Manhaj Dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam dan Kesabaran Beliau dalam Menghadapi Kaumnya

Bagikan :

Sesungguhnya pembahasan tentang perjalanan dakwah Tauhidullah yang diusung oleh para Nabi ‘alaihimussalam dan manhaj mereka, serta teror, bencana, dan ujian yang mereka temui, tidak cukup dibahas panjang lebar di tulisan sini.

Aku (Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah) akan cukupkan pembahasan seputar dakwah lima sosok nabi shalawatullahi wasalamuhu ‘alaihim, yang mana hal tersebut akan menjadikan kita di atas manhaj yang putih bersih, terang laksana kondisi malam yang tetap terang seperti siang, tidak ada seorang pun yang menyimpang darinya kecuali pasti akan binasa.


Baca juga: Manhaj Para Nabi dalam Berdakwah di Jalan Allah


Pertama: Nabi Nuh ‘alaihissalam

Beliau adalah ayah kedua bagi umat manusia dan rasul pertama yang diutus oleh Allah Subhanahu Wata’ala bagi penduduk bumi. Sosok nabi yang agung ini hidup dalam kurun waktu yang sangat lama dan panjang, 950 tahun lamanya, beliau tinggal di tengah-tengah kaumnya untuk berdakwah mengajak mereka kepada Tauhidullah dan mengikhlaskan ibadah murni untuk Allah Subhanahu Wata’ala semata. Tak lelah dan tak jemu, sepanjang malam dan siang, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, terus berdakwah di jalan Allah Subhanahu Wata’ala.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (1) قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (2) أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ (3) يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (4) قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا (5) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (6) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آَذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا (7) ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا (8) ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا (9) فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا (13) وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا (14) أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا (15) وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا (16) وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا (17) ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا (18) وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا (19) لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا (20) قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا (21) وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا (22) وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (23) وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا (24) مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا (25)

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”, Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kalian, (yaitu) beribadahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kalian mengetahui.”

Nuh berkata: “Wahai Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.

Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untuk kalian sungai-sungai.

Mengapa kalian tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kalian dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kalian perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kalian dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kalian ke dalam tanah dan mengeluarkan kalian (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untuk kalian sebagai hamparan, supaya kalian menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu.”

Nuh berkata: “Wahai Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar.” Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.“ (QS. Nuh: 1-25)

Apa dakwah rasul mulia yang telah Allah ceritakan kepada kita inti dakwah beliau selama 950 tahun tersebut?

Sesungguhnya dakwah beliau merupakan seruan kepada Tauhidullah dan ajakan untuk mempersembahkan seluruh ibadah hanya kepada-Nya semata. Ini semua dilakukan dengan kesungguhan dan keseriusan yang berkesinambungan.


Baca juga: Tauhid Uluhiyyah dan Urgensinya


Tidaklah satupun wasilah (sarana dan metode dakwah) yang memungkinkan beliau lakukan, pasti beliau menggunakan wasilah tersebut agar kaumnya rela dan menerima dengan dakwah beliau, baik metode dakwah secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, dengan targhib (memberikan motivasi agar menerima dakwah beliau) maupun tarhib (menyampaikan ancaman agar mereka takut terhadap Rabbnya), dengan memberikan janji (bagi yang menerima dakwah belau) maupun menyampaikan berita ancaman hukuman (bagi yang enggan).

Beliau juga berdakwah dengan metode menyampaikan hujjah dan dalil ‘aqliyyah maupun hissiyyah, berupa peristiwa-peristiwa yang menimpa mereka, kehidupan mereka, dan segala yang terjadi di sekitar mereka, di langit dan di bumi ini, serta segala tanda-tanda kebesaran Allah dan berbagai pelajaran berharga yang ada di dalamnya.

Namun itu semua tidak memberikan manfaat bagi mereka dan tidak mendorong mereka untuk menerima dakwah Nabi Nuh. Bahkan mereka terus-menerus dengan kekufuran dan kesesatannya, serta menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat.

Mereka terus saja bergantung dan beribadah kepada berhala-berhala dan sesembahan-sesembahan mereka yang batil. Hingga kekufuran yang terus-menerus dan kesombongan mereka itu mengakibatkan kebinasaan dan kehancuran di dunia, dan di akhirat akan dimasukkan ke dalam neraka, kekal di dalamnya.

Diterjemahkan dari: Manhajul Anbiya’ fi ad-Da’wah ilallah fihi al-Hikmah wal ‘Aql, hal. 47-48

Loading

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *