Panduan Manasik Haji – Bagian Kedua

Bagikan :

2. Bersyukur

Seorang yang telah Allah subhanahu wa ta’ala beri nikmat dengan dimudahkan untuk memenuhi panggilan-Nya ke Tanah Suci, wajib bersyukur kepada-Nya dengan mewujudkan hal-hal berikut:

  • Menyadari dan meyakini bahwa nikmat tersebut datangnya dari Allah dan milik-Nya. Jangan ada sedikitpun keyakinan bahwa nikmat itu dia raih semata-mata karena perjuangan atau kepandaiannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةࣲ فَمِنَ ٱللَّهِۖ

“Dan segala nikmat yang ada pada kalian (datangnya hanya) dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)

  • Memuji Allah dengan segala bentuk pujian kesempurnaan.
  • Menggunakan dan meletakkan nikmat tersebut pada tempatnya, dengan cara beramal sesuai dengan yang disyariatkan dan tidak menggunakannya untuk hal-hal yang tidak diridhai-Nya.
  • Jika nikmat tersebut Allah berikan melalui bantuan dan peran seorang hamba yang mengulurkan bantuannya, banyak maupun sedikit, maka tidaklah terwujud syukur dia kepada Allah hingga dia bersyukur dan berterimakasih kepada hamba yang berbuat baik kepadanya tersebut, serta membalas kebaikannya dengan kebaikan pula. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ، وَتَرْكُهَا كُفْرٌ

“Barang siapa tidak bersyukur atas nikmat yang sedikit, maka ia tidak akan bersyukur atas nikmat yang banyak. Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia (yang berbuat baik kepadanya), maka sungguh ia tidak bersyukur kepada Allah. Dan menyebut-nyebut (menceritakan) nikmat Allah (yang diberikan kepadanya) adalah bentuk syukur, sedangkan meninggalkannya adalah kekufuran (ingkar nikmat).”

[HR. Ahmad dari riwayat sahabat an-Nu’man bin Basyir, dinilai sebagai hadits yang hasan (baik sanadnya) oleh al-Imam al-Albani dalam karya beliau ash-Shahihah, no. 667 dan Shahihut Targhib wat Tahrib, no. 976]

Kesimpulannya:

  • Orang yang tidak menghargai kebaikan kecil biasanya juga tidak akan menghargai kebaikan yang besar.
  • Bersyukur kepada manusia atas kebaikan mereka termasuk bagian dari syukur kepada Allah.
  • Menceritakan nikmat yang Allah berikan dengan tujuan bersyukur dan mengakui karunia-Nya adalah termasuk bentuk syukur, bukan riya’.
  • Mengingkari nikmat dan tidak mengakuinya termasuk bentuk kufur nikmat.

Maka adab-adab di atas hendaknya menghiasi perangai kita saat perjalanan bersama teman safar kita, siapa pun dia.

Loading

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *