Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
اَلرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِل
“Seseorang itu di atas agama orang yang dicintainya. Oleh karena itu hendaknya setiap orang dari kalian melihat siapa yang menjadi kekasihnya/teman dekatnya.” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud. Lihat Ash-Shahihah, no. 927)
Seorang yang kagum pada tokoh-tokoh takfiri akan terpengaruh dengan aqidah dan manhaj takfiri juga. Orang yang bergaul, kagum, cinta, dan cenderung dengan ahlul bid’ah, maka dia tergolong ahlul bid’ah tersebut.
Demikianlah mizan (tolok ukur) yang ditetapkan dan diwariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menilai dan menyikapi seseorang. Di atas manhaj inilah para imam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menilai dan menyikapi seseorang. Di antaranya ketika al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah datang ke kota Bashrah, beliau memperhatikan keadaan ar-Rabi’ bin Shubaih dan kedudukannya di tengah umat.
Kemudian beliau bertanya, “Apa madzhabnya?”
Mereka menjawab, “Madzhabnya tidak lain adalah as-Sunnah.”
Sufyan bertanya lagi, “Siapa kawan-kawan dekatnya?”
Mereka menjawab, “Ahlul Qadar (para pengingkar taqdir.”
Maka Sufyan berkata, “(Kalau begitu) dia adalah seorang Qadari (pengikut aliran sesat al-Qadariyyah).” (Al-Ibanah, 2/453)
Al-Imam al-Barbahari rahimahullah mengatakan bahwa al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata,
من أصغى بأذنه إلى صاحب بدعة خرج من عصمة الله ووكل إليها يعني إلى البدع
“Barangsiapa yang cenderung mendengar dengan telinganya kepada ahli bid’ah, berarti dia keluar dari jaminan perlindungan Allah. Dan Allah serahkan dia kepadanya (bid’ah).” (Syarhus Sunnah, 1/60)
![]()