Nasehat untuk Para Da’i: Jangan Meninggalkan Manhaj Dakwah Ini!

Bagikan :

Karena beratnya cobaan dan gangguan itulah, anda dapat menyaksikan para da’i lari meninggalkan manhaj dan jalan dakwah yang sulit ini. Karena seorang da’i yang menempuh manhaj ini, ia akan berhadapan dengan ibunya, ayahnya, saudaranya, orang-orang yang dicintainya, dan teman-teman dekatnya. Bahkan ia juga akan berhadapan dengan masyarakatnya sekaligus permusuhan, ejekan, dan gangguan mereka.

Mereka (para da’i) tersebut meninggalkan manhaj dakwah ini dan kemudian menempuh sisi lain dari ajaran Islam. Memang sisi yang ditempuh tersebut -tidak asing lagi bagi orang yang beriman kepada Allah- memiliki kedudukan serta nilai penting dalam Islam. Namun, sisi-sisi yang ditempuh tersebut tidak terdapat kesulitan, beban berat, cemoohan, dan gangguan (sebagaimana yang dialami oleh para da’i yang menempuh jalan para nabi dalam berdakwah, pent), terkhusus di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin. Mayoritas umat Islam akan berkumpul mengelilingi para da’i dengan warna dan karakter seperti ini. Mereka kelilingi dengan penuh penghormatan dan pemuliaan, tidak ada cemoohan maupun gangguan.


Baca juga: Dakwah Nabi dan Gangguan yang Pasti Dialami


Kecuali apabila para da’i melakukan penentangan terhadap pemerintah dan menggoyang kursi mereka, maka di saat itulah pemerintah pasti akan berupaya menumpasnya dengan sekuat tenaga, seperti partai-partai politik yang menentang pemerintah dan mengancam kedudukan mereka. Pemerintah dalam hal ini tidak akan senang (dengan pihak-pihak yang melakukan tindakan seperti itu), walaupun terhadap kerabat sendiri, teman dekat, baik dia muslim maupun kafir.


Baca juga: Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam Masalah Takfir


Bagaimanapun juga, kami katakan kepada para da’i, walaupun mereka menyuarakan dengan lantang dan meninggikan suara dengan mengatasnamakan Islam:

“Sayangilah diri-diri kalian, sungguh kalian telah keluar dari manhaj Allah Subhanahu Wata’ala dan jalan-Nya yang lurus nan terang. Jalan itulah yang telah dilalui oleh deretan para Nabi ‘alaihimussalam dan pengikut mereka dalam berdakwah kepada Tauhidullah serta memurnikan peribadatan hanya untuk-Nya semata.

Apabila kalian tetap mengedepankan logika dan bersikeras mengangkat suara atas nama Islam, maka sungguh kalian telah meninggalkan dan mencampakkan manhaj para Nabi ‘alaihimussalam yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Bagaimanapun kalian mencurahkan tenaga serta berjuang membesarkan dakwah dan manhaj kalian, namun pada hakikatnya kalian hanya tersibukkan dengan melakukan wasilah-wasilah (sebab dan perantara) saja sebelum meraih tujuan utama. Betapa sedikitnya manfaat dari wasilah tersebut, apabila justru membahayakan tujuan utamanya dan melebihi kadarnya.

Sungguh celaka para da’i jika mereka masih terus seperti dulu, mengada-adakan manhaj-manhaj baru buatan mereka, lalu memerangi manhaj para Nabi ‘alaihimussalam dalam berdakwah menyeru kepada Tauhidullah, mereka lakukan ini semua di bawah propaganda yang menyilaukan dan menarik hati orang-orang yang lemah akalnya dan bodoh terhadap manhaj para nabi ‘alaihimussalam.”

Diterjemahkan dari: Manhajul Anbiya’ fi ad-Da’wah ilallah fihi al-Hikmah wal ‘Aql, hal. 45-47

 

Loading

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *