Ulama Adalah Pewaris Para Nabi dan Kedudukannya di Tengah Umat

Bagikan :

Agama Islam yang telah lengkap dan sempurna ini senantiasa terjaga dan lestari hingga akhir zaman. Bahkan Allah Subhanahu Wata’ala langsung yang menjamin terjaganya dien ini, sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala tegaskan di dalam firman-Nya:

إنا نحن نزلنا الذكر و إنا له لحافظون

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”[Al Hijr: 9]

Ulama Adalah Pewaris Para Nabi

Agama yang telah lengkap dan sempurna ini diwarisi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam oleh para shahabatnya, kemudian murid-murid mereka, dan seterusnya di setiap masa diwarisi oleh para ‘ulama dari kalangan ahlul hadits Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah pewaris para Nabi, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam haditsnya:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَ لاَ دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ؛ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ‘ulama itu adalah pewaris para Nabi. Dan para Nabi itu tidaklah mewariskan dinar maupun dirham. Namun mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang bisa mendapat bagian dari ilmu, sungguh ia telah mendapat bagian yang sangat besar.”1

Kedudukan Ulama di Tengah Umat

Sebagai pewaris para Nabi, para ulama adalah orang-orang yang dipercaya untuk mengemban ilmu agama ini, menjaga, dan mendakwahkannya kepada umat. Mereka juga dipercaya untuk menjaga dan membentengi agama ini dari berbagai macam penyimpangan dan penyelewengan. Merekalah orang-orang adil dan terpercaya di tengah-tengah umat ini.

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِيْنَ وَ انْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنِ وَ تَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ

“Ilmu agama ini akan terus dibawa oleh orang-orang adil (terpercaya) dari tiap-tiap generasi, yang selalu berjuang membersihkan agama ini dari: (1) Tahriful Ghalin (pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang). (2) Intihalul Mubthilin (Kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama). (3) Ta’wilul Jahilin (Penta’wilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang yang jahil).”2

Maka di setiap masa dan waktu, Allah Subhanahu Wata’ala bangkitkan di tengah-tengah umat ini ‘ulama yang siap tampil membela dan membentengi agama ini dari musuh-musuhnya. Dengan keberadaan ‘ulama ini, terbongkarlah kedok dan borok para penyesat umat, sehingga tidak tersisa satu tempat persembunyian pun bagi mereka, melainkan telah diketahui dan telah diporak-porandakan.

Umat tidak lagi mudah ditipu oleh para penyesat tersebut. Dengan bimbingan para ‘ulama, umat dapat menangkap basah mereka, sehingga kemudian mereka bisa dilucuti dan dibuka berbagai kesalahan dan penyimpangannya. Akhirnya, dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala, umat ini akan selamat dari berbagai penyimpangan dan kesesatan, apabila mereka mau kembali kepada bimbingan para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah, karena bimbingan para ulama tersebut adalah bimbingan yang bersumber dari warisan yang mereka dapatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagian orang mengadu kepada ‘Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah tentang tersebarnya hadits-hadits palsu, maka beliau menjawab: “Para ahlul hadits yang akan menghadapinya.”3

Merekalah para ‘ulama ahlul hadits yang siap membela dan membentengi agama ini. Mereka adalah Ath Thaifah Al Manshurah yang selalu eksis, menang, dan jaya di atas musuh-musuhnya sampai akhir zaman nanti.

Sumber: MEREKA ADALAH TERORIS, karya Luqman bin Muhammad Ba’abduh, cet. ke-2, hal. 51-52, dengan beberapa perubahan dan penyesuaian.


1 Dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3641.

2 Dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Al Misykah.

3 Diriwayatkan oleh Al Khathib dalam Al Kifayah, 36-37.

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *