Untuk melengkapi jawaban pada bagian pertama, mari kita ikuti fatwa ulama dan pakar fikih terkemuka abad ini, yaitu al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah (wafat 1421 H). Berikut ini kutipannya.
قال العلامة محمد بن صالح العثيمين كما في “مجموع فتاوى ورسائل العثيمين” (٦٩/٢٠):
هل يجوز تخصيص ليلة سبع وعشرين من رمضان بعمرة أفتونا مأجورين؟
فأجاب فضيلته بقوله: قال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عمرة في رمضان تعدل حجة» وهذا يشمل أول رمضان وآخر رمضان.
أما تخصيص ليلة سبع وعشرين من رمضان بعمرة فهذا من البدع، لأن من شرط المتابعة أن تكون العبادة موافقة للشريعة في أمور ستة:
١ السبب. ٢ الجنس. ٣ القدر. ٤ الكيفية. ٥ الزمان. ٦ المكان.
وهؤلاء الذين يجعلون ليلة سبع وعشرين وقتاً للعمرة خالفوا المتابعة بالسبب، لأن هؤلاء يجعلون ليلة سبع وعشرين سبباً لمشروعية العمرة، وهذا خطأ، فالنبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لم يحث أمته على الاعتمار في هذه الليلة، والصحابة رضي الله عنهم وهم أحرص على الخير منا لم يحثوا على الاعتمار في هذه الليلة، ولم يحرصوا على أن تكون عمرتهم في هذه الليلة، والمشروع في ليلة القدر هو القيام؛ لقول النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «من قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه».
فإن قال قائل: إذا كان الرجل قادماً من بلده في هذه الليلة وهو لم يقصد تخصيص هذه الليلة بالعمرة، وإنما صادف أنه قدم من البلد في هذه الليلة واعتمر هل يدخل فيما قلنا أم لا؟
فالجواب: أنه لا يدخل؛ لأن هذا الرجل لم يقصد تخصيص هذه الليلة بعمرة.
Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata sebagaimana dalam “Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il al-‘Utsaimīn” (20/69), ketika beliau ditanya dengan pertanyaan sebagai berikut:
Apakah boleh mengkhususkan malam ke-27 Ramadhan untuk melakukan umrah? Mohon fatwanya, semoga Anda diberi pahala.
Maka beliau menjawab,
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Umrah di bulan Ramadhan setara dengan haji.”
Keutamaan ini mencakup awal Ramadhan dan akhir Ramadhan.
Adapun mengkhususkan malam ke-27 Ramadhan untuk umrah, maka itu termasuk bid‘ah. Karena syarat terwujudnya ittiba’ (prinsip mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah bahwa ibadah harus sesuai dengan syariat dalam enam perkara:
- Sebab (mengapa ibadah itu dilakukan)
- Jenis ibadah
- Kadar/jumlah
- Tata cara
- Waktu pelaksanaan
- Tempat (dilaksanakan ibadah tersebut)
Orang-orang yang menjadikan malam ke-27 sebagai waktu khusus untuk umrah telah menyelisihi prinsip ittiba’ (mengikuti praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) dari sisi sebab (kenapa ibadah itu dilakukan). Karena mereka telah menjadikan malam ke-27 sebagai sebab disyariatkannya umrah. Ini suatu kesalahan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk (secara khusus) berumrah pada malam (27 Ramadhan) tersebut.
Begitu juga para sahabat radhiyallahu ‘anhum, yang mana mereka itu (adalah orang-orang yang) lebih bersemangat dalam melakukan kebaikan daripada kita, juga tidak pernah menganjurkan (pengkhususan) umrah pada malam (27 Ramadhan) tersebut, dan tidak pula mereka berusaha agar umrah mereka bertepatan dengan malam itu.
Yang disyariatkan pada malam Lailatul Qadar adalah qiyam (shalat malam), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Barang siapa menegakkan (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka pasti diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Jika ada yang berkata,
Bagaimana jika seseorang datang dari negerinya pada malam itu tanpa berniat mengkhususkan malam ke-27 untuk umrah, tetapi kebetulan ia tiba pada malam tersebut lalu berumrah, apakah ia termasuk dalam permasalahan yang kita bicarakan (larangan mengkhususkan umrah pada malam ke-27 Ramadhan) tadi?
Jawabannya,
Tidak termasuk. Karena orang tersebut tidak berniat mengkhususkan malam itu untuk umrah.
Selesai kutipan dari kitab “Kumpulan Fatwa Dan Rasail (karya tulis) al-‘Utsaimin” (20/69).
SELESAI
![]()