Kesempurnaan Islam dan Konsekuensinya

Bagikan :

Islam adalah agama yang sempurna. Syariat-syariat yang diatur di dalamnya, baik syariat terkait akidah, muamalah, ibadah, dan yang lainnya telah lengkap, tidak perlu ditambah-tambahi lagi.

Allah ‘Azza Wajalla berfirman di dalam kitab-Nya,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Kami sempurnakan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” [Al Ma-idah: 3]

Berkata Al Imam Malik rahimahullah ketika menjelaskan tentang ayat ini,

مَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلَيْسَ اليَوْمَ دِيْنٌ

“Suatu perkara yang bukan bagian daripada agama pada hari itu, maka pada hari ini pula bukan daripada agama.”

Sehingga dengan itu setiap perkara, baik dalam bentuk ibadah, akhlak, mu’amalah, ataupun aqidah yang tidak didapati pada hari itu –yaitu pada hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup bersama para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum menyampaikan dan mengajarkan serta menanamkan seluruh urusan agama sampai wafatnya beliau– maka ibadah, akhlak, mu’amalah, maupun aqidah tersebut bukan bagian daripada Islam.

Islam Yang Sempurna Ini Telah Diamalkan Oleh Para Shahabat, Sehingga Keislaman Mereka Menjadi Tolok Ukur Benar dan Tidaknya Keislaman Orang-Orang Setelahnya

Karena Islam adalah agama yang sempurna, maka Islam tidak perlu ditambah-tambah lagi, atau direvisi beberapa ketentuan-ketentuan dan syariat-syariatnya. Islam yang telah difahami, diyakini, dan diamalkan oleh para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai murid-murid langsung beliau adalah Islam yang telah sempurna. Ibadah mereka adalah ibadah yang sempurna, aqidah mereka adalah aqidah yang benar dan lurus, akhlak dan mu’amalah mereka adalah akhlak yang mu’amalah yang patut dicontoh oleh seluruh umat yang datang setelah mereka.

Bahkan Allah menjadikan kebenaran aqidah dan iman para shahabat tersebut, sebagai tolok ukur kebenaran aqidah dan iman orang-orang yang datang setelah mereka. Hal ini sebagaimana Allah pertegas di dalam firman-Nya

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul, setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain Sabilul Mu’minin, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang disukainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [An Nisa : 115]

Berkata Asy Syaikh Al Albani rahimahullah bahwa Sabilul Mu’minin dalam ayat tersebut adalah khusus jalannya para shahabat.

Makna ayat ini dipertegas oleh dua hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang salah satunya bersifat lebih khusus, dan yang kedua bersifat lebih umum. Kedua hadits tersebut adalah:

عَنْ أَبِيْ نَجِيْحٍ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَال : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ مَوْعِظَةً وَ جِلَتْ مِنْهَا القُلُوْبُ وَ ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ! كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأُوْصِنَا. قَال : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ، وَ السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ وَ إِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كٌُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ – وَفي رِوَايَة – وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ في النَّارِ

Dari Abi Najih Al ‘Irbadh bin Sariyah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan nasehat kepada kami dengan sebuah nasehat yang menggetarkan hati dan meneteskan air mata. Maka kami berkata :”Wahai Rasulullah, seolah-olah ini adalah nasehat orang yang akan berpisah. Maka berilah kami wasiat.”

Maka Rasulullah berkata : “Aku mewasiatkan kepada kalian dengan taqwa kepada Allah, dan selalu mendengar dan taat (kepada penguasa), walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari negeri Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup setelahku akan mendapati perselisihan yang sangat banyak. Maka wajib kepada kalian untuk berpegang dengan sunnah-ku dan sunnah para khulafa-ur Rasyidin yang telah mendapatkan petunjuk setelahku. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi-gigi geraham. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam masalah agama), karena sesungguhnya perkara yang baru itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat. [dalam riwayat lain] : dan setiap kesesatan itu di neraka.1

Dalam hadits pertama ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan sunnah beliau dan Al Khulafa-ur Rasyidun sebagai referensi utama bagi umat ini di saat mereka menghadapi perselisihan. Dan sekaligus beliau memperingatkan mereka dari perkara yang diada-adakan dan tidak dikenal di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hidup atau tidak dikenal oleh Al Khulafa-ur Rasyidun. Sehingga setiap ibadah, aqidah, ataupun manhaj yang tidak dikenal di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ataupun Al Khulafa-ur Rasyidun adalah ibadah, aqidah, dan manhaj yang bid’ah.

Kemudian dalam hadits yang kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kriteria tersebut dengan sifat yang lebih umum. Maksudnya adalah tidak hanya terbatas pada Al Khulafa-ur Rasyidun tetapi meliputi para shahabatnya yang lainnya. Hadits tersebut adalah:

وَ سَتَفْتَرِقُ هَذِهِ اْلأُمَّةُ عَلَى ثَلاَثٍ وَ سَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فيِ النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً؛ قَالُوْا مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : هُمْ مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَ أَصْحَابِيْ

“Dan umatku ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu. Para shahabat bertanya : Siapakah mereka wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab : Mereka adalah orang-orang yang kondisinya seperti kondisiku dan kondisi para shahabatku pada hari ini.”2

Dalam hadits tersebut dengan tegas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan beliau serta para shahabatnya sebagai tolok ukur kebenaran dan sekaligus tolok ukur Golongan yang Selamat (Al Firqatun Najiyah). Sehingga barangsiapa yang menginginkan keselamatan dari kesesatan di dunia dan berbagai macam bid’ah, baik bid’ah dalam perkara ‘ibadah, aqidah ataupun manhaj (metode berpikir), maka hendaknya dia beribadah, beraqidah serta bermanhaj dengan ibadah, aqidah, dan manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

Perlu diketahui bahwa barangsiapa yang enggan dan berpaling dari manhaj dan aqidah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya tersebut, maka dia tidak lagi tergolong sebagai Golongan yang Selamat, bahkan Allah ‘Azza Wajalla akan membiarkan dia terus hanyut dalam kesesatan dan kebid’ahan dan lemparkan dia ke dalam jurang neraka jahannam sebagaimana dalam ayat ke-115 surat An Nisa di atas, yaitu Allah ‘Azza Wajalla menyatakan:

نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang disukainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [An Nisa : 115]

Itulah dienul Islam yang telah lengkap dan sempurna. Semuanya telah jelas dan gamblang, tidak ada satupun yang tersamar atau tidak jelas. Tidaklah menyimpang darinya kecuali dia pasti binasa.

Sumber: MEREKA ADALAH TERORIS, karya Luqman bin Muhammad Ba’abduh, cet. ke-2, hal. 47-50, dengan beberapa perubahan dan penyesuaian.


1HR. Abu Dawud (4596, 4597), At Tirmidzi (2642) dan selainnya. Dishahikan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah no. 203, 204, 1492.

2HR. Abu Dawud (4597) dan selainnya. Dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah no. 203 & 204.

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *