Dakwah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Dari Pemandangan Alam Semesta Ini Menunjukkan Bahwa Allah Subhanahu Wata’ala Saja yang Berhak Diibadahi

Bagikan :

Kedua: Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

Beliau adalah bapak para nabi, imam dan pemuka orang-orang yang bertauhid dan orang-orang yang hanif (istiqamah dan lurus akidahnya). Beliau adalah Khalilullah (sang kekasih Allah). Allah perintahkan Sayyidul Mursalin, penutup para nabi (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) dan umat beliau untuk mengikuti dan meneladani dakwah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam serta mengambil bimbingan dari petunjuk dan manhaj beliau.[1]


Baca juga: Manhaj Para Nabi dalam Berdakwah di Jalan Allah


Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آَزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آَلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (74) وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ (75) فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآَفِلِينَ (76) فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77) فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (78) إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.“ (QS. al-An’am: 74-79)

Demikianlah dakwah Nabi Ibrahim, dakwah dengan semangat kuat yang dicurahkan untuk menyerukan tauhidullah, mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya, serta mencampakkan kesyirikan dan menjauh darinya. Dakwah beliau dimulai dari keluarganya, dan kemudian tersebar di tengah-tengah umat, memerangi kesyirikan dan berhala-berhala, serta menggoncangkan kesyirikan dalam bentuk peribadatan kepada bintang-bintang.

Sang kekasih Allah ini menempuh jalan dan metode yang paling lurus dalam berdiskusi dan berargumen, dalam rangka menegakkan hujjah dan dalil dari Allah serta membantah kesyirikan, kebatilannya, dan segala kerancuannya.

Mengambil pelajaran dari berhala-berhala (yang disembah oleh kaum Nabi Ibrahim) merupakan upaya untuk merendahkan dan menghina sesembahan-sesembahan yang mereka buat-buat sendiri dan sekaligus untuk memperbodoh akal-akal mereka.


Baca juga: Pemuliaan Manusia dengan Dikaruniakannya Akal dan Fitrah untuk Mereka


Perhatian dan penglihatan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang tertuju pada benda-benda langit yang disebutkan satu persatu (bintang, bulan, dan matahari), hilang dan terbenam silih berganti, ini semua untuk diambil pelajaran berupa bukti nyata tentang kebatilan sesembahan-sesembahan yang mereka yakini.

Barangsiapa yang mengamati, memperhatikan, serta mencermati keadaan mereka dan keadaan alam semesta ini, ketika hilang dan terbenam, maka wajib atas mereka untuk meninggalkan, mengingkari, dan berpaling dari sesembahan-sesembahan batil yang mereka yakini itu.

Mereka wajib mempersembahkan ibadah hanya kepada sesembahan mereka yang benar (Allah Subhanahu Wata’ala), Dzat yang menciptakan langit dan bumi, Dzat yang tidak akan hilang dan berubah. Dzat yang maha mengetahui seluruh keadaan mereka, mengawasi gerak-gerik mereka, menjaga, memperhatikan, dan mencermati segala keadaan mereka.

Ini semua merupakan hujjah-hujjah yang kokoh bagi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang bersumber dari realita yang bisa dirasakan oleh indera dan dari alam semesta yang bisa dilihat oleh penglihatan ini.

Diterjemahkan dari: Manhajul Anbiya’ fi ad-Da’wah ilallah fihi al-Hikmah wal ‘Aql, hal. 50-51

[1] Hal ini telah diisyaratkan dalam Firman Allah Ta’ala,

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (123)

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. an-Nahl: 123)

Dan Firman Allah Ta’ala,

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (95)

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah.” Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Ali Imran: 95)

 

Loading

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *