Mengapa Jihad Melawan Munafiqin Lebih Utama Daripada Melawan Musyrikin?

Bagikan :

Mungkin ada yang tidak paham, atau bahkan bingung, kenapa jihad dengan lisan dan hujjah –-dalam bentuk menuntut ilmu dan mempelajarinya, serta membela agama ini dari rongrongan munafiqin dan tokoh-tokoh kebatilan— merupakan jihad yang terbesar, bahkan lebih besar dan lebih utama daripada jihad melawan musuh di medan tempur?

Jawabannya adalah: karena kaum munafiqin ini –-dan ahlul batil dari kalangan ahlul bid’ah– tersembunyi di tengah-tengah barisan kaum muslimin, maka banyak orang yang tidak mampu memantau gerak-gerik mereka. Oleh karena itu menjelaskan hakekat kebusukan mereka kepada kaum muslimin (yang mana kita wajib memberikan wala’ –-loyalitas– kita kepada kaum muslimin) sangatlah ditekankan.

Pengkhianatan Syi’ah Rafidhah Terhadap Umat Islam

Tentunya kita tidak lupa sejarah, bagaimana tentara kafir Tartar berhasil masuk ke Baghdad dan memporak-porandakan umat Islam. Hal itu terjadi akibat PENGKHIANATAN yang dilakukan oleh Syi’ah Rafidhah terhadap umat Islam! Mereka adalah penolong setia lahir batin dalam membantu Gulagu Khan, cucu Jenghis Khan, ketika menyerang Khurasan, Iraq, dan Syam.

Seorang wazir Khalifah Al Mu’tashim di Baghdad yang bernama Ibnu Al Qami termasuk salah seorang pentolan Syi’ah Rafidhah. Ia terus merancang makar untuk mencelakakan Khalifah dan kaum muslimin. Ia mengeluarkan undang-undang pemotongan gaji tentara Islam dan berusaha melemahkan kekuatan mereka. Ia juga melarang kaum muslimin menyerang Tartar. Berbagai bentuk makar dirancangnya.


Baca Juga: Abdurrahman Abdul Khaliq Hizbiyah dan Kesesatan yang Diwariskannya (Bagian Kedua)


Hingga pada klimaksnya tentara kafir Tartar dengan leluasa menyerbu kota Baghdad dan membantai Umat Islam. Disebutkan, bahwa kaum muslimin yang terbunuh dalam tragedi memilukan tersebut mencapai belasan juta jiwa!

Demikian juga ketika pasukan kaum muslimin terpukul mundur pada tahun Ghazan (599 H), Syi’ah Rafidhah justru merampasi kuda, senjata dan para tawanan dan menjual mereka sebagai budak kepada kaum Nasrani di Qabristan. Mereka juga merampasi setiap tentara yang melintasi wilayah mereka. Mereka ini lebih berbahaya daripada orang-orang kafir itu sendiri!

Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Tentang Bahaya Ahlul Bid’ah Terhadap Umat Islam

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,

ومثل أئمة البدع من أهل المقالات المخالفة للكتاب والسنة أو العبادات المخالفة للكتاب والسنة ؛ فإن بيان حالهم وتحذير الأمة منهم واجب باتفاق المسلمين حتى قيل لأحمد بن حنبل : الرجل يصوم ويصلي ويعتكف أحب إليك أو يتكلم في أهل البدع ؟ فقال : إذا قام وصلى واعتكف فإنما هو لنفسه وإذا تكلم في أهل البدع فإنما هو للمسلمين هذا أفضل . فبين أن نفع هذا عام للمسلمين في دينهم من جنس الجهاد في سبيل الله ؛ إذ تطهير سبيل الله ودينه ومنهاجه وشرعته ودفع بغي هؤلاء وعدوانهم على ذلك واجب على الكفاية باتفاق المسلمين ولولا من يقيمه الله لدفع ضرر هؤلاء لفسد الدين وكان فساده أعظم من فساد استيلاء العدو من أهل الحرب ؛ فإن هؤلاء إذا استولوا لم يفسدوا القلوب وما فيها من الدين إلا تبعا وأما أولئك فهم يفسدون القلوب ابتداء.

(Adapun) ahlul bid’ah –yang aqidah dan ibadahnya menyimpang dari Al Qur’an dan As Sunnah— maka sesungguhnya menerangkan kondisi (kesesatan) mereka dan memperingatkan umat agar berhati-hati darinya wajib dengan kesepakatan (ijma’) kaum muslimin. Sampai dikatakan kepada Al Imam Ahmad bin Hanbal : Mana yang lebih kau sukai : seseorang yang berpuasa, shalat, dan beri’tikaf ataukah orang yang berbicara menerangkan tentang ahlul bid’ah?

Al Imam Ahmad menjawab, “Jika seseorang menegakkan shalat dan beri’tikaf maka manfaatnya hanya untuk dirinya saja. Namun jika dia tampil menerangkan tentang penyimpangan ahlul bid’ah maka manfaatnya dirasakan oleh seluruh kaum muslimin. Maka ini yang lebih afdhal!”

Maka jelaslah bahwa membantah ahlul bid’ah manfaatnya lebih umum untuk kaum muslimin, dan ini lebih utama daripada jihad (perang) fi sabilillah. Karena membersihkan agama dan syari’at Allah serta membelanya dari penyimpangan musuh-musuhnya merupakan fardhu kifayah dengan kesepakatan kaum muslimin. Kalaulah tidak Allah munculkan para ‘ulama yang tampil untuk membela agama ini dari kerusakan ahlul bid’ah niscaya akan rusaklah agama ini. Dan kerusakan agama lebih parah daripada kerusakan yang diakibatkan penjajahan musuh atas umat Islam, karena musuh jika menjajah tidak akan merusak hati dan agama umat Islam kecuali berupa efek samping. Adapun mereka –ahlul bid’ah– yang pertama kali mereka rusak adalah hati dan agama umat Islam.” (Majmu’ Al-Fatawa, [28/231-232])

Sumber: Buku MEREKA ADALAH TERORIS, karya Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, cet, ke-1, hal. 116-117, dengan beberapa perubahan dan penyesuaian

 333 kali dibaca,  2 kali dibaca hari ini

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *