Jangan Mengambil Ilmu dan Fatwa dari Al-Ashaghir. Siapakah Mereka?

Bagikan :

Al Imam Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Umayyah Al Jumahi radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ اْلعِلْمُ عِنْدَ اْلأَصَاغِرِ

Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya Hari Kiamat itu dicarinya/dituntutnya ilmu dari ‘Al Ashaghir’ (orang-orang kecil, yaitu yang tidak berilmu, pent). 1)

Siapakah Al-Ashaghir?

Al Imam Abdullah Ibnul Mubarak ditanya tentang Al Ashaghir (orang-orang kecil itu), beliau menjawab : “Yaitu orang-orang yang berkata menurut pendapatnya sendiri saja (tanpa mengacu pada Kitabullah dan Sunnah Rasul, pent). Adapun anak-anak muda (yang sudah mencapai tingkat kematangan dalam ilmu) yang hingga para orang tua sekalipun meriwayatkan darinya 2) bukanlah yang dimaksud dengan shaghir di sini.”

Dan beliau juga berkata : “Ilmu datang kepada mereka dari Al Ashaghir (orang-orang kecil/rendahan) dari kalangan mereka, yakni Ahlul Bid’ah.” 3)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata,

“Muslimin senantiasa berada dalam kebaikan selama ilmu (agama) yang datang kepada mereka itu datang dari shahabat-shahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan dari senior-senior mereka. Apabila ilmu (tentang Ad Dien) itu datang kepada mereka dari ashaghir (orang-orang rendahan) dari kalangan mereka dalam keadaan hawa nafsu mereka bersilang sengketa, maka rusaklah mereka.” 4)


Baca Juga: Allah Menjaga Agama Ini Dengan Keberadaan Para Ulama (bagian 3)


Berita Kemunculan Para Penyeru Kesesatan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau berkata,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَ يُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَ يُؤْتَمَنُ فِيْهَا الخَائِنُ وَ يُخَوَّنُ فِيْهَا اْلأَمِيْنُ وَ يَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيْلَ وَ مَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ : اَلرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Akan tiba nanti kepada umat manusia masa-masa yang penuh tipu daya. Para pendusta dianggap orang jujur sebaliknya orang jujur dicap pendusta. Orang yang khianat dianggap amanah dan orang yang amanah dicap pengkhianat. Dan para Ruwaibidhah mulai angkat bicara!

Ada yang bertanya : “Siapa itu Ruwaibidhah?”

beliau menjawab : “Orang dungu sok berbicara tentang urusan orang banyak (umat).5)

Abu Syamah rahimahullah berkata, “Praktek bid’ah yang banyak dilakukan manusia sebabnya adalah ini! Seseorang dianggap ahli ‘ilmu dan orang bertakwa padahal sebenarnya tidak demikian. Merekapun mendengarkan ucapannya dan meniru perbuatannya. Akibatnya kacaulah urusan mereka.”

Dalam hadits Tsauban radhiyallahu anhu dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِيْ الأَئِمَّةَ المُضِلِّينَ

Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan. 6)

Di dalam kitab Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda,

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَ لَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتىَّ إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهًّالاً، فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَ أَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta dicabut dari qalbu-qalbu manusia. Akan tetapi Allah mencabutnya dengan mewafatkan para ‘ulama. Sehingga kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh, sehingga para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya sehingga mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [Muttafaqun ‘alahi]

Al Imam At Thurthusi rahimahullah berkata, “Renungkan hadits ini baik-baik. Sesungguhnya musibah menimpa umat ini bukan karena ulama, (namun musibah akan datang) bila para ulama telah wafat. Maka berfatwalah orang-orang jahil atas dasar kejahilannya, saat itulah musibah menimpa manusia.”

Beliau kemudian berkata : “Tidak ada seorang ‘alim pun yang berbuat bid’ah. Tetapi yang terjadi adalah ketika seseorang yang bukan ‘alim (jahil) dimintai fatwa, sehingga dia sesat dan menyesatkan (orang lain).”

Itulah yang terjadi pada Rabi’ah Ar Ray (guru Al Imam Malik). Al Imam Malik menuturkan, Suatu hari Rabi’ah menangis tersedu-sedu. Kemudian beliau ditanya, Apakah ada musibah yang menimpamu? Beliau menjawab : “Tidak ada, tetapi orang-orang yang tidak berilmu (jahil) telah dimintai fatwa sehingga muncullah perkara (musibah) besar dalam Islam ini.7)

Sumber: Buku MEREKA ADALAH TERORIS, karya Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, cet, ke-1, hal. 159-162, dengan beberapa perubahan dan penyesuaian


1 Kitab Az Zuhd karya Ibnul Mubarak, hal 20-21, hadits no. 61, tahqiq Habibur Rahman Al A’zhami, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah. Asy Syaikh Al Albani berkata : “Shahih”, lihat Al Jami’ush Shaghir, hadits no. 2203. Lihat Asyratus Sa’ah tanda no. 35. Hadits ini dishahihkan juga oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 695.

2 Inilah yang dikenal dalam ilmu mushthalahul hadits dengan Riwayatu Al Akabir ‘anil Ashaghir. Contohnya Shalih bin Kaisan meriwayatkan dari Az Zuhri. Shalih lebih tua umurnya dibanding Az Zuhri.

3 Hasyiyah Kitab Az Zuhd, hal 31. Lihat Asyratus Sa’ah.

4 Kitab Az Zuhd Ibnul Mubarak. Al Imam At Tuwaijiri berkata : “Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Al Kabir dan Al Ausath, dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannaf nya, dan isnadnya shahih menurut syarat Muslim. Lihat Asyratus Sa’ah. Atsar ini juga dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah di bawah hadits no. 695. (II/310)

5 HR. Ibnu Majah 4042; Al Hakim IV/465, 512; Ahmad II/291, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 4108. dan Ash Shahihah no. 1887.

6 HR. Ahmad V/278, 284; Abu Dawud 4252; At Tirmidzi 2229; Ibnu Majah 3952. At Tirmidzi berkata : “Hadits ini hasan shahih Hadits ini juga datang dari jalur ‘Umar bin Al Khaththab, Abud Darda’, Abu Dzarr, Tsauban Maula Rasulullah, Syaddad bin Aus, dan ‘Ali bin Abi Thalib.” Dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1582.

7 Lihat Madarikun Nazhar fi As Siyasah hal 204-205, oleh Asy Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi; beliau menuturkan : “Saya pernah berkata kepada wakil Ali Bin Haj, Al Hasyimi Sahnuni, di Masjid Shalahuddin di daerah Balkur Kota Aljazair (ketika itu ia bersiap-siap menggelar demonstrasi perdana partai FIS) : “Kami telah bertanya kepada Asy Syaikh Al Albani dan Asy Syaikh Bin Baz tentang hukum demonstrasi, beliau berdua sepakat melarangnya! Lantas siapakah ‘ulama panutan kalian dalam masalah ini?” Ia menjawab : “Kami juga punya ‘ulama sebagaimana kalian juga punya ‘ulama!”

Siapakah ‘ulama kalian?” tanyaku.

Ia menjawab : “Abdurrahman Abdul Khaliq dan Muhammad Qutb!”

Lihatlah, wahai saudarku para pembaca yang budiman, orang seperti inilah yang tidak bisa membedakan antara ‘ulama dengan pengkhayal, antara faqih dengan pemikir linglung!! Wajar jika Rabi’ah(g)menangis!

Hasil tindakan nekat mereka itu telah sama-sama kita ketahui, yaitu : dalam demonstrasi tersebut ratusan orang tewas!!

 494 kali dibaca,  1 kali dibaca hari ini

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *