Salah satu permasalahan penting yang sering ditanyakan terkhusus oleh saudara kita yang akan atau sedang berumroh adalah hukum melakukan umroh lebih dari sekali dalam satu perjalanan dari tanah air dengan jarak hari yang berdekatan antara umroh pertama dengan umroh berikutnya.
Untuk mengetahui jawaban tentang permasalahan ini mari kita ikuti fatwa dan jawaban para ulama senior, antara lain jawaban dan fatwa al-’Allamah Sholih bin Fauzan al-Fauzan terhadap pertanyaan yang diajukan kepada beliau sebagaimana disebutkan dalam kitab “al-Muntaqo min Fatawa al-Fauzan” (juz ke 52 halaman 18), pertanyaan no 280:
بفضل الله وتوفيقه أديت عمرة أحرمت لها من يلملم وأنا قادم من جنوب المملكة، وبعد قضاء أسبوع في مكة 280 ،المكرمة، شددت الرحال لزيارة مسجد النبي صلى الله عليه وسلم بالمدينة وعند رجوعي أحرمت من آبار علي في طريقي إلى مكة، وأديت عمرة أخرى؛ فهل تصح هذه العمرة الثانية؛ علمًا بأن المدة. بين العمرتين لا تزيد على عشرة أيام ؟ أفيدوني أفادكم الله وسدد خطاكم
Pertanyaan:
Dengan karunia dan bimbingan Allah semata aku dapat menunaikan umroh, aku berihram untuk umroh tersebut dari miqat Yalamlam karena aku datang dari arah selatan Arab Saudi. Setelah berlalu waktu sepekan di Makkah al-Mukarramah aku melakukan safar untuk mengunjungi masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah
Dan saat aku kembali ke Makkah aku berihram dari miqat Aabar Ali (Dzulhulaifah, pent), kemudian aku menunaikan umroh yang berikutnya.
Apakah umroh yang kedua ini sah? Padahal jarak waktu antara dua umroh tersebut tidak lebih dari sepuluh hari.
(wahai syeikh Sholeh al-Fauzan, pent ) Berikanlah kepadaku sebuah manfaat (ilmu/fatwa, pent) semoga dengan itu Allah memberikan kepada engkau manfaat dan selalu meluruskan langkah- langkahmu.
الجواب:
لا بأس بما فعلت من تكرار العمرة، ولو كان في وقت متقارب؛ لأنك لما جئت من المدينة قادمًا إلى مكة ومررت بالميقات فإنه قد سنحت لك فرصة لأداء العمرة، وخروجًا من الخلاف بين أهل العلم؛ لأن منهم من يوجب على من مرّ بالميقات وهو، يريد مكة أن لا يتجاوزه إلا بإحرام؛ فأنت أخذت بالجانب الأحوط وأيضًا استفدت من هذه الفرصة الثمينة، فأحرمت بعمرة، وهذا زيادة خير تؤجر عليه إن شاء الله، وتكرار العمرة في مثل هذه الحالة لا حرج فيه؛ لأنه جاء لمبرر. اه
Jawaban:
Tidak mengapa (boleh) pengulangan umroh seperti yang Anda lakukan itu walaupun dalam jarak waktu yang berdekatan, karena ketika Anda datang dari Madinah menuju Makkah, Engkau melalui miqat (yaitu Dzulhulaifah, pent), maka itu membuka kesempatan bagi Anda untuk melakukan umroh, dan juga dalam rangka keluar dari perbedaan pendapat antar ulama (dalam permasalahan ini, pent), karena ada diantara ulama tersebut yang mewajibkan bagi orang yang melewati miqat dalam keadaan dia ingin ke Makkah untuk tidak melewatinya kecuali dengan melakukan ihram (baik untuk umroh maupun haji, pent), maka dengan itu Anda telah mengambil langkah yang menghindarkan Anda dari kesalahan sekaligus dirimu mendapatkan manfaat dari kesempatan yang berharga tersebut, sehingga Anda dapat berihram lagi untuk melakukan umroh, maka ini adalah suatu tambahan kebaikan yang Anda diberi pahala atasnya insyaallah. Maka hukum pengulangan umroh dalam kondisi seperti ini tidak mengapa, karena memang ada alasan yang membolehkannya. Selesai.
![]()