MUKADIMAH
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهدهِ الله فلا مُضل له، ومن يُضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وسلم تسليماً.
أما بعد:
Ini adalah tulisan ringkas dan sederhana seputar manasik haji, serta hal-hal lain yang erat kaitannya dengan pelaksanaan ibadah haji, sejak keberangkatan dari tanah air hingga kepulangan kembali ke kampung halaman.
Tulisan ringkas ini kami susun khusus untuk calon jamaah haji tahun 1447 H atau 2026 yang tergabung dalam kelompok bimbingan ibadah haji dan umrah bersama travel Bina Umrah. Besar harapan kami, tulisan ini bermanfaat untuk seluruh jamaah dalam memahami dan melaksanakan manasik haji sebagaimana yang disyariatkan.
Tentu secara realitas, tulisan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan dan pasti didapati sejumlah kekurangan. Maka dari itu, kami sebagai penyusun sangat berharap adanya masukan dan saran positif serta membangun dari segenap pembaca.
Semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberikan keberkahan dan manfaat pada tulisan sederhana ini, serta menjadikan upaya ini sebagai amal shalih yang diterima di sisi-Nya.
Amin.. ya Mujibas Sailin..
GLOBAL MATERI
Tulisan ini akan kami bagi dalam beberapa bagian, yaitu:
- Beberapa Adab dan Hukum Terkait Safar
- Miqat dan Jenis Nusuk yang Akan Dilaksanakan
- Rukun-Rukun Haji
- Amalan-Amalan Wajib dalam Haji
- Amalan-Amalan Mustahab dalam Haji
- Ringkasan Amalan Haji dari Awal Hingga Selesai
- Perbuatan yang Dilarang Saat Ihram Haji
- Kesalahan-Kesalahan Saat Haji
- Tanya Jawab Haji.
Kami sengaja tidak menyertakan pembahasan khusus seputar umrah. Di samping untuk menyingkat tulisan sederhana ini, juga karena kami telah menyusun panduan seputar manasik umrah dalam sebuah buku kecil yang insyaallah akan dibagikan kepada calon jamaah.
Semoga tulisan yang kami sajikan ini benar-benar murni dalam rangka mengharapkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan tulisan sederhana ini pula, kami berharap bisa berbagi faedah dan sedikit ilmu kepada saudara-saudara kami calon jama’ah haji 1447 H.
Amin…, ya Sami’ad da’awat.
Bagian Pertama
BEBERAPA ADAB DAN HUKUM TERKAIT SAFAR
Wahai saudaraku seiman, penting kita ketahui bahwa sebuah perjalanan safar akan bernilai ibadah dan termasuk amal shalih apabila dilakukan dalam rangka menjalankan perintah Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Nilai ibadah itupun akan semakin tinggi apabila dalam praktik perjalanan safarnya dihiasi dengan sejumlah amal shalih dan penerapan adab-adab yang disyariatkan.
Berikut ini kami sebutkan hukum serta beberapa adab safar secara singkat dan sederhana:
1. Niat Yang Lurus
Hendaknya seorang musafir benar-benar meletakkan niat dan tujuan yang sebaik-baiknya dalam melakukan perjalanan safar, karena posisi niat sangat menentukan, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى …
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada (baik buruk) niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan (baik buruk niat) yang ia maukan itu …”
[Muttafaqun ‘Alaihi, dari riwayat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu]
Beliau juga bersabda dalam sebuah hadits Qudsi,
“Allah subhanahu wata’ala berkata,_
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ.
“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal lalu ia mempersekutukan dengan-Ku sesuatu selain-Ku dalam amal itu, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya.”
Kesimpulannya:
- Allah subhanahu wa ta’ala tidak menerima amal yang dicampuri syirik maupun riya’.
- Amal yang dilakukan bukan semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala akan ditolak.
- Ikhlas adalah syarat utama diterimanya amal ibadah.
Atas dasar itu, hendaknya dalam perjalanan safar kita ke Dua Tanah Suci ini benar-benar:
- ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala,
- dalam rangka menjalankan ibadah haji menunaikan panggilan Allah subhanahu wa ta’ala
- bukan karena niat dan tujuan selainnya, baik berupa keinginan dilihat, dipuji, dan dihargai oleh manusia, maupun niat-niat untuk meraih nilai-nilai duniawi.
![]()