Kriteria Ulama Yang Menjadi Sandaran dalam Agama dan Fatwa

Bagikan :

Al-Imam Abul Qasim Al-Ashbahani menyatakan bahwa para ‘ulama salaf menegaskan, “Seseorang tidak dinyatakan sebagai imam dalam agama Islam sampai dia memiliki kriteria dan beberapa hal sebagai berikut:

  • Hafal berbagai bidang ilmu bahasa arab dengan berbagai macam jenisnya dan ma’na sya’irnya.
  • Hafal beraneka pendapat para fuqaha’ dan para ‘ulama.
  • Berilmu, paham dan hafal tentang hukum-hukum i’rab (harakat akhir kata untuk menentukan kedudukan kata tersebut pada kalimat bahasa arab, pent) dan perbedaan pendapat padanya.
  • Berilmu tentang kitabullah (Al Qur’an) yang mencakup variasi qira’ah berserta perselisihan para ‘ulama tentangnya, mengetahui tentang tafsir ayat-ayat muhkam dan mutasyabih, nasikh wa mansukh dan kisah-kisah yang terdapat di dalamnya.
  • Berilmu tentang hadits-hadits Rasulullah dan berkemampuan untuk membedakan antara shahih dan dha’if, bersambung atau terputus sanadnya, mursal dan musnadnya, masyhur dan gharibnya.
  • Berilmu tentang atsar-atsar shahabat (mauquf).
  • Wara’
  • Memelihara muru’ah (kehormatan diri)
  • Jujur
  • Terpercaya
  • Melandasi pemahaman agamanya di atas Al Qur’an dan As Sunnah.

Apabila seseorang telah berhasil mengaplikasikan point-point di atas pada dirinya, maka dia boleh menjadi imam dalam madzhab serta berijtihad bahkan menjadi sandaran dalam agama dan fatwa. Namun apabila dia belum mampu, tidak boleh baginya menjadi imam dalam madzhab dan panutan dalam berfatwa …” 1)

Sumber: Buku MEREKA ADALAH TERORIS, karya Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, cet, ke-1, hal. 141, dengan beberapa perubahan dan penyesuaian


1 Al Hujjah fie Bayanil Mahajjah 306-307; lihat Sallus Suyuf.

 332 kali dibaca,  1 kali dibaca hari ini

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *