah terjatuh dalam dosa dan kefasikan yang sangat besar melebihi keumuman dosa-dosa besar lainnya seperti dosa Zina, minum khamer, Riba dan lain-lain.
    Ini adalah pendapat Jumhur (mayoritas) ulama, antara lain al-Imam Malik, al-Imam asy-Syafi’i, al-Imam Ahmad (dalam salah riwayat fatwa beliau), al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab, al-Albany, Prof. DR. Rabi’ bin Hady ulama senior Madinah, dan lain-lain.Dalil-dalil pendapat yang kedua ini antara lain:a. Ayat ke 48 dan 116 surat an-Nisa:

    { إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاء }[النساء/48 و116]

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”

    Para Ulama tersebut mengatakan: Jelas dan tegas dalam ayat di atas, bahwa Allah Ta’ala masih mengampuni dosa selain dosa syirik bagi yang dikehendaki-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa dosa meninggalkan shalat bukan sebuah kekufuran, sehingga pelakunya tidak boleh divonis Kafir.

    b. Hadits yang diriwayatkan dari sahabat Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    « خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ ».

    “Shalat Lima Waktu telah Allah wajibkan kepada para hamba, barang siapa yang menegakkannya dan tidak pernah menyia-nyiakannya sedikitpun karena meremehkan kedudukannya, maka ketetapan (keutamaan) dari Allah baginya untuk memasukkannya ke dalam Surga, dan barang siapa tidak menunaikannya maka tidak ada keutamaan dari Allah baginya, bisa saja Allah berkehendak menyiksanya dan bisa saja berkehendak memasukkannya ke dalam Surga.”[3]

    Dalam hadits di atas dengan tegas Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan Shalat bisa saja Allah berkehendak menyiksanya dan bisa saja berkehendak memasukkannya ke dalam Surga. Hal ini menunjukkan dia belum sampai pada derajat Kafir. Karena kalau telah dinilai Kafir keluar dari Islam, maka pasti Allah masukkan dia ke Neraka dan kekal di dalamnya.

    Kemudian, berdasarkan ayat dan hadits di atas, para ulama yang berpendapat dengan pendapat kedua mengklarifikasi dalil-dalil pendapat pertama dengan beberapa bentuk klarifikasi, antara lain: bahwa kata “Kafir” dalam hadits tersebut tidak bermakna kekufuran akbar (besar) yang mengeluarkan pelakunya dari bingkai Islam, melainkan kufur Ashghar (kecil) yang pelakunya dinilai sebagai Fasiq masih muslim dan bukan Kafir.

    Selesai

[1] HR. Muslim dalam shahihnya no. 82.
[2] HR. Ahmad dan ashhabus sunan dishahihkan oleh Al Albani.
[3] HR. Abu Daud dalam  Musnadnya no. 1420, Ath-Thobroni no. 2181, Al Baihaqi no. 2226,  dishahihkan oleh Al Albani.
Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *