Sejarah Munculnya Pemikiran Takfir

Bagikan :

Pemikiran takfir (mengkafirkan sesama muslim) telah lama ada, pertama kali dicetuskan oleh khawarij. Korban pertama orang yang mereka kafirkan adalah Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu dan orang-orang yang bersama beliau. Kemudian korban kedua adalah Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Mereka berkata: “Demi Allah, wahai ‘Ali, jika engkau masih mengangkat penengah untuk menjalankan hukum Allah (Al Qur’an) maka kami akan memerangi kalian demi mengharap wajah Allah dan keridhaan-Nya!”

Pernyataan ini muncul akibat mereka salah dalam memahami ayat:

و من لم يحكم بما أنزل الله فأولــــئك هم الكافرون

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itu kafir.” [Al Maidah: 44]

Mereka menafsirkan ayat ini bahwa orang yang berhukum dengan selain hukum Allah maka pelakunya adalah kafir kufur akbar, yakni keluar dari Islam. Ketika terjadi perang Shiffin, ‘Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma telah mengangkat penengah dari masing-masing pihak, demi menghentikan peperangan dan memadamkan api fitnah di tengah-tengah kaum muslimin. Tindakan dua sahabat yang mulia ini dinilai sebagai kaum khawarij sebagai tindakan berhukum dengan selain hukum Allah. Maka dari itu mereka memvonis kedua belah pihak telah kafir, karena telah berhukum dengan selain hukum Allah.


Baca Juga: Aksi Terorisme Dewasa Ini dan Latar Belakangnya


Kaum Khawarij Keluar dari Barisan Para Sahabat dan Melakukan Tindakan Teror Terhadap Kaum Muslimin

Kaum khawarij pun menyatakan keluar dari barisan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib sebagai waliyul amr ketika itu. Mereka memisahkan diri dari barisan para shahabat Rasulullah radhiyallahu ‘anhum, karena mereka nilai para shahabat telah kafir. Akibat selanjutnya adalah mereka melakukan teror terhadap kaum muslimin (yang telah mereka nyatakan sebagai kafir tersebut). Salah satu korbanya adalah ‘Abdullah bin Khabbab radhiyallahu ‘anhu, salah seorang gubernur dalam pemerintahan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Tatkala ia melewati wilayah khawarij, maka dia dibantai oleh khawarij. Kemudian istrinya yang sedang hamil, diseret dan dibelah perutnya untuk dikeluarkan bayi yang ada di dalam rahimnya. Subhanallah…. Kejam dan keji sekali perbuatan mereka.

Sampai pada puncaknya mereka membunuh ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ini juga yang menjadi sifat dasar mereka, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

يَقْتُلُوْنَ أَهْلَ الإِسْلاَمَ وَ يَدَعُوْنَ أَهْلَ الأَوْثَانِ

“Mereka (kaum khawarij) membunuh Ahlul Islam dan membiarkan (tidak membunuh) Ahlul Autsan (orang-orang musyrik).” [HR. Al Bukhari 3344; Muslim 1064; Abu Dawud 4764]


Baca Juga: Mengapa Teroris Tidak Pernah Habis?


Terorisme dan Pemberontakan Bersumber dari Pemikiran Takfir

Demikianlah pemikiran takfir yang berujung pada aksi tindakan teror dan pemberontakan terhadap pemerintah muslimin yang sah. Segala tindakan-tindakan teror dan kekerasan berupa penculikan, pembunuhan, pengeboman, pemberontakan, dll, baik yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok yang bermotif agama –-sebagaimana yang kini juga sedang marak— kebanyakan disebabkan oleh pemikiran takfir ini. Hal ini sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَ فَارَقَ الجَمَاعَةَ، فَمَاتَ، مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً. وَ مَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُوْ إِلىَ عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ، فَقِتْلَةٌُ جَاهِلِيَّةٌ. وَ مَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِيْ، يَضْرِبُ بَرَّهَا وَ فَاجِرَهَا وَ لاَ يَتَحاَشَ مِنْ مُؤْمِنِهَا وَ لاَ يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ، فَلَيْسَ مِنِّي وَ لَسْتُ مِنْهُ

“Siapa saja yang memberontak dan menyelisihi jama’ah (penguasa) lalu meninggal maka ia meninggal seperti meninggalnya orang jahiliyyah. Siapa saja yang berperang di bawah bendera fanatisme, marah, menyeru, dan menolong semata-mata karena fanatisme golongan lalu meninggal maka ia meninggal seperti meninggalnya orang jahiliyyah. Siapa saja yang memerangi umatku, memukul orang-orang yang baik maupun orang-orang yang jahat tanpa memandang apakah ia mukmin ataukah kafir dan tidak memenuhi janji untuk pihak yang harus ditunaikan janji itu untuknya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya.” [HR. Muslim 1848]

Sumber: Buku MEREKA ADALAH TERORIS, karya Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, cet, ke-1, hal. 492-494, dengan beberapa perubahan dan penyesuaian

 947 kali dibaca,  1 kali dibaca hari ini

Bagikan :

One thought on “Sejarah Munculnya Pemikiran Takfir”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *