Dari sini kita bertanya, mengapa nabi yang agung ini terus melanjutkan dakwahnya dalam waktu yang sangat lama dan terus gigih mencurahkan segenap usaha, tak ada kata mundur dan bosan, dalam mendakwahkan prinsip dasar tauhid ini?!!
Mengapa pula Allah memuji dan menyanjungnya dengan sanjungan yang harum semerbak dan mengabadikan kisah beliau (di dalam al-Qur’an), serta Allah jadikan beliau termasuk jajaran para rasul Ulul ‘Azmi?
Baca juga: Manhaj Dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam dan Kesabaran Beliau dalam Menghadapi Kaumnya
Apakah dakwah tauhid ini memang pantas dan berhak untuk mendapatkan perhatian serta pemuliaan?
Apakah manhaj dan jalan dakwah yang ditempuh oleh nabi nan mulia ini bertentangan dengan logika, hikmah, dan akal sehat? Ataukah justru manhaj dakwah beliau ini merupakan dakwah penuh hikmah yang sesungguhnya, dan merupakan konsekuensi dari logika yang sehat dan akal yang kuat serta memiliki perhatian yang lebih?
Mengapa Allah Subhanahu Wata’ala melegitimasi beliau untuk menempuh manhaj dakwah ini dalam kurun waktu yang sangat lama, 950 tahun, mengokohkannya, dan mengabadikan nama dan kisah beliau (di dalam al-Qur’an)? Dan bahkan Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan rasul teragung dan manusia paling berakal (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) untuk menjadikan Nabi Nuh sebagai teladan dalam dakwah dan kesabaran?
Jawaban yang adil serta yang tegak di atas akal dan hikmah dari pertanyaan-pertanyaan di atas, dan jawaban yang dibangun berdasarkan pengetahuan tentang tingginya kedudukan nubuwwah dan kepercayaan besar terhadapnya, dan juga jawaban yang dibangun di atas pengagungan yang sebenarnya terhadap nubuwwah tersebut adalah bahwasanya dakwah tauhid serta upaya memberantas kesyirikan dan membersihkan bumi Allah darinya merupakan dakwah yang memang pantas untuk mendapatkan perhatian dan pemuliaan yang besar. Dakwah inilah dakwah yang benar-benar penuh hikmah dan sesuai dengan fitrah dan akal.
Wajib bagi setiap da’i di jalan Allah untuk memahami manhaj ini, memahami dakwah agung tuntunan ilahi ini, dan memahami tujuan besar dari dakwah ini. Sehingga hendaknya mereka mengerahkan segala kesungguhan dan kemampuan untuk merealisasikan dakwah ini dan menebarkan tauhid di seluruh penjuru bumi Allah.
Hendaknya mereka (para da’i) juga saling membantu, bahu-membahu, bersatu, dan saling membenarkan sebagiannya terhadap sebagian yang lain, sebagaimana dahulu para rasul penyeru tauhid juga demikian. Rasul yang datang lebih dahulu memberikan kabar gembira (kepada umatnya) akan datangnya rasul yang akan datang setelahnya. Demikian pula rasul yang datang setelahnya, mereka membenarkan risalah rasul sebelumnya, menguatkan dakwahnya, dan juga berjalan di medan dakwahnya.
Baca juga: Nasehat untuk Para Da’i: Jangan Meninggalkan Manhaj Dakwah Ini!
Kita wajib meyakini bahwa apabila di sana terdapat manhaj yang lebih utama dan lebih tepat daripada manhaj dakwah para nabi ini, niscaya Allah akan memilih dan mendahulukan manhaj tersebut untuk para rasul-Nya.
Maka apakah pantas bagi seorang mukmin untuk membenci manhaj dakwah ini dan lebih memilih manhaj yang lain? Apakah pantas bersikap angkuh terhadap manhaj Rabbani dan para da’inya ini?!!!
Diterjemahkan dari: Manhajul Anbiya’ fi ad-Da’wah ilallah fihi al-Hikmah wal ‘Aql, hal. 48-49
![]()