Allah Menjaga Agama Ini Dengan Keberadaan Para Ulama (bagian 1)

Bagikan :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjamin bahwa para ‘ulama itu adalah orang-orang yang adil dan jujur di tengah-tengah umat ini. Beliau bersabda,

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِيْنَ وَ انْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنِ وَ تَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ

“Ilmu agama ini akan terus dibawa oleh orang-orang adil (terpercaya) dari tiap-tiap generasi, yang selalu berjuang membersihkan agama ini dari :

  1. Tahriful Ghalin (pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang).
  2. Intihalul Mubthilin (Kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama)
  3. Ta’wilul Jahilin (Penta’wilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang yang jahil) 1

Sehingga mereka adalah orang yang terpercaya dalam mengemban ilmu agama ini dan menyampaikannya kepada umat.

Para Ulama Sangat Selektif Dalam Mengambil dan Menerima Ilmu Agama

Para ‘ulama sangat selektif dalam mengambil dan menerima ilmu agama ini. Mereka hanya mau mengambil ilmu agama ini dari orang-orang yang ‘adil dan terpercaya, yakni para ‘ulama dari kalangan ahlus sunnah. Al Imam Ibnu Sirin rahimahullah berkata,

لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنْ الْإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتْ الْفِتْنَةُ قَالُوا سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

“Mereka (para ‘ulama) dulu tidak bertanya (ketika meriwayatkan hadits, pent) tentang isnad (jalur periwayatan hadits, pent). Namun tatkala terjadi fitnah (muncul berbagai macam kedustaan dan kebid’ahan dalam agama, pent), mereka (para ‘ulama) berkata (ketika menerima hadits, pent) : “Sebutkan rijal (perawi-perawi hadits)nya kepada kami.” Maka dilihat, jika Ahlus Sunnah diambil haditsnya. Jika Ahlul Bid’ah, tidak diambil (ditolak) haditsnya.” (Muqaddimah Shahih Muslim)

Kalau kita mau menengok kepada sejarah Islam, sejak terbitnya fajar Islam di zaman nubuwwah, akan nampak secara nyata bagi kita bahwasanya Allah Ta’ala senantiasa menjaga agama ini –-setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam — dengan para ‘ulama ahlul hadits Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Mereka (para ‘ulama tsb) telah melakukan rihlah (perjalanan jauh) dari satu negeri ke negeri lain hanya dalam rangka mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian mereka mengumpulkan hadits-hadits tersebut dalam karya-karya tulis mereka, yang mereka tulis dengan gaya penyusunan yang bermacam-macam, baik dalam bentuk musnad 2), kitab-kitab jami’ 3), mushannaf 4), sunan 5), muwaththo’ 6), serta kitab-kitab zawaid 7) dan mu’jam 7). Mereka juga senantiasa menjaga hadits-hadits Nabi dari pemalsuan, penyelewengan, dan pengkaburan.

Para Ulama Sangat Selektif Dalam Menentukan Derajat Hadits dan Perawinya

Mereka juga memisahkan dan menyeleksi antara yang shahih dan yang dha’if (lemah). Yang untuk itu mereka menyusun kaidah-kaidah haditsiyah (yang dikenal dengan ilmu musthalahul hadits¸ed), yang dengan ilmu tersebut bisa dibedakan antara hadits-hadits yang shahih dan yang tidak.

Mereka juga menyeleksi para rawi. Untuk itu mereka menyusun kitab yang dikumpulkan padanya para rawi yang tsiqah (yang terpercaya dan diterima riwayatnya), atau para rawi yang lemah, atau para pemalsu hadits. Mereka lengkapi kitab-kitab tersebut dengan menukilkan komentar-komentar ‘ulama yang mumpuni di bidang ini, yaitu ‘ulama yang membidangi ilmu al jarh wat ta’dil. Bahkan para ‘ulama tersebut juga mengklasifikasikan riwayat-riwayat yang dibawakan oleh seorang rawi : mana riwayat-riwayat yang dia dapatkan dari penduduk Syam, riwayat dari penduduk Iraq, riwayat dari penduduk Hijaz,… dst.

Bersambung insya Allah …

Sumber: Buku MEREKA ADALAH TERORIS, karya Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, cet, ke-1, hal. 104-107, dengan beberapa perubahan dan penyesuaian


1HR. Ibnu Ady dalam Al Kamil (1/145-148). Dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashabih.

2 Musnad adalah kitab hadits yang disusun berdasarkan pada nama-nama shahabat diurut secara alphabetis. Jadi metode penyusunan ini tidak memperhatikan tema hadits, namun penekanannya adalah koleksi riwayat hadits dari masing-masing shahabat Contoh : Musnad Asy Syafi’i, Musnad Ahmad, dll.

3 Jami’ : Kitab hadits yang disusun dengan mengumpulkan semua bab dalam cabang-cabang ilmu dien baik dalam bab aqidah, ibadah, mu’amalah, sirah, manaqib, raqaiq, fitan, dan berita-berita tentang Hari Kiamat. Contoh : Al Jami’ Ash Shahih, karya Al Imam Al Bukhari yang terkenal dengan nama Shahih Al Bukhari.

4 Mushannaf : Kitab hadits yang disusun menurut bab-bab fiqh dengan memuat hadits-hadits Nabi, ucapan-ucapan para shahabat, fatwa-fatwa tabi’in, bahkan terkadang fatwa-fatwa tabi’ut tabi’in.

5 Sunan : kitab hadits yang disusun menurut bab-bab fiqh dan hanya mencakup hadits-hadits yang sanadnya sampai kepada Nabi (hadits-hadits marfu’). Bedanya dengan kitab-kitab jami’, kandungan bab-bab di dalam kitab-kitab sunan tidak selengkap yang ada di kitab-kitab jami’. Misalnya di sunan tidak ada bab-bab tentang sirah, manaqib, dst. Namun hanya terbatas pada bab-bab fiqh saja. Contoh kitab sunan adalah : Sunan Abi Dawud, Sunan Ibni Majah, dll

6 Muwaththa’ : Kitab hadits yang disusun menurut bab-bab fiqh, –mirip dengan kitab sunan-– tapi tidak hanya memuat hadits-hadits marfu’ saja, namun juga memuat hadits-hadits mauquf (yang sanadnya hanya sampai kepada shahabat tidak sampai kepada Nabi), dan hadits maqthu’ (hadits yang sanadnya hanya sampai kepada tabi’in atau yang di bawahnya). Contoh Muwaththa’ Al Imam Malik

7Zawaid : kitab hadits yang disusun dengan cara mengumpulkan tambah-tambahan hadits yang terdapat pada kitab-kitab hadits tertentu.

8 Mu’jam : kitab hadits yang memuat hadits-hadits yang disusun menurut urutan shahabat, para syaikh, negeri-negeri atau yang lainnya. Mayoritas kitab jenis ini disusun secara alphabetis sesuai urutan huruf-huruf hijaiyyah. Contoh : Al Mu’jam Al Kabir, Al Mu’jam Al Wasith, dan Al Mu’jam As Shaghir oleh Ath Thabrani.

Loading

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *